Sabtu, 02 Januari 2016

My Note: First Day On January

Bismillah...
Assalamu'alaikum...

Hari pertama di tahun 2016, sekaligus hari pertama di usia saya yang kini beranjak dewasa (Tidak perlu disebut usianya, hehe). Di tahun-tahun sebelumnya, hari kelahiran adalah salah satu hari yang saya tunggu-tunggu. Karena bisa dipastikan akan mengalir ucapan2 selamat ulang tahun dari teman-teman. Tapi tahun ini berbeda, hati saya justru tidak lagi mengistimewakan hari kelahiran saya sendiri. Karena ketika mulai sedikit demi sedikit mempelajari islam dengan lebih baik, dan pelan-pelan mencoba menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Akhirnya hal ini pun berpengaruh dengan cara pandang saya terhadap sesuatu, salah satunya tentang hari lahir. Ketika hari kelahiran kita tiba, maka itu berarti jatah hidup di dunia ini berkurang. Lantas, apa yang seharusnya saya lakukan? Saya merenungi diri; bermuhasabah. Mengingat saya hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan-kesalahan, entah itu yang saya sadari maupun tidak. Moment hari kelahiran di tahun ini saya jadikan sebagai moment untuk memperbaiki diri, berusaha mengubah apa yang tadinya kurang baik menjadi lebih baik. Dan di hari kelahiran saya, satu-satunya orang yang paling bersemangat untuk menyambutnya adalah Mama saya tercinta. Mama sampai bela-belakan memasak makanan yang enak-enak sebagai bentuk rasa syukur (kata Mama). Padahal saya sudah sempat bilang kalau tidak perlu repot-repot. Tapi bagi mama ini adalah bentuk rasa syukurnya, bahwa anaknya kini masih diberi kesehatan dan umur panjang di usia yang sekarang. Mama memang selalu jadi yang terbaik. Love you, Mom...


*****
Ada lagi yang spesial di hari pertama bulan januari ini, yaitu Tulisan saya dimuat di situs Islampos : https://www.islampos.com/salahkah-jika-berbuat-baik-242161/

Saya sangat bersyukur, karena sebagai penulis yang masih sangat pemula dan masih perlu belajar banyak. Tulisan saya bisa dimuat di situs tersebut. Dan tulisan itu baru saya kirim sehari sebelumnya, dan keesokkan harinya sudah muncul di antara postingan-postingan lainnya. Alhamdulillah.




Saya menulis untuk mengingatkan diri sendiri. Dan ketika tulisan itu akhirnya dibaca oleh banyak orang, tentu saja saya sangat bersyukur. Dan berharap tulisan saya itu bisa bermanfaat bagi yang membacanya. Tersadar akan ilmu saya yang masih sangat kurang, saya pun akan terus belajar. Agar nantinya bisa tetap menulis; terutama menulis tentang kebaikan dan hal-hal yang bermanfaat. Ada salah satu kutipan dari seorang penceramah yang mengatakan bahwa "Dakwah itu bukan hanya saat di atas mimbar. Tapi dakwah itu bisa lewat berbagai cara, salah satunya dengan menulis."

*****

Masih di hari pertama bulan Januari. Malam harinya saya dan adik menonton Film layar lebar yang ditayangkan di SCTV. Film itu berjudul "Kapan Kawin?" . Judul film itu sedikit menyindir saya, hehehe. Karena saya sendiri sudah mulai sering ditanyakan perihal jodoh oleh nenek saya. Dan kalau pertanyaan mengenai jodoh sudah mulai diajukan nenek, saya pun hanya senyum-senyum sambil berusaha mengalihkan pembicaraan. Oke, kembali ke persoalan Film, dan lupakan urusan pertanyaan nenek saya, hehehe. Menurut saya, film berjudul "Kapan Kawin?" itu sangat menarik karena ceritanya memang sangat dekat dengan apa yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Dan bagi saya, ada pesan moral yang bisa diambil dari film ini. Pesan moralnya ada di beberapa dialog antar pemerannya. Dan di bawah ini beberapa dialog yang saya ubah menjadi bentuk Quotes.

*Kecewa itu hal biasa, karena tidak ada yang sempurna dalam hidup ini*

*Tidak ada orang yang sempurna, dan tidak ada kehidupan yang sempurna*

*Jangan terlalu sering memikirkan selera/kesukaan orang lain, meskipun itu orang terdekat. Karena jika terlalu sering memikirkan selera/kesukaan orang lain, bisa-bisa kau lupa memikirkan selera/kesukaan dirimu sendiri. Dan siapa lagi yang akan memikirkan selera/kesukaanmu selain dirimu sendiri*

*Kadangkala seseorang sudah jungkir balik membahagiakan orang lain/orang terdekatnya, sampai-sampai ia lupa membahagiakan dirinya sendiri. Karena kebahagiaan yang dikasih ke orang lain tapi kebahagiaan itu tidak ada di dalam diri kita bagaikan cek kosong. Kalau mau kasih uang, yah punya uang dulu. Kalau mau bahagiakan orang lain, yah usahakan diri sendiri sudah bahagia. Bagaimana caranya mau membahagiakan orang lain sedangkan diri sendiri tidak tahu bagaimana dan apa rasanya bahagia?*

*Yang terbaik menurut orang lain, belum tentu yang terbaik menurut diri kita. Karena sebenarnya yang tahu apa yang terbaik dalam diri kita adalah diri sendiri*

*Sekalipun terlihat aneh, terdengar rumit bahkan lucu. Tapi perasaan tetaplah perasaan. Tidak bisa dimengerti oleh orang lain, hanya yang merasakan perasaan itulah yang benar-benar mengerti.*

Di sudut kota kecil di Pulau Sulawesi
Kendari, 1 Januari 2016


Share:

0 komentar:

Posting Komentar