Indahnya
Kesederhanaan
Oleh: Nirwana Fitria
Oleh: Nirwana Fitria
Hari ini kelas sedang heboh
membicarakan pesta ulang tahun yang akan di adakan oleh Wulan, salah satu siswi
yang cukup populer di sekolah. Seisi kelas dapat undangan, termasuk aku.
Padahal Wulan berbeda kelas denganku. Jadi bisa dipastikan bahwa yang ia undang
bukan hanya teman sekelasnya, melainkan dengan kelas-kelas lain.
Aku hanya menyimak obrolan beberapa
teman yang tersebar jadi beberapa bagian. Ada yang di sudut ruangan kelas, di
depan papan tulis, di depan pintu kelas dan bahkan di bangku sebelah tempatku
duduk.
Aku bukan tidak berminat dengan acara
ulang tahun Wulan, hanya saja aku bosan mendengar obrolan para makhluk-makhluk
bernama cewek. Iyah cewek, hehehe. Padahal aku sendiri juga seorang cewek.
“Kalian nanti temani aku ke Mall yah.”
Ifa yang baru saja masuk ke kelas langsung membuka obrolan dengan pertanyaan
yang entah mengapa bikin telingaku terganggu.
Aku sebenarnya sudah tidak heran lagi,
jika temanku Ifa bertanya seperti itu. Karena memang dialah yang paling sering
mengajak untuk pergi ke Mall. Aku bahkan sudah sering mengingatkannya untuk
tidak terlalu memboroskan uangnya. Hanya saja, hobi berbelanjanya itu
sepertinya masih sulit dihilangkan. Apalagi ketika ia sudah mencari berbagai
alasan sebagai pembenaran atas hobinya itu.
“Mau beli baju lagi, fa?” Tanyaku
padanya
“Iyalah Na, masa mau beli ikan.
Hehehe.” Jawabnya dengan nada bercanda
“Ayo… ayo… Kapan, Fa? Aku juga sekalian
mau beli farfum dan sepatu nih.” Tiara ikut menyetujui ajakan Ifa bahkan dengan
sangat semangat. Saking semangatnya ia sampai langsung mengabaikan game COC
yang sedang ia mainkan dari tadi.
“Kalau bisa sebentar sore saja. Kan
ulang tahunnya Wulan Lusa, jadi kita mesti secepatnya berburu baju dan
aksesoris baru.” Ifa menjawab pertanyaan Tiara dengan semangat yang tak kalah
dengan semangatnya Tiara.
Kedua temanku ini memang suka sekali
dengan penampilan yang modis. Mereka bahkan tidak sungkan-sungkan mengeluarkan
uang yang jumlahnya besar menurutku, hanya untuk membeli beberapa potong baju
dan sepasang sepatu plus aksesoris cewek lainnya. Sebenarnya sih tidak salah,
tapi aku kadang risih sendiri melihat mereka yang jadi terlihat berlebihan.
“Kalau kamu Na, pasti ikut juga kan?”
Ifa memastikan keikutsertaanku
Aku yang masih termenung, langsung
terkejut dengan pertanyaan Ifa.
“Hmm… Sepertinya aku tidak ikut deh.”
Jawabku dengan datar
“Loh. Kenapa memangnya?” Tiara langsung
bertanya dengan keheranan
“Bukannya minggu lalu kita baru saja
pergi ke Mall yah? Bahkan kalian beli beberapa baju, sepatu, dan lengkap dengan
segala pernak-perniknya. Apa itu tidak cukup? Kan masih bisa dipakai untuk ke
acaranya Wulan.” Jawabku dengan sedikit penjelasan
“Yah beda lah, Nana. Untuk cantik itu
kita mesti pakai baju baru, sepatu baru, aksesoris yang lucu-lucu. Yah supaya
penampilan kita juga modis dan kekinian lah.” Kata Ifa dengan nada suara yang
agak tinggi
“Iyah, Na. Lagipula masa ke acara ulang
tahun teman sepopuler Wulan, kita tidak pakai baju baru sih. Bisa-bisa kita
ditertawai sama teman-teman yang lain. Kamu tahu kan persaingan dalam hal
penampilan di jurusan kita itu seperti apa.” Kata Tiara dengan nada suara yang
tak kalah tingginya dengan Ifa.
Aku pun menarik nafas sejenak. Mencoba
memahami jalan fikiran kedua temanku ini. Sepertinya jalan fikiranku memang
bertolak belakang dengan mereka.
“Maaf yah. Aku kurang setuju dengan
kalian. Memangnya untuk tampil cantik itu harus dengan baju atau sepatu yang
selalu baru yah? Bukankah berpakaian yang rapi dan bersih itu sudah cukup.
Lagipula tidak ada persyaratan kan, untuk datang ke acara ulang tahunnya Wulan
mesti pakai baju dan sepatu yang baru.” Aku mencoba menjelaskan pada mereka
berdua.
“Tapi penampilan modis itu perlu, Na.
Masa mau ke acara ulang tahun kita harus berpakaian seadanya sih. Terus kalau
tidak beli baju baru, memangnya kamu mau pakai baju apa?” Ifa kembali
menyerangku dengan pertanyaannya.
Di antara mereka berdua, aku memang
paling jarang beli baju baru. Kalau pun diajak pergi ke Mall, aku hanya ikut
dan membeli apa yang ku butuhkan dan tentu saja dengan menyesuaikan isi
kantongku.
“Kan aku bisa pakai baju yang aku pakai
waktu acaranya Bu Indah minggu lalu. Baju warna biru plus rok hitam dan
tentunya hijab warna biru juga. Itu kan masih bagus semua, lagipula aku baru
pakai sekali.” Aku menjawab pertanyaan Ifa dengan senyuman.
Obrolan kami terhenti ketika salah
seorang teman yang tidak asing lagi datang menghampiri kami bertiga. Dan dia
sepertinya sudah tau apa isi obrolan kami.
“Aduh kalian bertiga juga di undang
yah? Saran aku, kalian tidak usah datang lah. Bikin malu saja. Pasti penampilan
kalian sangat jauh dari kata modis alias Jadul sekali. Hehehe.” Ucap Dian
sambil tertawa penuh penghinaan.
Ifa hanya menatap Dian dengan tatapan
tajam seperti harimau yang hendak menerkam musuhnya. Dan Tiara pun tak kalah
tajam menatap Dian. Aku langsung menahan lengan Tiara yang ingin membalas
ucapan Dian.
Aku sudah tahu sifat Dian seperti itu.
Makanya aku sudah tidak kaget lagi. Waktu kelas X, aku sekelas dengan Dian.
Sedangkan Ifa dan Tiara memang berbeda kelas denganku. Wajar saja kalau kedua
temanku ini masih terbawa emosi dan terpancing dengan omongan Dian. Karena
sudah tau sifat Dian, aku pun tidak terlalu menanggapinya dan bahkan berusaha
menahan Tiara yang hampir saja menanggapi omongannya Dian. Aku tahu Dian akan
senang jika kami sampai emosi dan menanggapi omongannya yang terkesan sangat
merendahkan itu. Jadi peduli amat lah dengan omongannya. Aku hanya menutup
telinga dan mengusap dada agar sabar.
Bel pertanda istirahat telah selesai
pun berbunyi. Dan tanpa disuruh, Dian langsung keluar dari kelas kami dengan
senyuman dan tatapan yang terlihat begitu merendahkan aku, Ifa dan juga Tiara.
“Tidak usah ditanggapi lah omongan sih
Dian itu. Apalagi sampai terbawa emosi. Tidak ada gunanya.” Aku mengingatkan
Ifa dan Tiara yang keliatannya masih emosi dengan Dian.
“Tapi dia sudah merendahkan kita, Na.
Liat saja nanti di acaranya Wulan, kita akan tampil se-modis mungkin.” Kata
Tiara dengan aura penuh keinginan balas dendam.
“Jadi kita bertiga harus jadi pergi ke
Mall sebentar sore. Kamu juga Na, pokoknya tidak ada alasan. Aku dan Tiara akan
jemput kamu.” Ifa pun aura balas dendamnya begitu nyata.
Seperti biasa, aku hanya bisa
mengiyakan ajakan mereka. Meskipun sebenarnya aku terpaksa. Tapi ya sudahlah.
….. Sore Harinya…..
Setelah keliling beberapa tempat, Tiara belum juga menemukan sepatu yang sesuai dengan keinginannya. Padahal di tempat yang tadi sudah ada yang cocok, hanya saja dia tidak jadi membelinya hanya karena hiasan sepatu itu kurang modis menurutnya. Lagi-lagi aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat ulah temanku ini.
Lain Tiara, lain pula Ifa. Ifa yang
sudah mengantongi beberapa potong baju, masih juga belum puas. Dan masih
semangat berputar-putar mengelilingi Mall dengan satu tujuan; mencari baju
terbaik yang paling modis dan kekinian. Sedangkan aku, hanya beli 1 pasang
sepatu berwarna hitam. Karena kebetulan sepatuku memang sudah sobek bagian
alasnya. Dan ketika aku memilih sepatu itu. Ifa dan Tiara memprotes seleraku
dengan lantangnya. Mereka berpendapat bahwa seleraku sangat tidak modis dan
ketinggalan zaman. Yah itulah mereka.
Sambil menunggu Ifa yang sedang memilih
baju di salah satu toko. Aku dan Tiara duduk di bangku dekat toko tersebut.
Melihat ada penjual es jeruk lewat, kami pun tidak melewatkan kesempatan untuk
menghilangkan dahaga di tenggorokan.
Ketika sedang menikmati sebungkus es
jeruk, mata dan telingaku pun tertuju pada seorang ibu yang tampaknya sedang
menawar baju yang ia pegang.
“100 ribu saja yah mbak. Uang saya Cuma
segitu.” Kata si Ibu
“Yah modalnya tidak sampai, Bu. 120
yah?” kata si mbak yang jual baju
“Tapi uang saya adanya Cuma 100 ribu.
Ini pun saya kumpul-kumpul dari keuntungan dagangan kue saya mbak.”
“Begitu yah bu. Memangnya bajunya untuk
siapa sih?”
“Untuk anak saya. Sudah lama dia minta
baju seperti ini. Tapi setiap ada uang, uangnya di pakai untuk beli beras.
Untung anak saja sabar. Tapi sebagai ibu saya tahu kalau dia sangat ingin baju
ini.”
Si mbak yang tadinya masih bertahan
dengan harga yang ia tawarkan. Memperhatikan raut wajah ibu itu yang memang
sangat lusuh dan terlihat begitu lelah. Di tangannya juga masih ada keranjang
kue jualannya. Mungkin karena si mbak itu tersentuh hatinya, ia pun memberikan
baju itu dengan harga sesuai yang ditawar oleh ibu itu.
“Ya sudah kalau begitu. 100 ribu saja
bu. Saya bungkus yah bajunya.”
“ Alhamdulillah makasih yah mbak.
Semoga rejekinya bertambah.” Kata si ibu sambil tersenyum penuh syukur.
Aku dan Tiara yang melihat sekaligus
mendengar percakapan antara mbak dan ibu itu pun langsung hanyut dalam lamunan
masing-masing. Hingga tanpa sadar, ternyata Ifa sudah selesai membeli baju.
“Hei, kalian berdua kok melamun?” Ifa
membuyarkan lamunan kami
“Kamu sudah selesai beli bajunya, Fa?”
Tiara langsung bertanya pada Ifa
“Iyah nih sudah. Sebenarnya sih belum
cukup. Tapi uangku sudah habis. Hehehe.”
“Oh yah. Tadi sudah kedengaran adzan
Ashar nih, sebelum pulang kita sholat dulu yah. Di samping Mall ada Masjid
kan?” Aku mengajak kedua temanku itu untuk Sholat Ashar.
…..Di Musholah…..
Kami bertiga sholat Ashar. Dan setelah
sholat, Tiara tiba-tiba saja menahan lengan Ifa yang hendak berdiri. Aku pun
kaget melihat Tiara. Sejak tadi memang raut wajahnya sedikit berbeda. Padahal
biasanya dia yang paling ceria di antara kami bertiga.
“Kenapa, Ra?” Tanya Ifa
“Fa, tadi aku sama Nana liat seorang
ibu yang beli baju untuk anaknya. Dan kamu tahu, uang yang ibu itu pakai untuk
beli baju itu adalah keuntungan jualan kue yang ia kumpul-kumpul. Aku merasa
tertampar. Uang 100 ribu dengan mudahnya kita pakai untuk beli baju, sepatu
bahkan aksesoris yang kadang tidak terlalu kita butuhkan. Aku malu sama diriku
sendiri.” Jawab Tiara dengan jawaban yang cukup menyentak hatiku.
“Apa benar yang dibilang sama Tiara,
Na?” Tanya Ifa padaku
“Iyah, fa. Aku dan Tiara memang melihat
dan mendengar sendiri ibu tadi menawar baju yang ingin ia belikan untuk anaknya.”
Aku pun mencoba menjelaskan pada Ifa
Ifa tidak berkata sepatah kata pun. Ia
hanya diam. Aku dan Tiara pun bergegas merapikan kembali mukenah yang habis
kami gunakan. Kami bertiga pun menuju tempat parkiran. Dan ketika melihat
tukang parkir, Ifa pun langsung membuka tasnya dan mengambil dompet. Tapi
ternyata tak ada sepeser pun uang dalam dompetnya. Aku yang melihat hal itu,
langsung mengambil uang dari dalam dompetku dan membayarkan kepada tukang
parkir. Aku tahu kalau uang Ifa pasti habis ketika berbelanja di Mall tadi.
Begitupun dengan Tiara.
Kami pun langsung pulang.
Kami pun langsung pulang.
…..Di Acara Ulang
Tahun Wulan…..
Ifa dan Tiara sudah sampai di rumah Wulan lebih dulu. Mereka sebenarnya mau menjemputku, hanya saja tadi aku harus melaksanakan salah satu kewajibanku di rumah, yaitu cuci piring. Hehehe
Pada saat tiba di rumah Wulan, aku pun
langsung mencari Ifa dan Tiara. Pada saat melihat mereka, aku kaget. Karena
penampilan mereka sangat sederhana. Aku jadi heran, karena sebelumnya mereka
yang paling semangat pergi ke Mall untuk membeli baju, sepatu dan aksesoris
kekinian agar bisa tampil modis.
“Nana, Sini gabung sama kita.” Ifa dan
Tiara terlihat melambaikan tangan sambil memanggil namaku. Aku pun langsung
menuju ke arah mereka berdua
“Kemana nih tampilan modisnya Ifa dan
Tiara. Katanya kemarin mau tampil se-modis mungkin di depan teman-teman.”
Kataku sambil menyindir mereka berdua.
“Hehe. Sederhana lebih nyaman, Na. Aku
dan Tiara sudah sepakat untuk ke acara ini dengan penampilan yang sederhana
saja.” Kata Ifa sambil tersenyum
“Gitu dong. Itu baru temannya Nana.
Lagipula si Wulan tidak mempersoalkan penampilan kan. Tuh buktinya dia
senyum-senyum saja melihat kedatangan kita. Dan apa bedanya juga dengan
teman-teman yang lain? Tidak ada kan. Karena pada dasarnya kita semua sama di
mata Allah. Penilaian dan pujian manusia itu kadang justru menyesatkan.” Aku
berkata sambil meniru gaya salah satu ustadzah favoriteku
Dian juga ada di antara para undangan
yang datang. Dia sempat melirik ke arah kami. Masih dengan tatapan merendahkan
seperti waktu di kelas. Ifa dan Tiara pun mulai bisa mengendalikan emosi
mereka. Ada beberapa kemajuan postif dalam diri kedua temanku itu. Mereka pun
tidak lagi memperdulikan tatapan merendahkan Dian.
Kesederhanaan
itu bukan berarti tidak bisa membuat kita terlihat cantik. Kesederhanaan justru
adalah salah satu cara menghargai apa yang kita punya; tidak tampil berlebihan.
Dengan penampilan yang sederhana pun kita juga bisa terlihat cantik kok. Dalam
Tausiyah yang sering ku dengarkan, tak pernah disebutkan bahwa cewek atau
wanita cantik itu harus yang berpenampilan Modis, Gaul, kekinian atau apalah.
Karena pada dasarnya kecantikan wanita itu bukan hanya pada penampilan
fisiknya, melainkan kecantikan yang tidak terlihat dan bahkan sering
terabaikan; kecantikan dari dalam.
----- BIODATA PENULIS
-----
Nama
Lengkap :
Nirwana Fitria
E-mail
: NirwanaFitriaCH@yahoo.com
0 komentar:
Posting Komentar