Hari AIDS Sedunia yang jatuh pada
tanggal 1 Desember diperingati untuk menumbuhkan
kesadaran terhadap wabah AIDS di seluruh dunia yang
disebabkan oleh penyebaran virus HIV.
Konsep ini digagas pada Pertemuan
Menteri Kesehatan Sedunia mengenai Program-program untuk Pencegahan AIDS pada
tahun 1988. Sejak saat itu, ia mulai diperingati oleh
pihak pemerintah, organisasi internasional dan yayasan amal di seluruh dunia.
(Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas)
Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal
1 Desember 2015 diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia. Dan jujur saja saya agak
ngeri mendengar kata HIV ataupun AIDS. Karena penyakit/virus tersebut merupakan
salah satu penyakit mematikan yang sampai sekarang belum ada obatnya. Dari
salah satu stasiun TV swasta yang rutin mengadakan kajian islami yang membahas
isu-isu terkini yang sedang terjadi dan membahasnya dengan sudut pandang
keagamaan, khususnya agama islam. Salah satu penceramah dalam acara tersebut
yang saya tidak sempat mencatat namanya siapa mengatakan bahwa Penderita
HIV/AIDS di Indonesia melesat cukup signifikan dari tahun ke tahun.
Dan kondisi ini tentu saja berbahaya
sekali. Dan yang lebih miris lagi, adanya fakta bahwa yang terserang virus HIV ini
bukan hanya sebatas dari kalangan psk, pengguna narkoba dyang memang rentan
sekali terkena virus ini. Melainkan sudah meluas sampai kepada kalangan ibu-ibu
rumah tangga. Naudzubillahimindzalik. Ibu-ibu rumah tangga yang sehari-harinya
hanya bergelut dengan urusan rumah dan mengurus anak-anak harus menerima
kenyataan bahwa mereka adalah bagian yang tidak bisa lepas dari baying-bayang
mematikan bernama HIV/AIDS ini.
Penceramah juga menjelaskan penularan
HIV/AIDS memang hanya bisa menular melalui hubungan seksual, penggunaan jarum
suntik narkoba secara bergantian. Jadi kemungkinan besar, Ibu rumah tangga bisa
tertular penyakit tersebut dari suami mereka yang bisa jadi pernah melakukan
hubungan seksual dengan orang lain yang memang sudah terinfeksi virus tersebut.
Ini sungguh bencana yang amat mengerikan menimpa negeri ini dan bahkan
dunia.
Dari sisi agama, penceramah
mengingatkan tentang kisah Nabi Luth as yang ditimpakan musibah besar oleh
Allah SWT karena ada sebagian kaum di zaman Nabi Luth yang melakukan
penyimpangan seksual, yaitu menyukai sesame jenis atau biasa disebut
Homoseksual. Maka Allah SWT memberikan musibah besar kala itu dengan menurunkan
hujan batu yang menghancurkan semua yang durhaka terhadap nasehat yang
disampaikan oleh Nabi Luth kala itu. Dan bisa jadi, penyakit atau virus
HIV/AIDS yang saat ini sedang melanda negeri dan dunia ini adalah musibah yang
diturunkan oleh Allah SWT agar kita sebagai manusia melakukan refleksi diri dan
menerungi segala perbuatan kita di dunia ini. Walllahu’alam.
--------------------------
Berbicara mengenai Hari AIDS Sedunia.
Jadi teringat dengan salah satu Film yang memberikan pesan-pesan moral di
dalamnya. Film tersebut berjudul “Mika” dan di dalam film tersebut memang
menceritakan tentang salah seorang ODHA (sebutan untuk penderita AIDS). Pesan
moral yang saya maksudkan adalah bahwa dalam film tersebut secara tidak
langsung mengajak kepada yang nonton bahwa ODHA bukan untuk dijauhi atau
dikucilkan. Karena penularan HIV/AIDS tidak bisa hanya dengan bersentuhan atau
berdekatan dengan si penderita. Masih terlalu banyak stigma negative yang
melekat di masyarakat tentang ODHA.
Dan
berikut adalah siniopsis Film Mika yang saya copy dari Wikipedia bahasa
Indonesia, ensiklopedia bebas https://id.wikipedia.org/wiki/Mika_%28film%29
Sinopsis
Indi (Velove Vexia) adalah seorang gadis periang yang
dunianya berubah total saat ia didiagnosa mengidap penyakit scoliosis ketika di
bangku SMP. Karena kondisi kesehatannya ini, dia harus mengenakan besi
penyangga tubuh (brace) selama 23 jam setiap hari. Sebelum masuk SMA dia
berlibur ke Jakarta, dan di sinilah Indi berkenalan dengan Mika (Vino G.
Bastian) lewat sebuah pertemuan tak terduga. Mereka lalu menjadi teman dekat.
Mika yang cuek, seru, berani, dan selalu memandang hidup dengan santai dan
positif perlahan bisa membantu Indi untuk kembali jadi gadis periang dan berani
untuk melawan penyakitnya. Mika selalu punya cara untuk membuat Indi merasa
bahagia di tengah siksaan penyakit yang diidapnya.
Indi menutupi hubungannya dengan Mika dari Ibunya
(Donna Harun) karena dia tahu ibunya tidak suka dengan Mika yang jauh lebih tua
dan bertato. Ketika hubungan mereka semakin dekat, Mika mengungkapkan satu
rahasia tentang dirinya: Ia mengidap penyakit AIDS.
Masalah mulai berdatangan ketika kondisi Mika yang
semakin lemah dan masa lalunya mulai terungkap. Bapak Indi (Iszur Muchtar) dan
Ibu dan teman-teman Indi mulai mengetahui soal Mika dan masa lalunya. Tetapi
mereka tidak tahu hal-hal indah yang telah dilakukan Mika untuk Indi. Setelah
kematian sahabatnya (Framly Nainggolan), Mika mundur dan meninggalkan Indi
dengan penuh pertanyaan. Mika tahu waktunya telah dekat dan tidak mau Indi
nanti merasa lebih sakit. Dibalik kesedihan Indi setelah ditinggal Mika, dia
tahu bahwa Mika justru membuatnya semakin hidup dan berusaha untuk mengalahkan
kondisi kesehatannya. [1]



0 komentar:
Posting Komentar