Sahabat-Sahabat Terbaik
Oleh: Nirwana Fitria
SAHABAT?
Apakah yang terbersit dalam benakmu mendengar kata itu? Pasti
setiap orang punya gambarannya sendiri tentang sahabat. Di jaman yang serba
canggih seperti sekarang ini, mungkin ada sebagian orang yang akan berpendapat
bahwa sahabat baik itu tidak ada, sahabat itu dimana-mana sama saja, teman dan
sahabat apa bedanya? Dan masih banyak lagi pendapat-pendapat lain.
Awalnya saya memang sempat berpendapat demikian. Saya sempat
berasumsi bahwa semua teman atau sahabat atau apalah namanya itu sama saja.
Tapi semua dugaan atau asumsi saya ternyata salah. Setelah saya merasakan
kerinduan saat jauh dari mereka, saat teringat kenangan-kenangan saat masa
sekolah bersama mereka. Masa sekolah yang kami lalui dengan saling menyemangati
dalam hal pelajaran. Dalam hal prestasi di sekolah. Kenangan tentang bagaimana
kami berjuang belajar, mengerjakan tugas, menghadapi masalah-masalah seputar
remaja. Di saat remaja-remaja seumuran kami sibuk memamerkan pacar
masing-masing. Kami hanya cukup menyimpan perasaan kekaguman kami. Hanya bisa
saling curhat tentang orang yang kami sukai masing-masing. Bagi kami status
berpacaran pada saat itu sangat berbeda dengan teman-teman yang lain. Kami
lebih senang belajar, saling menegur jika salah satu di antara kami ada yang
salah. Saling menasehati karena ingin semuanya di jalan yang benar. Layaknya
manusia biasa, kami tidaklah luput dari kekurangan. Dan memang karena tidak ada
manusia yang sempurna. Disitulah kami belajar untuk saling mengisi dan
melengkapi kekurangan masing-masing.
1 hal yang sulit saya lupakan dari kenangan bersama
sahabat-sahabat saya adalah ketika pembagian hasil belajar kami di setiap
semester (6 bulan sekali). Kami selalu berurutan dalam rangking di kelas. Bagi
saya pribadi, rangking hanyalah simbol. Kami semua sama, kami semua sudah
melakukan yang terbaik dalam belajar. Jujur, ada perasaan lega dalam hati saya
ketika mengetahui nilai-nilai di rapor saya Alhamdulillah bagus. Bukan karena
saya bangga dengan itu, tapi ada rasa bahagia ketika bisa melihat orang tua
saya tersenyum melihat anaknya mampu menunjukkan yang terbaik dalam belajar.
Bagi saya senyuman orang tua sangat berharga, apalagi alasan mereka tersenyum
adalah karena saya. Sama seperti saya, sahabat-sahabat saya pun tidak jauh
berbeda. Ketika mengingat masa-masa bersama mereka tanpa sadar mata saya sering
menjatuhkan air mata. Ini bukan lebay atau apalah yang dibuat-buat. Ini tulus
dari hati saya yang bersyukur bisa menjadi bagian dalam persahabatan yang
indah. Yang memang tak luput dari segala perbedaan, perselisihan dan
pertengkaran. Persahabatan yang memberi saya pelajaran berharga tentang
pentingnya seorang sahabat. Kita tidak pernah tahu siapa yang akan menjadi
sahabat kita. Tapi ketika awalnya pertemanan dimulai dari ketulusan hati, saya
yakin bahwa pertemanan itu akan menjadi persahabatan. Bagi saya semua orang
bisa menjadi teman, tapi tidak semua yang disebut teman itu mampu dan layak
kita sebut sebagai sahabat.
Sampai sekarang, kami masih sering berkomunikasi melalui media
sosial. Meskipun jauh, tapi kenangan tentang persahabatan yang indah kami
takkan pernah terhapus. Ketika saya memutuskan pindah sekolah, sahabat-sahabat
saya tidak menghalangi saya. Hanya raut wajah penuh perhatian yang saya lihat
ketika itu. Saya sempat mengira bahwa mereka tidak care dengan saya.
Tapi semua itu berubah ketika salah satu dari mereka ada yang mengatakan pada
saya sambil berkaca-kaca “kalau memang itu yang terbaik buat kamu Na, kami
hanya bisa mendukung apapun itu. Karena semuanya keputusan kembali lagi sama
kamu. Kamu yang merasakan dan menjalaninya. Meskipun jauh nanti, jangan lupakan
kita yah.”
saya masih mengingat itu semua. Perkataan yang benar-benar keluar dari hatinya. Dan itu memang terbukti, bahkan setelah lama tak bertemu dan akhirnya ada kesempatan bertemu, mereka semua masih tetap sama. Masih seperti yang dulu saya kenal. Tetap suka bercanda sambil mengenang masa lalu kami. Saya menulis ini untuk kalian, sahabat-sahabat terbaikku. Tetaplah jadi diri kita apa adanya. Tetap rendah hati. Tetap bisa saling mengerti satu sama lain bahkan tanpa diminta sekalipun. Meskipun, kini kita sudah sibuk dengan urusan kita masing-masing. Ingatlah bahwa kita pernah dan akan selalu jadi sahabat. Sahabat yang saling mengingatkan untuk tetap istiqomah di jalan Allah SWT.
saya masih mengingat itu semua. Perkataan yang benar-benar keluar dari hatinya. Dan itu memang terbukti, bahkan setelah lama tak bertemu dan akhirnya ada kesempatan bertemu, mereka semua masih tetap sama. Masih seperti yang dulu saya kenal. Tetap suka bercanda sambil mengenang masa lalu kami. Saya menulis ini untuk kalian, sahabat-sahabat terbaikku. Tetaplah jadi diri kita apa adanya. Tetap rendah hati. Tetap bisa saling mengerti satu sama lain bahkan tanpa diminta sekalipun. Meskipun, kini kita sudah sibuk dengan urusan kita masing-masing. Ingatlah bahwa kita pernah dan akan selalu jadi sahabat. Sahabat yang saling mengingatkan untuk tetap istiqomah di jalan Allah SWT.
Tulisan untuk Kalian, Para sahabat2 terbaik saya (Nur Resky Permatasari, Nur Kholifah, Masyta Miftakhul, Nur Hikmah, Illa Carera, dan Dita Citra Pratiwi)


0 komentar:
Posting Komentar