Selasa, 26 Januari 2016

My Note: Pentingnya Batas dan Filter Untuk Diri Sendiri


Pentingnya Membuat Batas dan Filter Untuk Diri Sendiri
Oleh: Nirwana Fitria

Sumber Gambar: Lensa Dakwah


Di tengah penggunaan sosial media yang semakin marak, tentunya kita harus pandai-pandai membuat batas dan filter untuk diri sendiri. Mengapa? Karena kalau tidak begitu, kita akan mudah terseret dalam derasnya arus sosial media.

Setiap hari, semakin banyak saja tingkah laku yang cenderung ‘aneh’ yang sebaiknya tidak perlu diikuti atau bahkan harus diabaikan. Mulai dari maraknya saling hina, mencaci, membully, aksi penipuan, penebar kebencian, gambar-gambar tidak senonoh, bahkan sampai kehidupan pribadi yang ramai-ramai dipamerkan. Kita tidak bisa mencegah itu semua, karena sekuat apapun dicegah, hal-hal seperti itu tetap aka nada dan bermunculan setiap hari. Terlebih di era digital seperti saat ini.


Salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk membuat batas dan filter bagi diri sendiri adalah dengan memilih pilihan “un-friend” atau “block” yang telah disediakan. Dengan begitu kita bisa memilah-memilih mana saja yang layak untuk terlihat dalam beranda/timeline sosial media kita. Bukankah kita memang berhak untuk itu? Kalau orang lain dengan bebasnya memposting & mengupload sesuatu yang kurang pantas menurut kita. Tentu kita juga berhak untuk tidak melihat postingan-postingan dari akun orang tersebut.

Saya pribadi, beberapa kali harus memilih pilihan “un-friend” akun teman-teman saya di sosial media. Akun yang saya “un-friend” itu selalu mengupload dan memposting segala jenis kegiatan yang ia lakukan. Hampir setiap hari tanpa terkecuali, wajahnya menghiasi beranda/timeline sosial media saya. Awalnya saya tidak terlalu terganggu dan mencoba untuk mengabaikan. Tapi lama kelamaan saya jadi risih. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan yang ia lakukan tersebut. Karena dia memang punya hak untuk itu semua dan asalkan masih dalam tahap wajar. Tapi, siapa yang bisa menjamin rasa syukur dalam hati saya bisa tetao bertahan ketika terus menerus melihat postingan berupa foto yang isinya seolah-olah memperlihatkan “Kehidupannya yang sangat sempurna nan bahagia?”. Jawabannya: Tidak ada yang bisa menjamin. Karena sudah menjadi Sunnatullah bagi setiap orang; iman itu pasang surut. Kadang bertambah dan kadang berkurang. Termasuk juga rasa syukur.  Mungkin itulah yang menjadi alasan saya memilih “un-friend” akun beberapa teman saya.

Berbicara soal kebahagiaan yang ditampilkan dalam foto yang diupload. Itu adalah urusan yang mengupload atau memposting. Entah kebahagiaan itu memang benar-benar sesuai kenyataan ataukah bukan. Itu juga bukan urusan saya. Yang jadi urusan saya adalah mampukah saya menjaga rasa syukur atas kehidupan saya? agar rasa syukur itu tidak berganti menjadi rasa iri/cemburu karena terus-menerus melihat foto tentang kehidupan yang sempurna nan bahagia seolah tak punya beban.

Upload foto liburan atau pemandangan indah, kebersamaan dengan teman atau keluarga bukanlah hal yang salah. Karena saya pun pernah sesekali upload foto pemandangan indah di sebuah tempat yang saya kunjungi. Tapi, jangan samai yang tadinya niatan kita hanya untuk “Share Kebahagiaan” pelan-pelan berubah menjadi rasa ingin terus-menerus pamer hingga tanpa sadar berakhir menjadi riya’, ujub dan takabur.

Sebagai penutup, postingan Tere Liye di bawah ini mungkin bisa sejenak dijadikan bahan renungan. Dan ini juga sebagai #reminder bagi diri saya sendiri.

Orang pamer itu orang yang tidak bahagia. Bahkan entahlah, apakah dia memang sekeren itu aslinya, atau memang hanya itu semua kehidupan yang dia jalani, semua telah dipamerkan.
Sungguh beruntung orang-orang yang bisa menahan dirinya dari keinginan pamer. Dia menyimpan hal-hal hebat, tempat-tempat terbaik, prestasi, dsbgnya di dalam hati, dan selalu bersyukur atas hal itu. Orang-orang ini, yang nampak di luar hanya pucuk gunung es secuil, di dalamnya yang tersembunyi sangat mengagumkan besarnya. (Tere Liye)

******************

Kendari, 27 Januari 2016

Share:

0 komentar:

Posting Komentar