Selasa, 08 Desember 2015

My Note: Optimis Itu Perlu

OPTIMIS ITU PERLU
Oleh: Nirwana Fitria

Malam itu aku sedang melamun di depan jendela kamarku. Tiba-tiba Mama datang mengagetkan.
 “Hayoo.. malam-malam mengapa melamun?” Tanya Mama kepadaku                

“Nggak kok Ma, aku hanya penasaran dengan hasil pengumuman juara besok.” Jawabku.

Kemudian Mama memberikan pertanyaan kepadaku tentang seberapa besar keinginanku untuk memperoleh juara? Pertanyaan Mama membuatku tersentak.

(suasana hening)


Tiba-tiba Mama mulai berbicara kembali

“Begini nak, bukannya mama melarang kamu untuk optimis dalam meraih juara, tapi…..”

“Tapi kenapa Ma?” tanyaku dengan wajah penasaran.

“Waktu mama seusia kamu, mama juga pernah sangat mengharapkan juara, saat itu mama sangat giat belajar untuk menghadapi ujian semester. Setiap hari mama tak pernah menyia-nyiakan waktu, jika ada waktu luang mama selalu belajar, belajar dan belajar. Ketika ujian tiba, mama bisa mengerjakan soal-soal yang diberikan. Hari-hari berlalu, mama makin penasaran dengan hasil ujiannya. Setiap malam mama menghayal jika mama lah yang akan menjadi juara. Mama selalu optimis, karena mama sangatoptimis, sampai-sampai mama mempunyai tekad yang sangat kuat. Tibalah hari yang dinantikan, jantung mama berdebar-debar menunggu hasilnya. Ketika diumumkan, ternyata mama memperoleh juara kedua. Mama sangat sedih. Sepulang dari sekolah, mama tak hentinya menangis, nenekmu berusaha menghibur mama. Tapi mama terlajur kecewa.” (Mama berhenti bercerita)

“Loh kok berhenti Ma?” Lanjutkan ceritanya dong Ma,” Aku mengiba pada mama.

“Mama hanya ingin supaya kamu tidak mengalami apa yang pernah mama alami.”

“Maksud Mama apa? aku nggak mengerti.”

“Begini, sebagai manusia wajar jika kita mempunyai rasa optimis, tapi optimis itu harus kita kendalikan dengan baik. Jangan sampai membuat kita terlalu kecewa nantinya. Optimis sangat baik untuk membuat kita percaya akan kemampuan kita, tapi jangan sampai karena rasa optimis yang terlalu tinggi sampai-sampai membuat harapan kita juga terlampau batas alias terlalu tinggi sehingga apabila kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan kita akan sangat kecewa.” Mama menjelaskan dengan sabarnya.

“Oh iyah Ma. Mama benar. Aku harus bisa mengendalikan rasa Optimisku agar tidak menjadi boomerang untuk diriku sendiri nantinya. Terima kasih Mama atas nasehatnya.”
“Iyah nak. Tentu saja mama akan selalu menasehati sesuatu yang baik untuk kebaikanmu.”

----------------

Cerpen di atas adalah cerpen pertama yang saya tulis. Saya menulisnya ketika masih kelas 7 SMP. Jadi, maklum lah kalau masih banyak kesalahan dan kekurangan dalam cerpen tersebut. Entah itu kesalahan penulisan kata, pemilihan kata dsb. Tapi dengan membaca ulang cerpen yang pernah saya tulis, saya jadi punya semangat menulis. Ternyata saya memang bisa, hanya saja terkadang terkendala pada saat ingin menuangkan ide-ide dalam tulisan. Seringkali mentok di tengah cerita. hehehe




Share:

0 komentar:

Posting Komentar