Rabu, 09 September 2015

My Note: Sahabat-sahabat Terbaik



Sahabat-Sahabat Terbaik
Oleh: Nirwana Fitria



 
SAHABAT?
 
Apakah yang terbersit dalam benakmu mendengar kata itu? Pasti setiap orang punya gambarannya sendiri tentang sahabat. Di jaman yang serba canggih seperti sekarang ini, mungkin ada sebagian orang yang akan berpendapat bahwa sahabat baik itu tidak ada, sahabat itu dimana-mana sama saja, teman dan sahabat apa bedanya? Dan masih banyak lagi pendapat-pendapat lain.

Awalnya saya memang sempat berpendapat demikian. Saya sempat berasumsi bahwa semua teman atau sahabat atau apalah namanya itu sama saja. Tapi semua dugaan atau asumsi saya ternyata salah. Setelah saya merasakan kerinduan saat jauh dari mereka, saat teringat kenangan-kenangan saat masa sekolah bersama mereka. Masa sekolah yang kami lalui dengan saling menyemangati dalam hal pelajaran. Dalam hal prestasi di sekolah. Kenangan tentang bagaimana kami berjuang belajar, mengerjakan tugas, menghadapi masalah-masalah seputar remaja. Di saat remaja-remaja seumuran kami sibuk memamerkan pacar masing-masing. Kami hanya cukup menyimpan perasaan kekaguman kami. Hanya bisa saling curhat tentang orang yang kami sukai masing-masing. Bagi kami status berpacaran pada saat itu sangat berbeda dengan teman-teman yang lain. Kami lebih senang belajar, saling menegur jika salah satu di antara kami ada yang salah. Saling menasehati karena ingin semuanya di jalan yang benar. Layaknya manusia biasa, kami tidaklah luput dari kekurangan. Dan memang karena tidak ada manusia yang sempurna. Disitulah kami belajar untuk saling mengisi dan melengkapi kekurangan masing-masing. 

1 hal yang sulit saya lupakan dari kenangan bersama sahabat-sahabat saya adalah ketika pembagian hasil belajar kami di setiap semester (6 bulan sekali). Kami selalu berurutan dalam rangking di kelas. Bagi saya pribadi, rangking hanyalah simbol. Kami semua sama, kami semua sudah melakukan yang terbaik dalam belajar. Jujur, ada perasaan lega dalam hati saya ketika mengetahui nilai-nilai di rapor saya Alhamdulillah bagus. Bukan karena saya bangga dengan itu, tapi ada rasa bahagia ketika bisa melihat orang tua saya tersenyum melihat anaknya mampu menunjukkan yang terbaik dalam belajar. Bagi saya senyuman orang tua sangat berharga, apalagi alasan mereka tersenyum adalah karena saya. Sama seperti saya, sahabat-sahabat saya pun tidak jauh berbeda. Ketika mengingat masa-masa bersama mereka tanpa sadar mata saya sering menjatuhkan air mata. Ini bukan lebay atau apalah yang dibuat-buat. Ini tulus dari hati saya yang bersyukur bisa menjadi bagian dalam persahabatan yang indah. Yang memang tak luput dari segala perbedaan, perselisihan dan pertengkaran. Persahabatan yang memberi saya pelajaran berharga tentang pentingnya seorang sahabat. Kita tidak pernah tahu siapa yang akan menjadi sahabat kita. Tapi ketika awalnya pertemanan dimulai dari ketulusan hati, saya yakin bahwa pertemanan itu akan menjadi persahabatan. Bagi saya semua orang bisa menjadi teman, tapi tidak semua yang disebut teman itu mampu dan layak kita sebut sebagai sahabat.

Sampai sekarang, kami masih sering berkomunikasi melalui media sosial. Meskipun jauh, tapi kenangan tentang persahabatan yang indah kami takkan pernah terhapus. Ketika saya memutuskan pindah sekolah, sahabat-sahabat saya tidak menghalangi saya. Hanya raut wajah penuh perhatian yang saya lihat ketika itu. Saya sempat mengira bahwa mereka tidak care dengan saya. Tapi semua itu berubah ketika salah satu dari mereka ada yang mengatakan pada saya sambil berkaca-kaca “kalau memang itu yang terbaik buat kamu Na, kami hanya bisa mendukung apapun itu. Karena semuanya keputusan kembali lagi sama kamu. Kamu yang merasakan dan menjalaninya. Meskipun jauh nanti, jangan lupakan kita yah.” 

saya masih mengingat itu semua. Perkataan yang benar-benar keluar dari hatinya. Dan itu memang terbukti, bahkan setelah lama tak bertemu dan akhirnya ada kesempatan bertemu, mereka semua masih tetap sama. Masih seperti yang dulu saya kenal. Tetap suka bercanda sambil mengenang masa lalu kami. Saya menulis ini untuk kalian, sahabat-sahabat terbaikku. Tetaplah jadi diri kita apa adanya. Tetap rendah hati. Tetap bisa saling mengerti satu sama lain bahkan tanpa diminta sekalipun. Meskipun, kini kita sudah sibuk dengan urusan kita masing-masing. Ingatlah bahwa kita pernah dan akan selalu jadi sahabat. Sahabat yang saling mengingatkan untuk tetap istiqomah di jalan Allah SWT.



Tulisan untuk Kalian, Para sahabat2 terbaik saya (Nur Resky Permatasari, Nur Kholifah, Masyta Miftakhul, Nur Hikmah, Illa Carera, dan Dita Citra Pratiwi)

Share:

0 komentar:

Posting Komentar