Sabtu, 09 Januari 2016

My Note: Bahagia Tanpa Topeng

Di zaman sekarang, rasanya kehidupan manusia sudah tidak bisa terpisahkan dari sosial media. Hampir setiap hari aplikasi yang berhubungan dengan sosial media menjadi santapan. Tujuannya pun beraneka ragam. Ada yang untuk update status, upload foto, chatting dsb.

Ketika membuka sosial media, tak jarang saya menemukan banyak foto terpampang di beranda atau timeline. Pengguna sosial media banyak yang mengupload foto-foto mereka. Dan foto tersebut menggambarkan kegiatan yang sedang dilakukan, moment indah yang dilewati, beserta pemandangan yang juga tak kalah indah. Hingga yang melihatnya pun tak luput dari rasa kagum, terpesona, bahkan mungkin terselip rasa iri karena ingin juga bisa mengupload foto seindah itu.


Saya sendiri jujur saja juga pernah berada pada masa dimana saya sangat senang mengupload foto. Foto yang saya upload biasanya foto menggunakan hijab dengan pose senyum seindah mungkin. Hingga kemudian tanpa saya sadari, saya menjadi ikut hanyut dalam trend “selfi” dengan berbagai pose wajah. Rasanya ada yang kurang jika sehari tidak mengupload foto. Rasanya selalu ingin memberitahu bahwa saya sedang dalam keadaan bahagia. Rasanya tidak ingin ketinggalan dengan apapun yang sedang menjadi trend di sosial media.

Hingga suatu hari, entah apa yang ada di fikiran saya. Saya jadi merasa terbebani dengan apa yang sering saya lakukan itu (mengupload foto). Dan kemudian saya pun memandangi foto saya sendiri, lantas berkata pada diri sendiri ‘Apakah memang seindah ini kehidupan saya?’ ‘Apakah yang saya lakukan ini berguna, baik dan sudah benar’? Dan berbagai pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Bermula dari pertanyaan itu dan ditambah dengan secercah hidayah yang sedikit demi sedikit mulai menyapa dan menyiram hati saya yang seringkali gersang, akhirnya saya pelan-pelan mulai mengurangi aktifitas mengupload foto dan berfoto “selfie”. Lalu apakah ada perubahan setelah itu? Yah ada. Ada banyak hal yang berubah dari diri saya. Hati saya jadi lebih tenang. Tidak perlu lagi cemas jika tidak mengupload foto apapun di akun sosial media saya.

Dari pengalaman pribadi saya itu, saya jadi sedikit menyimpulkan tentang foto yang diupload di sosial media. Terkadang kita *termasuk saya sendiri* ingin agar orang lain melihat kehidupan kita itu “wah” hingga kemudian orang lain menjadi terkesan dan kagum. Tapi kita melupakan satu hal, kita lupa bahwa apa yang terlihat indah dalam sebuah foto, belum tentu pada kenyataannya juga seindah itu

Awalnya saya juga sering membela diri dan mencari pembenaran ‘Ah tidak masalah kok, lagipula saya hanya membagi kebahagiaan yang saya rasakan saja’. Yah, itulah pembenaran yang dulu sering saya ucapkan untuk meyakinkan diri saya sendiri. Tapi akhirnya, saya jadi menyadari bahwa kehidupan yang bahagia itu hanya kitalah yang tahu persis apakah itu benar-benar nyata ataukah hanya ilusi yang kita ciptakan melalui sebuah foto. Jangan sampai kita hanyut dalam kehidupan penuh topeng. Tapi saya juga tidak mengatakan bahwa kita harus menunjukkan kesedihan, tidak sama sekali. Saya hanya ingin berbagi apa yang memang saya rasakan. Tentang rasa bahagia dan ketenangan dalam hidup tanpa perlu memperindah kehidupan dalam bentuk foto. Karena itu nantinya bisa jadi beban untuk diri sendiri. Percayalah, ketika rasa syukur sudah ada dalam hati, tanpa ratusan like dan komentar pun kita pasti tetap bisa merasakan kebahagiaan. 

Dalam sebuah artikel yang pernah saya baca mengatakan bahwa:

“Media sosial adalah media yang tanpa henti mengalirkan informasi soal kehidupan hasil editan. Alhasil, persepsi kita pada kehidupan terdistorsi,”Selain itu, dalam artikel juga ditulis mengenai survei yang dilakukan oleh Happiness Research Institute, yang baru-baru ini mengampanyekan hidup tanpa terhubung dengan media sosial. Lalu, mereka menyurvei lebih kurang 1.085 orang yang tidak terkoneksi dengan media sosial untuk sementara waktu. Hasilnya, sebagian besar dari mereka mengaku lebih bahagia dan hidup terasa jauh lebih baik.
Sebanyak, 88 persen responden mengaku hidup lebih bahagia tanpa media sosial. Sementara itu, 44 persen responden merasa resah kali pertama tidak bermain facebook. Lalu, 54 persen lainnya menyatakan hidup lebih indah tanpa melihat drama dan aktivitas orang lain di media sosial."


Tapi semuanya kembali lagi ke diri kita masing-masing, mungkin ada beberapa orang yang niat mengupload foto bukan untuk agar terkesan "wah" atau membuat orang kagum. Dan semuanya lagi-lagi ada di tangan kita masing-masing, toh hidup yag menjalani adalah diri kita sendiri. Tapi jika saya boleh memberi saran, lihatlah sesuatu dari sudut pandang lain. Pasti akan ada hal-hal yang memberikan pandangan berbeda sehingga membuat pemahaman kita menjadi lebih baik. 

Dan salah satu postingan Tere Liye berikut ini menjadi penambah keyakinan bahwa apa yang saya tulisan di atas mungkin memang benar :D 

>>> "Saya tahu, menunjukkan sedang berada di LN, sedang ini, itu, semua hal-hal hebat yang kita lakukan itu menyenangkan. Tapi cemaslah, sungguh cemaslah dengan pamer yang tanpa kita sadari, riya' yang tanpa kita ketahui. Sungguh tiada ruginya memikirkan dua, tiga atau berkali-kali sebelum melepas sesuatu, apakah ini sesuatu yang memang harus saya tunjukkan, bermanfaat dan penting sekali? Atau hanya sekadar memenuhi keinginan hati agar orang lain tahu saya sedang ini, itu. Hanya "pengumuman". Sekali lagi: sekadar pengumuman, agar orang tahu, berkerumun, komen, like, dsbgnya. Ketahuilah, riya itu bagai semut hitam berjalan di batu hitam di malam gelap gulita. Tidak terlihat, tidak nampak, tapi semut itu sudah ribuan di atas batu tersebut." (Tere Liye)


Kendari, 9 Januari 2016

Share:

0 komentar:

Posting Komentar