Tak terasa sudah memasuki penghujung tahun 2015. Rasanya baru kemarin mendengar suara petasan dan kilauan cahaya kembang api di atas langit sebagai pertanda malam tahun baru (pergantian dari tahun2014 menuju tahun 2015). Waktu begitu cepat berlalu. Tapi ada harapan di dalam hatiku yang sampai saat ini masih terus menganggu. Harapan itu begitu sederhana. Tapi, untuk seseorang yang hidup dalam keluarga yang sedang ditimpa cobaan sepertiku, rasanya harapan itu terlalu besar bahkan kadang sangat jauh untuk kuraih. Harapan itu begitu indah menancap di hatiku, harapan yang selalu
membuatku merasa bahwa hidupku masih pantas diperjuangkan. Harapan bahwa ada masa depan cerah yang sedang menanti di depan sana. Ahhh lagi-lagi idealisme -_-
Belakangan ini hatiku seperti dihujam pisau yang tajam. Sakit sekali. Rasanya tidak ingin lagi menghadapi kenyataan apa yang ada di depan mata. Ketika fikiran berusaha keras membuang semua idealisme tentang harapan itu dan menggantinya dengan realitas. REALITAS bahwa harapan itu hanya untuk orang-orang yang keluarganya begitu mendukungnya, hanya untuk orang-orang yang beban fikirannya hanya sebatas bagaimana caranya menyelesaikan satu jenjang pendidikan di bangku kuliah daan meraih gelar lalu memperoleh pekerjaan yang lebih baik.
Tahun 2014, saya memutuskan untuk menunda kuliah karena keadaan ekonomi keluarga yang sangat amat memprihatinkan. Saya berusaha menahan gejolak dalam hati yang terus menerus berteriak seolah tidak menerima keputusan saya. Untuk apa selama ini saya belajar mati-matian? Apakah pendidikan hanya berhenti di bangku SMK saja. Siapkah mental saya mengakui kenyataan yang demikian memilukan itu? Egois? Bukan, rasanya semua yang ada di posisi saya pasti akan merasakan hal yang sama.
Tahun 2015, saya fikir tahun ini adalah tahun dimana saya sudah bisa tersenyum karena bisa melangkahkan kaki di gerbang kampus dengan status sebagai mahasiswi. Tapi kenyataannya?
Saya kembali harus menelan pilu pahit. Amat pahit rasanya yang harus saya telan. Lagi-lagi saya harus mengorbankan perasaan saya, kali ini demi adik yang akan masuk di SMP. Saya bahagia bisa menyelamatkan seseorang apalagi itu adik kandung saya sendiri, karena tidak mungkin dia yang harus berhenti dan menunda untuk sekolah. Lagi-lagi saya sebagai anak sulung harus rela mengalah.
Tapi saya tidak bisa memungkiri bahwa hati saya masih
menyimpan harapan itu. Harapan indah yang pernah begitu nyaman menempati salah
satu prioritas dalam hidup saya. Harapan agar bisa memperbaiki keadaan. Harapan
untuk bisa menjadi manusia yang berilmu. Harapan untuk bisa belajar kembali di
jenjang yang lebih tinggi.
Air mata saya sudah terlalu banyak tertumpah. Bahkan terkadang di saat saya sedang sendiri, air mata saya sering mengalir dengan sendirinya; tanpa sebab. Dan tingkat terkekstrimnya, air mata itu mengalir di dalam hati saya. Tidak terlihat oleh siapapun. Hanya diri saya sendiri dan Allah SWT yang mengetahui
ada tangisan dalam hati, ada tangisan dalam diam, ada tangisan yang tersembunyi.
Di penghujung tahun 2015 ini, saya hanya ingin agar harapan itu tetap ada dalam hati saya. Agar harapan itu tetap tinggal dalam hati saya. Meskipun saya sendiri tidak tahu apakah harapan itu benar-benar bisa dan akan terwujud atau hanya akan tertinggal sebagai harapan saja.
Di sudut kota kecil, pulau Sulawesi.
Nirwana Fitria.
Yaa Rabb... Engkau lebih tahu apa yang ada di dalam hatiku
Engkau yang lebih tahu bagaimana hancurnya perasaanku
Menahan gejolak harapan yang begitu tinggi
Harapan yang hanya bisa ku simpan sendiri
Harapan yang menyisakkan secuil luka menganga dalam hatiku
Engkau yang tahu atas apa yang terbaik untuk hidupku
Tunjukkanlah jalan-Mu
Tunjukkanlah Jalan yang terbaik bagiku menurut-Mu
Jika Engkau berkenan mengizinkan agar harapanku itu untuk terwujud
Maka mudahkanlah semuanya
Mudahkanlah jalan agar harapan itu bisa terwujud
hamba hanya manusia biasa yang sangat lemah di hadapan-Mu
hamba hanya manusia yang amat sangat bergantung pada-Mu
Engkaulah dzat yang Maha perkasa
Tiada yang lebih berkuasa selain Engkau duhai Rabb...
Dengarlah sepenggal doa dari seorang hamba yang telah lama
menyimpan harapan indah tentang sebuah masa depan
Perkenankanlah harapan itu
Karena tanpa izin-Mu
semua harapan itu hanya akan tinggal harapan
hanya Engkau yang mampu menolong hamba-Mu yang lemah ini
-------------------------------------
Air mata saya sudah terlalu banyak tertumpah. Bahkan terkadang di saat saya sedang sendiri, air mata saya sering mengalir dengan sendirinya; tanpa sebab. Dan tingkat terkekstrimnya, air mata itu mengalir di dalam hati saya. Tidak terlihat oleh siapapun. Hanya diri saya sendiri dan Allah SWT yang mengetahui
ada tangisan dalam hati, ada tangisan dalam diam, ada tangisan yang tersembunyi.
Di penghujung tahun 2015 ini, saya hanya ingin agar harapan itu tetap ada dalam hati saya. Agar harapan itu tetap tinggal dalam hati saya. Meskipun saya sendiri tidak tahu apakah harapan itu benar-benar bisa dan akan terwujud atau hanya akan tertinggal sebagai harapan saja.
Di sudut kota kecil, pulau Sulawesi.
Nirwana Fitria.
Yaa Rabb... Engkau lebih tahu apa yang ada di dalam hatiku
Engkau yang lebih tahu bagaimana hancurnya perasaanku
Menahan gejolak harapan yang begitu tinggi
Harapan yang hanya bisa ku simpan sendiri
Harapan yang menyisakkan secuil luka menganga dalam hatiku
Engkau yang tahu atas apa yang terbaik untuk hidupku
Tunjukkanlah jalan-Mu
Tunjukkanlah Jalan yang terbaik bagiku menurut-Mu
Jika Engkau berkenan mengizinkan agar harapanku itu untuk terwujud
Maka mudahkanlah semuanya
Mudahkanlah jalan agar harapan itu bisa terwujud
hamba hanya manusia biasa yang sangat lemah di hadapan-Mu
hamba hanya manusia yang amat sangat bergantung pada-Mu
Engkaulah dzat yang Maha perkasa
Tiada yang lebih berkuasa selain Engkau duhai Rabb...
Dengarlah sepenggal doa dari seorang hamba yang telah lama
menyimpan harapan indah tentang sebuah masa depan
Perkenankanlah harapan itu
Karena tanpa izin-Mu
semua harapan itu hanya akan tinggal harapan
hanya Engkau yang mampu menolong hamba-Mu yang lemah ini
-------------------------------------

0 komentar:
Posting Komentar