Kadang dalam hidup ini kita harus
melalui fase-fase yang sebenarnya kita tidak inginkan. Kali ini seperti yang
saya alami. Ketika keadaan mengharuskan saya untuk menunda kuliah, saya pun
berjuang mati-matian agar bisa berdamai dengan kenyataan. Saat melihat
teman-teman seangkatan sudah mulai sibuk dengan dunia perkuliahan, saya
terpaksa harus memutar otak untuk mencari kegiatan agar saya tidak
terus-menerus dirundung kekecewaan. Tapi lagi-lagi hidup memberi kejutan.
Ketika saya hendak mencari kerja, mama justru melarang saya. Dengan
alasan, saya lebih baik di rumah menjaga adik bungsu saya. karena mama dan
bapak bekerja. Adik saya yang lain juga sekolah. Kalau semuanya pergi dan
beraktifitas di luar, lantas siapa yang menjaga adik bugnsu saya. Saya pun
mengikuti kemauan mama.
Di rumah, saya menggantikan pekerjaan
mama mulai dari masak, cuci piring, mencuci baju, menyapu, mengepel,
membereskan rumah. Sebetulnya saya sudah tidak kaget lagi dengan berbagai
pekerjaan rumah tersebut, karena ketika masih sekolah saya sudah sering
membantu mama. Tapi kali ini bedanya, saya benar-benar “full time” melakukan
semua pekerjaan itu, tanpa ada aktifitas lain di luar rumah. Awal-awalnya
sempat jenuh, tapi saya selalu berusaha berpositif thingking dengan menyakinkan
ke diri saya sendiri bahwa “Sekecil apapun pekerjaan, sudah bernilai di
sisi Allah, selama saya ikhlas mengerjakannya.”
Dan harapan untuk bisa melanjutkan
kuliah, masih dengan indah mengisi daftar harapan saya. Hingga kemudian ada
keluarga yang berkunjung ke rumah, lantas berkata “Lebih baik cari kerja saja,
daripada di rumah terus.” Dan berbagai kalimat-kalimat senada lainnya. Saya pun
hanya bisa terdiam mendengar berbagai kalimat itu. Dalam hati saya berkata
“Andai kalian tahu bagaimana sebenarnya posisi saya sekarang, mungkin kalian
tidak akan berkata demikian.” Mengapa saya hanya berkata dalam hati dan tidak
berkata secara langsung, karena saya yakin setelah itu mereka akan langsung
berkata, “Kalau begitu, suruh saja mamamu yang berhenti kerja.”
Ah, sepertinya komentar-komentar orang
lain memang tidak akan pernah ada habisnya. Mereka biasanya hanya melihat
segala sesuatu berdasarkan kaca mata penilaian mereka sendiri. Padahal yang
tahu akan kehidupan yang saya jalani ini adalah saya sendiri. Saya pun teringat
akan sebuah Kisah, yang mungkin sudah sering kita dengar. Yaitu, Kisah seorang
bapak, anak dan seekor keledai.
- Saat si bapak naik keledai, si anak disuruh jalan, orang-orang sibuk berkomentar: “Aduh, tega sekali, si anak disuruh jalan, bapaknya enak-enak naik keledai.”
- Lantas si bapak yang tidak tahan mendengar komentar orang lain, memutuskan si anak naik keledai, bapaknya jalan, tapi orang-orang tetap berkomentar: “Aduh, dasar anak tidak sopan. Bapaknya disuruh jalan, dia malah enak-enakkan naik keledai.”
- Si bapak lagi-lagi termakan komentar orang, lalu memutuskan mereka berdua naik keledai. Tapi lagi-lagi orang berkomentar: “Aduh, dasar tidak punya otak. Masa bapak dan anak itu naik keledai yang berbadan kecil.”
- Si bapak lagi-lagi termakan komentar, memutuskan mereka berdua turun, berjalan kaki. Tapi orang-orang tetap saja berkomentar: “Aduh, bodoh sekali, punya keledai tapi bapak dan anak itu malah jalan kaki.”
Komentar orang lain itu
memang tidak akan pernah ada habisnya. Ketika yang kita lakukan adalah hal yang
baik, tetap saja ada orang-orang yang berkomentar. Apalagi ketika yang kita
lakukan adalah hal yang kurang baik, komentar dari orang-orang pun akan lebih
banyak lagi. Kalau setiap komentar orang lain harus didengarkan, itu artinya
kita harus terus-menerus melakukan hal-hal yang menyenangkan bagi orang lain,
padahal itu belum tentu sesuai dengan keinginan kita. Sementara orang lain
tidak akan bertanggung jawab apakah yang kita lakukan itu hasilnya bagus untuk
kita atau tidak.
Kadang kala
ada komentar yang bisa kita dengarkan sebagai bahan koreksi untuk diri sendiri,
tapi ada kalanya juga komentar orang lain tidak perlu didengarkan. Karena bahagia
atau tidak, hanya kita yang tahu dan merasakan. Toh, orang lain kan hanya bisa
menilai kulit luarnya saja.
Kendari, 8 Januari
2016

0 komentar:
Posting Komentar