Minggu, 03 Januari 2016

My Note: Tenggelamnya Kapal Van der Wijck


Bismillah...
Assalamu'alaikum...

Kali ini saya mau berbagi cerita mengenai sebuah film yang sebenarnya sudah lama sekali ingin saya nonton. Tapi entah mengapa, ada saja alasan yang membuat saya akhirnya belum bisa menonton film tersebut sampai akhir tahun 2015. Tapi ketika melihat di salah satu stasiun TV swasta ada yang menayangkan film bioskop ke layar kaca dalam rangka tahun baru. Yah memang seperti biasa, ketika ada hari-hari tertentu, TV-TV biasanya memang menayangkan Film yang sebelumnya hanya bisa ditonton di bioskop. Ini tentu saja adalah kabar gembira bagi orang-orang yang jarang sekali ke bioskop (termasuk saya) entah itu karena malas, tidak ada uang sampai tidak ada yg menemani (hikss -_-). Tapi semua itu terobati dengan adanya penayangan film bioskop oleh TV swasta.


Film yang saya maksudkan adalah "Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck". 
Pasti sudah banyak yang menonton film ini, dan bisa dipastikan saya adalah salah satu yang paling ketinggalan karena belum menonton film ini *Kasihan yah :D. Sebelumnya saya sudah sempat mendengar sedikit isi cerita dari film ini; adik saya yang menceritakan. Tapi sepertinya ada yang kurang jika tidak menontonnya secara langsung.




....................................................

Sinopsis, (sumber: Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas)

Berlatar tahun 1930-an, dari tanah kelahirannya Makassar, Zainuddin (Herjunot Ali) berlayar menuju kampung halaman ayahnya di Batipuh, Padang Panjang. Di sana, ia bertemu dengan Hayati (Pevita Pearce), seorang gadis cantik jelita yang menjadi bunga di persukuannya. Kedua muda-mudi itu jatuh cinta.  Namun, adat dan istiadat yang kuat meruntuhkan cinta mereka berdua. Zainuddin hanya seorang melarat yang tak bersuku; karena ibunya berdarah Bugis dan ayah berdarah Minang, statusnya dalam masyarakat Minang yang bernasabkan garis keturunan ibu tidak diakui. Oleh sebab itu, ia dianggap tidak memiliki pertalian darah lagi dengan keluarganya di Minangkabau. 

Sedangkan Hayati adalah perempuan Minang santun keturunan bangsawan. Pada akhirnya, lamaran Zainuddin ditolak keluarga Hayati. Hayati dipaksa menikah dengan Aziz (Reza Rahadian), laki-laki kaya terpandang yang lebih disukai keluarga Hayati daripada Zainuddin. Kecewa, Zainuddin pun memutuskan untuk berjuang, pergi dari ranah Minang dan merantau ke tanah Jawa demi bangkit melawan keterpurukan cintanya. Zainudin bekerja keras membuka lembaran baru hidupnya. Sampai akhirnya ia menjadi penulis terkenal dengan karya-karya masyhur dan diterima masyarakat seluruh Nusantara.

Tetapi sebuah peristiwa tak diduga kembali menghampiri Zainuddin. Di tengah gelimang harta dan kemasyhurannya, dalam sebuah pertunjukan opera, Zainuddin kembali bertemu Hayati, kali ini bersama Aziz, suaminya. Pada akhirnya, kisah cinta Zainuddin dan Hayati menemui ujian terberatnya; Hayati pulang ke kampung halamannya dengan menaiki kapal Van der Wijck. Di tengah-tengah perjalanan, kapal yang dinaiki Hayati tenggelam. Sebelum kapal tenggelam, Zainuddin mengetahui bahwa Hayati sebetulnya masih mencintainya. ------

.................

Bahasa yang dipakai oleh Zainuddin adalah bahasa bugis, makassar. Jujur saja saya sangat tertarik dengan film ini karena saya yang memang berasal dari Sulawesi merasa tidak asing lagi dengan bahasa yang dipakai zainuddin. Meskipun antara Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara ada sedikit perbedaan, tapi dalam beberapa penggunaan kata, tetap ada banyak kesamaan. Sulawesi selatan memang masih sangat kental dengan bahasa bugis dengan aksen yang kental. Sedangkan Sulawesi tenggara (tempat kelahiran saya), sudah banyak campuran dari berbagai suku. Sehingga kalau berkunjung di Kota Kendari (Ibukotanya Sulawesi Tenggara) yang didengar dari bahasa penduduknya hanyalah bahasa indonesia dengan sedikit campuran kata-kata khas sulawesi. Contohnya seperti: Ko dari mana? = Kamu dari mana?

Sebagai seseorang yang dibesarkan di keluarga dengan campuran suku, ada rasa iri ketika melihat teman-teman ada yang mahir sekali berbahasa daerah. Tapi di sisi lain, meskipun saya dibesarkan dalam keluarga dengan suku yang campur-campur (Bapak: Bugis-Ternate, Mama:Tolaki) saya tetap harus bersyukur, karena dengan beraneka ragamnya suku dalam keluarga, saya jadi bisa mengambil hal-hal/sisi-sisi baik dari setiap suku. Dan bagi saya, kepribadian dan sifat seseorang tidak ditentukan dari "suku apa dia" melainkan bagaimana hubungan dia dengan Allah SWT (Habluminallah) dan bagaimana dia bisa memperlakukan orang lain dengan baik (habluminannas).

Kok pembahasannya jadi panjang kemana-mana, hehehe. Kembali ke Film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Menurut saya pribadi, film ini memang layak disebut sebagai salah satu film terbaik Indonesia. Dan untuk selanjutnya, semoga para pembuat film bisa terus memproduksi film-film berkualitas, yang mengandung nilai-nilai kehidupan, pesan moral. Dan mengeksplore kekayaan suku, budaya, alam di negeri tercinta ini; Indonesia. Sehingga yang dapat dilihat dari Indonesia bukan saja hanya berita-berita negatif tentang para koruptor dLL, melainkan sisi-sisi positif dari negeri ini.

Salam Persaudaraan, Indonesia!
Dimana pun pulau yang kamu tempati di negeri ini, apapun sukumu, apapun bahasa daerahmu, kita tetaplah saudara satu bangsa; sebagai Warga Negara Indonesia.

Kendari, 2 januari 2016



Share:

0 komentar:

Posting Komentar