Kamis, 10 Desember 2015

My Note: Dilemma Sinetron

Dilemma Sinetron
Oleh: Nirwana Fitria
  
Sumber Gambar: Google


Moment menonton TV adalah salah satu moment yang sering membuat urat leher menegang. Bagaimana tidak, jika setiap kali melihat tayangan yang dipilih oleh adik saya adalah sinetron. Hampir setiap hari adik saya menonton sinetron dengan judul yang sama di salah satu stasiun TV.

“Tidak ada acara lain kah yang bisa kamu nonton?” Kalimat itulah yang sering terlontar dari mulut saya ketika melihat adik sedang menikmati tontonannya.

Tapi sepertinya adik saya memang tidak peka dengan sindiran yang saya lontarkan. Ia malah tetap asyik menikmati sinetron tersebut. Dan inilah yang membuat urat leher menegang. Setiap kali menyuruh adik agar mengganti tayangan tersebut, responnya malah tidak ada.


Sebenarnya tidak ada yang salah juga dengan sinetron tersebut, hanya saja menurut saya ada beberapa dialog dalam sinetron yang terkadang belum saatnya didengar oleh anak seumuran adik saya. Apalagi ditambah dengan soundtrack lagu pendukung sinetron yang rata-rata memang bertemakan lagu cinta.

Untuk menghindari keributan, seringkali saya hanya bisa mengalah. Dan menunggu sampai sinetron tersebut selesai. Lagipula rasanya lelah juga kalau setiap hari harus berdebat sampai membuat urat leher tegang hanya karena adik saya tidak mau mendengar saran saya.

Suatu ketika, saat sedang berselancar di media sosial, tidak sengaja saya membaca sebuah artikel dari media online yang isinya membahas tentang maraknya sinetron di Televisi. Di kolom komentar, saya membaca banyak komentar dari netizen. Salah satu komentar yang cukup menyentil hati saya adalah:

“Dari Pagi hingga siang hari di sekolah, aku sudah belajar dengan seabrek materi pelajaran yang lumayan banyak. Belum lagi ditambah dengan les tambahan di sore hari. Tugas Rumah atau PR yang diberikan juga cukup banyak. Jadi apa salahnya ketika malam hari kami sedikit mendapatkan hiburan (nonton) meskipun itu sinetron. Lagipula kan diri kita sendiri yang harus bisa menyaring mana yang bisa ditiru mana yang tidak.”

Kurang lebih seperti itulah komentar yang saya baca. Ketika selesai membacanya, saya langsung teringat dengan adik saya. Dan saat ia sedang nonton, saya pun mencoba menanyakan hal yang mengganjal dalam fikiran saya. “Dek, memangnya nonton sinetron ini adalah hiburan yah buat kamu?”

“Iyah,” jawabnya dengan datar

“Kalau misalnya tontonannya diganti dengan acara yang membahas tentang materi pelajaran, apa kamu setuju?”

“Ya ampun … Dari pagi sampai siang kepalaku sudah pusing melihat materi pelajaran, masa mau ditambah lagi,” ucapnya dengan mata yang tetap terfokus pada TV.

Saya pun tidak melanjutkan percakapan kami. Fikiran saya langsung menerawang entah kemana, hehe. Saya dibuat dilemma dengan sinetron. Di satu sisi saya sering tidak setuju jika adik saya menonton sinetron, di sisi lain ternyata bagi adik saya nonton sinetron adalah bentuk hiburan untuknya.


Share:

0 komentar:

Posting Komentar