Di zaman sekarang, rasanya kehidupan
manusia sudah tidak bisa terpisahkan dari sosial media. Hampir setiap hari
aplikasi yang berhubungan dengan sosial media menjadi santapan. Tujuannya pun
beraneka ragam. Ada yang untuk update status, upload foto, chatting dsb.
Ketika membuka sosial media, tak jarang
saya menemukan banyak foto terpampang di beranda atau timeline. Pengguna sosial
media banyak yang mengupload foto-foto mereka. Dan foto tersebut menggambarkan
kegiatan yang sedang dilakukan, moment indah yang dilewati, beserta pemandangan
yang juga tak kalah indah. Hingga yang melihatnya pun tak luput dari rasa
kagum, terpesona, bahkan mungkin terselip rasa iri karena ingin juga bisa
mengupload foto seindah itu.
Saya sendiri jujur saja juga pernah
berada pada masa dimana saya sangat senang mengupload foto. Foto yang saya
upload biasanya foto menggunakan hijab dengan pose senyum seindah mungkin.
Hingga kemudian tanpa saya sadari, saya menjadi ikut hanyut dalam trend “selfi”
dengan berbagai pose wajah. Rasanya ada yang kurang jika sehari tidak
mengupload foto. Rasanya selalu ingin memberitahu bahwa saya sedang dalam
keadaan bahagia. Rasanya tidak ingin ketinggalan dengan apapun yang sedang
menjadi trend di sosial media.
Hingga suatu hari, entah apa yang ada
di fikiran saya. Saya jadi merasa terbebani dengan apa yang sering saya lakukan
itu (mengupload foto). Dan kemudian saya pun memandangi foto saya sendiri,
lantas berkata pada diri sendiri ‘Apakah memang seindah ini kehidupan saya?’
‘Apakah yang saya lakukan ini berguna, baik dan sudah benar’? Dan berbagai
pertanyaan-pertanyaan lainnya.
Bermula dari pertanyaan itu dan
ditambah dengan secercah hidayah yang sedikit demi sedikit mulai menyapa dan
menyiram hati saya yang seringkali gersang, akhirnya saya pelan-pelan mulai mengurangi
aktifitas mengupload foto dan berfoto “selfie”. Lalu apakah ada perubahan
setelah itu? Yah ada. Ada banyak hal yang berubah dari diri saya. Hati saya
jadi lebih tenang. Tidak perlu lagi cemas jika tidak mengupload foto apapun di
akun sosial media saya.
Dari pengalaman pribadi saya itu, saya
jadi sedikit menyimpulkan tentang foto yang diupload di sosial media. Terkadang
kita *termasuk saya sendiri* ingin agar orang lain melihat kehidupan kita itu
“wah” hingga kemudian orang lain menjadi terkesan dan kagum. Tapi kita
melupakan satu hal, kita lupa bahwa apa yang terlihat indah dalam sebuah
foto, belum tentu pada kenyataannya juga seindah itu.
Awalnya saya juga sering membela diri
dan mencari pembenaran ‘Ah tidak masalah kok, lagipula saya hanya membagi
kebahagiaan yang saya rasakan saja’. Yah, itulah pembenaran yang dulu sering
saya ucapkan untuk meyakinkan diri saya sendiri. Tapi akhirnya, saya jadi
menyadari bahwa kehidupan yang bahagia itu hanya kitalah yang tahu persis
apakah itu benar-benar nyata ataukah hanya ilusi yang kita ciptakan melalui
sebuah foto. Jangan sampai kita hanyut dalam kehidupan penuh topeng. Tapi saya
juga tidak mengatakan bahwa kita harus menunjukkan kesedihan, tidak sama
sekali. Saya hanya ingin berbagi apa yang memang saya rasakan. Tentang rasa
bahagia dan ketenangan dalam hidup tanpa perlu memperindah kehidupan dalam
bentuk foto. Karena itu nantinya bisa jadi beban untuk diri sendiri.
Percayalah, ketika rasa syukur sudah ada dalam hati, tanpa ratusan like dan
komentar pun kita pasti tetap bisa merasakan kebahagiaan.
Dalam sebuah artikel yang
pernah saya baca mengatakan bahwa:
“Media sosial adalah media
yang tanpa henti mengalirkan informasi soal kehidupan hasil editan. Alhasil,
persepsi kita pada kehidupan terdistorsi,”Selain itu, dalam artikel juga
ditulis mengenai survei yang dilakukan oleh Happiness Research Institute, yang
baru-baru ini mengampanyekan hidup tanpa terhubung dengan media
sosial. Lalu, mereka menyurvei lebih kurang 1.085 orang yang tidak
terkoneksi dengan media sosial untuk sementara waktu. Hasilnya,
sebagian besar dari mereka mengaku lebih bahagia dan hidup terasa jauh lebih baik.
Sebanyak, 88 persen responden
mengaku hidup lebih bahagia tanpa media
sosial. Sementara itu, 44 persen responden merasa resah kali pertama
tidak bermain facebook. Lalu, 54 persen lainnya menyatakan hidup lebih indah
tanpa melihat drama dan aktivitas orang lain di media
sosial."
Tapi semuanya kembali lagi ke diri kita
masing-masing, mungkin ada beberapa orang yang niat mengupload foto bukan untuk
agar terkesan "wah" atau membuat orang kagum. Dan semuanya lagi-lagi
ada di tangan kita masing-masing, toh hidup yag menjalani adalah diri kita
sendiri. Tapi jika saya boleh memberi saran, lihatlah sesuatu dari sudut
pandang lain. Pasti akan ada hal-hal yang memberikan pandangan berbeda sehingga
membuat pemahaman kita menjadi lebih baik.
Dan salah satu postingan
Tere Liye berikut ini menjadi penambah keyakinan bahwa apa yang saya tulisan di
atas mungkin memang benar :D
>>> "Saya tahu, menunjukkan sedang berada di LN, sedang ini, itu,
semua hal-hal hebat yang kita lakukan itu menyenangkan. Tapi cemaslah, sungguh
cemaslah dengan pamer yang tanpa kita sadari, riya' yang tanpa kita ketahui.
Sungguh tiada ruginya memikirkan dua, tiga atau berkali-kali sebelum melepas
sesuatu, apakah ini sesuatu yang memang harus saya tunjukkan, bermanfaat dan
penting sekali? Atau hanya sekadar memenuhi keinginan hati agar orang lain tahu
saya sedang ini, itu. Hanya "pengumuman". Sekali lagi: sekadar
pengumuman, agar orang tahu, berkerumun, komen, like, dsbgnya. Ketahuilah,
riya itu bagai semut hitam berjalan di batu hitam di malam gelap gulita. Tidak
terlihat, tidak nampak, tapi semut itu sudah ribuan di atas batu tersebut."
(Tere Liye)
Kendari, 9 Januari
2016
0 komentar:
Posting Komentar