Bismillah...
Assalamu'alaikum...
Hari pertama di tahun 2016, sekaligus
hari pertama di usia saya yang kini beranjak dewasa (Tidak perlu disebut
usianya, hehe). Di tahun-tahun sebelumnya, hari kelahiran adalah salah satu
hari yang saya tunggu-tunggu. Karena bisa dipastikan akan mengalir ucapan2
selamat ulang tahun dari teman-teman. Tapi tahun ini berbeda, hati saya justru
tidak lagi mengistimewakan hari kelahiran saya sendiri. Karena ketika mulai
sedikit demi sedikit mempelajari islam dengan lebih baik, dan pelan-pelan
mencoba menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Akhirnya hal ini pun
berpengaruh dengan cara pandang saya terhadap sesuatu, salah satunya tentang hari
lahir. Ketika hari kelahiran kita tiba, maka itu berarti jatah hidup di dunia
ini berkurang. Lantas, apa yang seharusnya saya lakukan? Saya merenungi diri;
bermuhasabah. Mengingat saya hanyalah manusia biasa yang tak luput dari
kesalahan-kesalahan, entah itu yang saya sadari maupun tidak. Moment hari
kelahiran di tahun ini saya jadikan sebagai moment untuk memperbaiki diri,
berusaha mengubah apa yang tadinya kurang baik menjadi lebih baik. Dan di hari
kelahiran saya, satu-satunya orang yang paling bersemangat untuk menyambutnya
adalah Mama saya tercinta. Mama sampai bela-belakan memasak makanan yang
enak-enak sebagai bentuk rasa syukur (kata Mama). Padahal saya sudah sempat
bilang kalau tidak perlu repot-repot. Tapi bagi mama ini adalah bentuk rasa syukurnya,
bahwa anaknya kini masih diberi kesehatan dan umur panjang di usia yang
sekarang. Mama memang selalu jadi yang terbaik. Love you, Mom...
*****
Ada lagi yang spesial di hari pertama
bulan januari ini, yaitu Tulisan saya dimuat di situs Islampos : https://www.islampos.com/salahkah-jika-berbuat-baik-242161/
Saya sangat bersyukur, karena sebagai
penulis yang masih sangat pemula dan masih perlu belajar banyak. Tulisan saya
bisa dimuat di situs tersebut. Dan tulisan itu baru saya kirim sehari
sebelumnya, dan keesokkan harinya sudah muncul di antara postingan-postingan
lainnya. Alhamdulillah.
Saya menulis untuk mengingatkan diri
sendiri. Dan ketika tulisan itu akhirnya dibaca oleh banyak orang, tentu saja
saya sangat bersyukur. Dan berharap tulisan saya itu bisa bermanfaat bagi yang
membacanya. Tersadar akan ilmu saya yang masih sangat kurang, saya pun akan
terus belajar. Agar nantinya bisa tetap menulis; terutama menulis tentang
kebaikan dan hal-hal yang bermanfaat. Ada salah satu kutipan dari seorang
penceramah yang mengatakan bahwa "Dakwah itu bukan hanya saat di
atas mimbar. Tapi dakwah itu bisa lewat berbagai cara, salah satunya dengan
menulis."
*****
Masih di hari pertama bulan Januari.
Malam harinya saya dan adik menonton Film layar lebar yang ditayangkan di SCTV.
Film itu berjudul "Kapan Kawin?" . Judul film itu sedikit menyindir
saya, hehehe. Karena saya sendiri sudah mulai sering ditanyakan perihal jodoh
oleh nenek saya. Dan kalau pertanyaan mengenai jodoh sudah mulai diajukan
nenek, saya pun hanya senyum-senyum sambil berusaha mengalihkan pembicaraan.
Oke, kembali ke persoalan Film, dan lupakan urusan pertanyaan nenek saya,
hehehe. Menurut saya, film berjudul "Kapan Kawin?" itu sangat menarik
karena ceritanya memang sangat dekat dengan apa yang sering terjadi dalam
kehidupan sehari-hari. Dan bagi saya, ada pesan moral yang bisa diambil dari
film ini. Pesan moralnya ada di beberapa dialog antar pemerannya. Dan di bawah
ini beberapa dialog yang saya ubah menjadi bentuk Quotes.
*Kecewa itu hal biasa, karena tidak ada yang sempurna dalam hidup ini*
*Tidak ada orang yang
sempurna, dan tidak ada kehidupan yang sempurna*
*Jangan terlalu sering
memikirkan selera/kesukaan orang lain, meskipun itu orang terdekat. Karena jika
terlalu sering memikirkan selera/kesukaan orang lain, bisa-bisa kau lupa
memikirkan selera/kesukaan dirimu sendiri. Dan siapa lagi yang akan memikirkan
selera/kesukaanmu selain dirimu sendiri*
*Kadangkala seseorang
sudah jungkir balik membahagiakan orang lain/orang terdekatnya, sampai-sampai
ia lupa membahagiakan dirinya sendiri. Karena kebahagiaan yang dikasih ke orang
lain tapi kebahagiaan itu tidak ada di dalam diri kita bagaikan cek kosong.
Kalau mau kasih uang, yah punya uang dulu. Kalau mau bahagiakan orang lain, yah
usahakan diri sendiri sudah bahagia. Bagaimana caranya mau membahagiakan orang
lain sedangkan diri sendiri tidak tahu bagaimana dan apa rasanya bahagia?*
*Yang terbaik menurut
orang lain, belum tentu yang terbaik menurut diri kita. Karena sebenarnya yang
tahu apa yang terbaik dalam diri kita adalah diri sendiri*
*Sekalipun terlihat aneh, terdengar rumit bahkan lucu. Tapi perasaan tetaplah perasaan. Tidak bisa dimengerti oleh orang lain, hanya yang merasakan perasaan itulah yang benar-benar mengerti.*
Di sudut kota kecil di Pulau
Sulawesi
Kendari, 1 Januari 2016

0 komentar:
Posting Komentar