Sabtu, 19 Desember 2015

My Note: Fiksi Mini di Bulan Desember

Kendari, 9 Desember 2015
PMS adalah salah satu moment bagi kaum hawa yang sangat menghancurkan mood, bagaimana tidak ketika sedang mood perasaan jadi sensitive, mudah tersinggung dan jadi malas.

Siang itu sepulang sekolah, Asty langsung terbaring di tempat tidur sambil membaca novel. Dan tiba-tiba ibunya masuk ke kamarnya. “Ty, goreng ikan dulu sana. Nasinya dan sayurnya sudah ada, tinggal ikannya yang belum,” ujar Ibu Asty menyuruh anaknya.

“Aduh Ma, Asty lagi PMS nih,” jawab Asty dengan malas.
“Ya sudah, makan siangnya pakai nasi dan sayur saja yah,” kata Ibunya
“Loh, kenapa Ma?” Tanya Asty dengan wajah heran
“Ikannya lagi PMS,” jawab mama sambil keluar kamar dengan wajah ketus.

-- Pesan Moral: PMS bukanlah alasan untuk tidak beraktifitas. PMS jangan dijadikan alasan untuk bermalas-malasan.


Kamis, 10 Desember 2015

Asty dan Asta adalah 2 orang bersaudara yang jarang sekali akur. Mereka berdua seringkali meributkan hal-hal kecil. Di antara mereka berdua, Asta yang paling tidak mau mengalah dalam hal apapun.

“Ty, kamu kalau beli apa-apa, ingat-ingat aku juga dong!” kata Asta memprotes Asty yang tidak membelikannya belanjaan apapun.
“Memangnya kamu pernah ingat aku kalau lagi beli apa-apa,” Asty menjawab ketus lantas berlalu dari hadapan Asta.


Jumat, 11 Desember 2015

Adik bungsu Asty sudah beberapa hari ini terbaring di tempat tidur karena demam. Semenjak sakit, adik Asty jadi rewel sekali. Dan tidak jarang bangun tengah malam menangis. Ibu Asty pun jadi terganggu tidurnya karena harus bangun mengurus anak bungsunya itu.

“Tuh kan nanti sudah sakit begini baru ingat Ibu. Waktu sehat, kalau dikasih tau jangan main diluar kalau siang hari, kamu tidak mendengar,” ujar Ibu Asty sambil menggendong anak bungsunya.
“Bu, adik kan masih kecil. Mana mengerti dengan ucapan Ibu,” kata Asty yang heran dengan Ibunya.
“Justru itu, kalau sudah besar malah makin susah dikasih tau,” jawab Ibu Asty dengan nada setengah emosi

Asty terdiam sejenak. Berusaha mencerna satu demi satu kata yang diucapkan ibunya.


Sabtu, 12 Desember 2015

“Dingin sekali cuaca di luar,” ucap Asta
“Lebih dingin suasana rumah ini,” jawab Asty
“Maksudnya kak? Rumah ini perasaan memang dingin karena ada kipas angin.” Tanya Asta yang tak mengerti dengan perkataan kakaknya.
“Kamu masih kecil. Nanti kalau sudah besar juga tahu sendiri,” kata Asty dengan wajah ketus.

Asta pun mencoba mencerna maksud perkataan kakaknya. Bahkan saat makan siang ia masih terus teringat dengan perkataan kakaknya. Hingga tanpa ia sadari, hampir setiap pulang sekolah ia selalu makan siang sendirian.


Minggu, 13 Desember 2015

“Kasihan yah Tante Sita. Ditinggalkan oleh suaminya. Apa suaminya tidak memikirkan perasaan dan nasib anak-anaknya yah?” Tanya Asta pada Asty.
“Tidak usah jauh-jauh mencari jawaban. Tanyakan saja pada ayah. Ayah tidak jauh berbeda kan dengan suami tante Sita,” jawab Asty dengan wajah penuh arti.

Mendengar jawaban Asty, Asta hanya bisa terdiam. Kenangan buruk tentang Ayah mereka seolah kembali muncul menghujam hatinya.


Senin, 14 Desember 2015

“Apakah cinta yang sempurna hanya milik mereka yang fisiknya sempurna juga?”
“Sepertinya tidak”
“Darimana kau tahu. Bukankah pada kenyataanya memang begitu?”
“Bukankah embun tak perlu warna untuk membuat daun jatuh cinta? Apakah seseorang harus memiliki fisik yang sempurna dulu, baru kemudian bisa dicintai atau memiliki cinta yang sempurna?”
“Itu kan embun dan daun…. Manusia beda kali…”
“hahaha… Itukan menurutmu. Bisa saja ada yang sama dan meniru embun dan daun”


Selasa, 15 Desember 2015

“Asty terima  kasih yah,”
“Terima kasih untuk apa?”
“Untuk nasehat-nasehatmu, sekarang aku jadi lebih semangat meskipun sedang ada masalah.”
“Oh iyah.”
‘Aku mampu membuat temanku bersemangat kembali, sedangkan diriku masih terjebak dalam kesedihan mendalam.’ Batin Asty


Share:

0 komentar:

Posting Komentar