Jumat, 08 Januari 2016

My Note: Abaikan Komentar Orang Lain!!





Kadang dalam hidup ini kita harus melalui fase-fase yang sebenarnya kita tidak inginkan. Kali ini seperti yang saya alami. Ketika keadaan mengharuskan saya untuk menunda kuliah, saya pun berjuang mati-matian agar bisa berdamai dengan kenyataan. Saat melihat teman-teman seangkatan sudah mulai sibuk dengan dunia perkuliahan, saya terpaksa harus memutar otak untuk mencari kegiatan agar saya tidak terus-menerus dirundung kekecewaan. Tapi lagi-lagi hidup memberi kejutan. Ketika saya hendak mencari kerja, mama justru melarang saya.  Dengan alasan, saya lebih baik di rumah menjaga adik bungsu saya. karena mama dan bapak bekerja. Adik saya yang lain juga sekolah. Kalau semuanya pergi dan beraktifitas di luar, lantas siapa yang menjaga adik bugnsu saya. Saya pun mengikuti kemauan mama.


Di rumah, saya menggantikan pekerjaan mama mulai dari masak, cuci piring, mencuci baju, menyapu, mengepel, membereskan rumah. Sebetulnya saya sudah tidak kaget lagi dengan berbagai pekerjaan rumah tersebut, karena ketika masih sekolah saya sudah sering membantu mama. Tapi kali ini bedanya, saya benar-benar “full time” melakukan semua pekerjaan itu, tanpa ada aktifitas lain di luar rumah. Awal-awalnya sempat jenuh, tapi saya selalu berusaha berpositif thingking dengan menyakinkan ke diri saya sendiri bahwa “Sekecil apapun pekerjaan, sudah bernilai di sisi Allah, selama saya ikhlas mengerjakannya.”

Dan harapan untuk bisa melanjutkan kuliah, masih dengan indah mengisi daftar harapan saya. Hingga kemudian ada keluarga yang berkunjung ke rumah, lantas berkata “Lebih baik cari kerja saja, daripada di rumah terus.” Dan berbagai kalimat-kalimat senada lainnya. Saya pun hanya bisa terdiam mendengar berbagai kalimat itu. Dalam hati saya berkata “Andai kalian tahu bagaimana sebenarnya posisi saya sekarang, mungkin kalian tidak akan berkata demikian.” Mengapa saya hanya berkata dalam hati dan tidak berkata secara langsung, karena saya yakin setelah itu mereka akan langsung berkata, “Kalau begitu, suruh saja mamamu yang berhenti kerja.”

Ah, sepertinya komentar-komentar orang lain memang tidak akan pernah ada habisnya. Mereka biasanya hanya melihat segala sesuatu berdasarkan kaca mata penilaian mereka sendiri. Padahal yang tahu akan kehidupan yang saya jalani ini adalah saya sendiri. Saya pun teringat akan sebuah Kisah, yang mungkin sudah sering kita dengar. Yaitu, Kisah seorang bapak, anak dan seekor keledai.

  • Saat si bapak naik keledai, si anak disuruh jalan, orang-orang sibuk berkomentar: “Aduh, tega sekali, si anak disuruh jalan, bapaknya enak-enak naik keledai.”
  • Lantas si bapak yang tidak tahan mendengar komentar orang lain, memutuskan si anak naik keledai, bapaknya jalan, tapi orang-orang tetap berkomentar: “Aduh, dasar anak tidak sopan. Bapaknya disuruh jalan, dia malah enak-enakkan naik keledai.”
  • Si bapak lagi-lagi termakan komentar orang, lalu memutuskan mereka berdua naik keledai. Tapi lagi-lagi orang berkomentar: “Aduh, dasar tidak punya otak. Masa bapak dan anak itu naik keledai yang berbadan kecil.”
  • Si bapak lagi-lagi termakan komentar, memutuskan mereka berdua turun, berjalan kaki. Tapi orang-orang tetap saja berkomentar: “Aduh, bodoh sekali, punya keledai tapi bapak dan anak itu malah jalan kaki.”

Komentar orang lain itu memang tidak akan pernah ada habisnya. Ketika yang kita lakukan adalah hal yang baik, tetap saja ada orang-orang yang berkomentar. Apalagi ketika yang kita lakukan adalah hal yang kurang baik, komentar dari orang-orang pun akan lebih banyak lagi. Kalau setiap komentar orang lain harus didengarkan, itu artinya kita harus terus-menerus melakukan hal-hal yang menyenangkan bagi orang lain, padahal itu belum tentu sesuai dengan keinginan kita. Sementara orang lain tidak akan bertanggung jawab apakah yang kita lakukan itu hasilnya bagus untuk kita atau tidak.

Kadang kala ada komentar yang bisa kita dengarkan sebagai bahan koreksi untuk diri sendiri, tapi ada kalanya juga komentar orang lain tidak perlu didengarkan. Karena bahagia atau tidak, hanya kita yang tahu dan merasakan. Toh, orang lain kan hanya bisa menilai kulit luarnya saja.

Kendari, 8 Januari 2016

Share:

0 komentar:

Posting Komentar