Pentingnya Membuat Batas dan
Filter Untuk Diri Sendiri
Di tengah penggunaan sosial media yang semakin marak, tentunya kita harus pandai-pandai membuat batas dan filter untuk diri sendiri. Mengapa? Karena kalau tidak begitu, kita akan mudah terseret dalam derasnya arus sosial media.
Setiap hari, semakin
banyak saja tingkah laku yang cenderung ‘aneh’ yang sebaiknya tidak perlu
diikuti atau bahkan harus diabaikan. Mulai dari maraknya saling hina, mencaci,
membully, aksi penipuan, penebar kebencian, gambar-gambar tidak senonoh, bahkan
sampai kehidupan pribadi yang ramai-ramai dipamerkan. Kita tidak bisa mencegah
itu semua, karena sekuat apapun dicegah, hal-hal seperti itu tetap aka nada dan
bermunculan setiap hari. Terlebih di era digital seperti saat ini.
Salah satu cara yang bisa
kita lakukan untuk membuat batas dan filter bagi diri sendiri adalah dengan
memilih pilihan “un-friend” atau “block” yang telah disediakan. Dengan begitu
kita bisa memilah-memilih mana saja yang layak untuk terlihat dalam
beranda/timeline sosial media kita. Bukankah kita memang berhak untuk itu?
Kalau orang lain dengan bebasnya memposting & mengupload sesuatu yang kurang
pantas menurut kita. Tentu kita juga berhak untuk tidak melihat
postingan-postingan dari akun orang tersebut.
Saya pribadi, beberapa
kali harus memilih pilihan “un-friend” akun teman-teman saya di sosial media.
Akun yang saya “un-friend” itu selalu mengupload dan memposting segala jenis
kegiatan yang ia lakukan. Hampir setiap hari tanpa terkecuali, wajahnya
menghiasi beranda/timeline sosial media saya. Awalnya saya tidak terlalu
terganggu dan mencoba untuk mengabaikan. Tapi lama kelamaan saya jadi risih.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan yang ia lakukan tersebut. Karena dia
memang punya hak untuk itu semua dan asalkan masih dalam tahap wajar. Tapi,
siapa yang bisa menjamin rasa syukur dalam hati saya bisa tetao bertahan ketika
terus menerus melihat postingan berupa foto yang isinya seolah-olah
memperlihatkan “Kehidupannya yang sangat sempurna nan bahagia?”. Jawabannya:
Tidak ada yang bisa menjamin. Karena sudah menjadi Sunnatullah bagi setiap
orang; iman itu pasang surut. Kadang bertambah dan kadang berkurang. Termasuk
juga rasa syukur. Mungkin itulah yang
menjadi alasan saya memilih “un-friend” akun beberapa teman saya.
Berbicara soal kebahagiaan
yang ditampilkan dalam foto yang diupload. Itu adalah urusan yang mengupload
atau memposting. Entah kebahagiaan itu memang benar-benar sesuai kenyataan
ataukah bukan. Itu juga bukan urusan saya. Yang jadi urusan saya adalah mampukah
saya menjaga rasa syukur atas kehidupan saya? agar rasa syukur itu
tidak berganti menjadi rasa iri/cemburu karena terus-menerus melihat foto
tentang kehidupan yang sempurna nan bahagia seolah tak punya beban.
Upload foto liburan atau
pemandangan indah, kebersamaan dengan teman atau keluarga bukanlah hal yang
salah. Karena saya pun pernah sesekali upload foto pemandangan indah di sebuah tempat
yang saya kunjungi. Tapi, jangan samai yang tadinya niatan kita hanya untuk
“Share Kebahagiaan” pelan-pelan berubah menjadi rasa ingin terus-menerus pamer
hingga tanpa sadar berakhir menjadi riya’, ujub dan takabur.
Sebagai
penutup, postingan Tere Liye di bawah ini mungkin bisa sejenak dijadikan bahan
renungan. Dan ini juga sebagai #reminder bagi diri saya sendiri.
Orang pamer itu orang yang tidak
bahagia. Bahkan entahlah, apakah dia memang sekeren itu aslinya, atau memang
hanya itu semua kehidupan yang dia jalani, semua telah
dipamerkan.
Sungguh beruntung orang-orang yang
bisa menahan dirinya dari keinginan pamer. Dia menyimpan hal-hal hebat,
tempat-tempat terbaik, prestasi, dsbgnya di dalam hati, dan selalu bersyukur
atas hal itu. Orang-orang ini, yang nampak di luar hanya pucuk gunung es
secuil, di dalamnya yang tersembunyi sangat mengagumkan besarnya. (Tere Liye)
******************
Kendari, 27 Januari 2016

0 komentar:
Posting Komentar