Dilemma
Sinetron
Oleh:
Nirwana Fitria
![]() |
| Sumber Gambar: Google |
Moment menonton TV adalah
salah satu moment yang sering membuat urat leher menegang. Bagaimana tidak,
jika setiap kali melihat tayangan yang dipilih oleh adik saya adalah sinetron.
Hampir setiap hari adik saya menonton sinetron dengan judul yang sama di salah
satu stasiun TV.
“Tidak ada acara lain kah
yang bisa kamu nonton?” Kalimat itulah yang sering terlontar dari mulut saya
ketika melihat adik sedang menikmati tontonannya.
Tapi sepertinya adik saya
memang tidak peka dengan sindiran yang saya lontarkan. Ia malah tetap asyik
menikmati sinetron tersebut. Dan inilah yang membuat urat leher menegang.
Setiap kali menyuruh adik agar mengganti tayangan tersebut, responnya malah
tidak ada.
Sebenarnya tidak ada yang
salah juga dengan sinetron tersebut, hanya saja menurut saya ada beberapa
dialog dalam sinetron yang terkadang belum saatnya didengar oleh anak seumuran
adik saya. Apalagi ditambah dengan soundtrack lagu pendukung sinetron yang
rata-rata memang bertemakan lagu cinta.
Untuk menghindari
keributan, seringkali saya hanya bisa mengalah. Dan menunggu sampai sinetron
tersebut selesai. Lagipula rasanya lelah juga kalau setiap hari harus berdebat
sampai membuat urat leher tegang hanya karena adik saya tidak mau mendengar
saran saya.
Suatu ketika, saat sedang
berselancar di media sosial, tidak sengaja saya membaca sebuah artikel dari
media online yang isinya membahas tentang maraknya sinetron di Televisi. Di
kolom komentar, saya membaca banyak komentar dari netizen. Salah satu komentar
yang cukup menyentil hati saya adalah:
“Dari Pagi hingga siang
hari di sekolah, aku sudah belajar dengan seabrek materi pelajaran yang lumayan
banyak. Belum lagi ditambah dengan les tambahan di sore hari. Tugas Rumah atau
PR yang diberikan juga cukup banyak. Jadi apa salahnya ketika malam hari kami
sedikit mendapatkan hiburan (nonton) meskipun itu sinetron. Lagipula kan diri
kita sendiri yang harus bisa menyaring mana yang bisa ditiru mana yang tidak.”
Kurang lebih seperti itulah
komentar yang saya baca. Ketika selesai membacanya, saya langsung teringat
dengan adik saya. Dan saat ia sedang nonton, saya pun mencoba menanyakan hal
yang mengganjal dalam fikiran saya. “Dek, memangnya nonton sinetron ini adalah
hiburan yah buat kamu?”
“Iyah,” jawabnya dengan datar
“Kalau misalnya tontonannya
diganti dengan acara yang membahas tentang materi pelajaran, apa kamu setuju?”
“Ya ampun … Dari pagi
sampai siang kepalaku sudah pusing melihat materi pelajaran, masa mau ditambah
lagi,” ucapnya dengan mata yang tetap terfokus pada TV.
Saya pun tidak melanjutkan
percakapan kami. Fikiran saya langsung menerawang entah kemana, hehe. Saya
dibuat dilemma dengan sinetron. Di satu sisi saya sering tidak setuju jika adik
saya menonton sinetron, di sisi lain ternyata bagi adik saya nonton sinetron
adalah bentuk hiburan untuknya.

0 komentar:
Posting Komentar