Senin, 07 Desember 2015

My Note: 1 Desember


Sumber gambar: Google


Hari AIDS Sedunia yang jatuh pada tanggal 1 Desember diperingati untuk menumbuhkan kesadaran terhadap wabah AIDS di seluruh dunia yang disebabkan oleh penyebaran virus HIV.
Konsep ini digagas pada Pertemuan Menteri Kesehatan Sedunia mengenai Program-program untuk Pencegahan AIDS pada tahun 1988. Sejak saat itu, ia mulai diperingati oleh pihak pemerintah, organisasi internasional dan yayasan amal di seluruh dunia. (Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas)
 
Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 1 Desember 2015 diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia. Dan jujur saja saya agak ngeri mendengar kata HIV ataupun AIDS. Karena penyakit/virus tersebut merupakan salah satu penyakit mematikan yang sampai sekarang belum ada obatnya. Dari salah satu stasiun TV swasta yang rutin mengadakan kajian islami yang membahas isu-isu terkini yang sedang terjadi dan membahasnya dengan sudut pandang keagamaan, khususnya agama islam. Salah satu penceramah dalam acara tersebut yang saya tidak sempat mencatat namanya siapa mengatakan bahwa Penderita HIV/AIDS di Indonesia melesat cukup signifikan dari tahun ke tahun.

Dan kondisi ini tentu saja berbahaya sekali. Dan yang lebih miris lagi, adanya fakta bahwa yang terserang virus HIV ini bukan hanya sebatas dari kalangan psk, pengguna narkoba dyang memang rentan sekali terkena virus ini. Melainkan sudah meluas sampai kepada kalangan ibu-ibu rumah tangga. Naudzubillahimindzalik. Ibu-ibu rumah tangga yang sehari-harinya hanya bergelut dengan urusan rumah dan mengurus anak-anak harus menerima kenyataan bahwa mereka adalah bagian yang tidak bisa lepas dari baying-bayang mematikan bernama HIV/AIDS ini. 

Penceramah juga menjelaskan penularan HIV/AIDS memang hanya bisa menular melalui hubungan seksual, penggunaan jarum suntik narkoba secara bergantian. Jadi kemungkinan besar, Ibu rumah tangga bisa tertular penyakit tersebut dari suami mereka yang bisa jadi pernah melakukan hubungan seksual dengan orang lain yang memang sudah terinfeksi virus tersebut. Ini sungguh bencana yang amat mengerikan menimpa negeri ini dan bahkan dunia. 
Dari sisi agama, penceramah mengingatkan tentang kisah Nabi Luth as yang ditimpakan musibah besar oleh Allah SWT karena ada sebagian kaum di zaman Nabi Luth yang melakukan penyimpangan seksual, yaitu menyukai sesame jenis atau biasa disebut Homoseksual. Maka Allah SWT memberikan musibah besar kala itu dengan menurunkan hujan batu yang menghancurkan semua yang durhaka terhadap nasehat yang disampaikan oleh Nabi Luth kala itu. Dan bisa jadi, penyakit atau virus HIV/AIDS yang saat ini sedang melanda negeri dan dunia ini adalah musibah yang diturunkan oleh Allah SWT agar kita sebagai manusia melakukan refleksi diri dan menerungi segala perbuatan kita di dunia ini. Walllahu’alam. 

-------------------------- 

Berbicara mengenai Hari AIDS Sedunia. Jadi teringat dengan salah satu Film yang memberikan pesan-pesan moral di dalamnya. Film tersebut berjudul “Mika” dan di dalam film tersebut memang menceritakan tentang salah seorang ODHA (sebutan untuk penderita AIDS). Pesan moral yang saya maksudkan adalah bahwa dalam film tersebut secara tidak langsung mengajak kepada yang nonton bahwa ODHA bukan untuk dijauhi atau dikucilkan. Karena penularan HIV/AIDS tidak bisa hanya dengan bersentuhan atau berdekatan dengan si penderita. Masih terlalu banyak stigma negative yang melekat di masyarakat tentang ODHA. 


Sumber Gambar: Google


Dan berikut adalah siniopsis Film Mika yang saya copy dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas   https://id.wikipedia.org/wiki/Mika_%28film%29

Sinopsis



Sumber Gambar: Google


Indi (Velove Vexia) adalah seorang gadis periang yang dunianya berubah total saat ia didiagnosa mengidap penyakit scoliosis ketika di bangku SMP. Karena kondisi kesehatannya ini, dia harus mengenakan besi penyangga tubuh (brace) selama 23 jam setiap hari. Sebelum masuk SMA dia berlibur ke Jakarta, dan di sinilah Indi berkenalan dengan Mika (Vino G. Bastian) lewat sebuah pertemuan tak terduga. Mereka lalu menjadi teman dekat. Mika yang cuek, seru, berani, dan selalu memandang hidup dengan santai dan positif perlahan bisa membantu Indi untuk kembali jadi gadis periang dan berani untuk melawan penyakitnya. Mika selalu punya cara untuk membuat Indi merasa bahagia di tengah siksaan penyakit yang diidapnya.

Indi menutupi hubungannya dengan Mika dari Ibunya (Donna Harun) karena dia tahu ibunya tidak suka dengan Mika yang jauh lebih tua dan bertato. Ketika hubungan mereka semakin dekat, Mika mengungkapkan satu rahasia tentang dirinya: Ia mengidap penyakit AIDS.

Masalah mulai berdatangan ketika kondisi Mika yang semakin lemah dan masa lalunya mulai terungkap. Bapak Indi (Iszur Muchtar) dan Ibu dan teman-teman Indi mulai mengetahui soal Mika dan masa lalunya. Tetapi mereka tidak tahu hal-hal indah yang telah dilakukan Mika untuk Indi. Setelah kematian sahabatnya (Framly Nainggolan), Mika mundur dan meninggalkan Indi dengan penuh pertanyaan. Mika tahu waktunya telah dekat dan tidak mau Indi nanti merasa lebih sakit. Dibalik kesedihan Indi setelah ditinggal Mika, dia tahu bahwa Mika justru membuatnya semakin hidup dan berusaha untuk mengalahkan kondisi kesehatannya. [1]

Share:

0 komentar:

Posting Komentar