Sesempurna
Itukah?
Oleh:
Nirwana Fitria
Di zaman sekarang, rasanya kehidupan
manusia sudah tidak bisa terpisahkan dari sosial media. Hampir setiap hari
applikasi yang berhubungan dengan sosmed menjadi santapan. Tujuannya pun
beragam, ada yang untuk update status, upload foto, chatting dan sebagainya.
Ketika menggunakan sosmed, pasti banyak kita temui foto-foto yang berserakan di
beranda/timeline kita. Dan foto tersebut biasanya menggambarkan kegiatan yang
sedang dilakukan, moment indah yang dilewati, beserta pemandangan indah dari
sebuah tempat yang dikunjungi, dan tak luput juga foto selfie dengan berbagai
macam pose. Hingga kita yang melihatnya pun menjadi terkesan, kagum, bahkan
mungkin iri karena ingin juga bisa melakukan hal yang sama.
Saya pribadi pernah ikut arus kekinian, yah karena merasa perlu dan tidak mau menjadi ketinggalan zaman. (Dulu) saya rajin sekali menggunggah foto yang menggambarkan kebahagiaan. Mungkin memang semua itu tidak salah karena masih dalam tahap yang wajar. Tapi lama kelamaan saya merasa seperti “terbebani”. Rasanya tidak tenang jika hari terlewati tanpa upload foto, entah itu foto ketika bepergian atau foto selfie aneka pose sesuai dengan yang lagi nge-trend. Hingga suatu ketika, saya memandangi foto-foto saya sendiri lantas bertanya pada diri sendiri:
‘Apakah memang seindah ini kehidupan
saya?’
atau dengan kata lain,
‘Apakah yang nampak dalam foto
sesuai dengan kenyataan sebenarnya?’,
‘Apakah sesempurna itu kehidupan
yang saya miliki?’
Berbagai pertanyaan seolah menyerang saya.
Singkat cerita, ketika secercah hidayah
mulai menyiram hati saya, saya pun akhirnya mulai mengurangi aktifitas yang
tadinya begitu penting di mata saya. Karena jika terus menerus mengikuti arus,
saya bisa tenggelam – kebablasan, tidak tahu lagi mana yang harus diupload dan
mana yang tidak perlu. Saya jadi takut hati saya jadi terkena penyakit bernama
“Ujub”. Bukankah mencegah selalu lebih baik daripada mengobati?
Sekarang, hati saya jadi lebih tenang.
Saya tetap menggunakan sosial media. Tapi kini tak ada lagi rasa “terbebani”
ketika sehari terlewati tanpa upload foto yang seolah memerlihatkan kebahagiaan
yang saya sendiri pun tidak tahu apakah kebahagiaan itu benar-benar nyata atau
hanya ilusi yang saya ciptakan melalui foto. Saya tidak mau menjudge jika
sampai hari ini masih saya temukan beberapa akun sosmed milik teman saya yang
isinya full dengan foto tentang dirinya, karena mungkin saja itu adalah
kebahagiaan tersendiri untuknya. Karena setiap orang berhak atas kebahagiaannya
masing-masing. Kalau nanti suatu saat saya merasa terganggu dengan apa yang
saya temukan di sosmed, saya bisa dengan mudah memilih pilihan “un-friend”,
karena saya pun berhak memilih apa saja yang ingin saya lihat.
Kendari, 26 Januari 2016

0 komentar:
Posting Komentar