Selasa, 29 Desember 2015

[Event 12] Sayembara Kun Anta

Indahnya Kesederhanaan
Oleh: Nirwana Fitria
Hari ini kelas sedang heboh membicarakan pesta ulang tahun yang akan di adakan oleh Wulan, salah satu siswi yang cukup populer di sekolah. Seisi kelas dapat undangan, termasuk aku. Padahal Wulan berbeda kelas denganku. Jadi bisa dipastikan bahwa yang ia undang bukan hanya teman sekelasnya, melainkan dengan kelas-kelas lain. 

Aku hanya menyimak obrolan beberapa teman yang tersebar jadi beberapa bagian. Ada yang di sudut ruangan kelas, di depan papan tulis, di depan pintu kelas dan bahkan di bangku sebelah tempatku duduk.
Aku bukan tidak berminat dengan acara ulang tahun Wulan, hanya saja aku bosan mendengar obrolan para makhluk-makhluk bernama cewek. Iyah cewek, hehehe. Padahal aku sendiri juga seorang cewek.

“Kalian nanti temani aku ke Mall yah.” Ifa yang baru saja masuk ke kelas langsung membuka obrolan dengan pertanyaan yang entah mengapa bikin telingaku terganggu.


Aku sebenarnya sudah tidak heran lagi, jika temanku Ifa bertanya seperti itu. Karena memang dialah yang paling sering mengajak untuk pergi ke Mall. Aku bahkan sudah sering mengingatkannya untuk tidak terlalu memboroskan uangnya. Hanya saja, hobi berbelanjanya itu sepertinya masih sulit dihilangkan. Apalagi ketika ia sudah mencari berbagai alasan sebagai pembenaran atas hobinya itu.

“Mau beli baju lagi, fa?” Tanyaku padanya

“Iyalah Na, masa mau beli ikan. Hehehe.” Jawabnya dengan nada bercanda

“Ayo… ayo… Kapan, Fa? Aku juga sekalian mau beli farfum dan sepatu nih.” Tiara ikut menyetujui ajakan Ifa bahkan dengan sangat semangat. Saking semangatnya ia sampai langsung mengabaikan game COC yang sedang ia mainkan dari tadi.

“Kalau bisa sebentar sore saja. Kan ulang tahunnya Wulan Lusa, jadi kita mesti secepatnya berburu baju dan aksesoris baru.” Ifa menjawab pertanyaan Tiara dengan semangat yang tak kalah dengan semangatnya Tiara.

Kedua temanku ini memang suka sekali dengan penampilan yang modis. Mereka bahkan tidak sungkan-sungkan mengeluarkan uang yang jumlahnya besar menurutku, hanya untuk membeli beberapa potong baju dan sepasang sepatu plus aksesoris cewek lainnya. Sebenarnya sih tidak salah, tapi aku kadang risih sendiri melihat mereka yang jadi terlihat berlebihan.

“Kalau kamu Na, pasti ikut juga kan?” Ifa memastikan keikutsertaanku
Aku yang masih termenung, langsung terkejut dengan pertanyaan Ifa.

“Hmm… Sepertinya aku tidak ikut deh.” Jawabku dengan datar

“Loh. Kenapa memangnya?” Tiara langsung bertanya dengan keheranan

“Bukannya minggu lalu kita baru saja pergi ke Mall yah? Bahkan kalian beli beberapa baju, sepatu, dan lengkap dengan segala pernak-perniknya. Apa itu tidak cukup? Kan masih bisa dipakai untuk ke acaranya Wulan.” Jawabku dengan sedikit penjelasan

“Yah beda lah, Nana. Untuk cantik itu kita mesti pakai baju baru, sepatu baru, aksesoris yang lucu-lucu. Yah supaya penampilan kita juga modis dan kekinian lah.” Kata Ifa dengan nada suara yang agak tinggi

“Iyah, Na. Lagipula masa ke acara ulang tahun teman sepopuler Wulan, kita tidak pakai baju baru sih. Bisa-bisa kita ditertawai sama teman-teman yang lain. Kamu tahu kan persaingan dalam hal penampilan di jurusan kita itu seperti apa.” Kata Tiara dengan nada suara yang tak kalah tingginya dengan Ifa.

Aku pun menarik nafas sejenak. Mencoba memahami jalan fikiran kedua temanku ini. Sepertinya jalan fikiranku memang bertolak belakang dengan mereka.

“Maaf yah. Aku kurang setuju dengan kalian. Memangnya untuk tampil cantik itu harus dengan baju atau sepatu yang selalu baru yah? Bukankah berpakaian yang rapi dan bersih itu sudah cukup. Lagipula tidak ada persyaratan kan, untuk datang ke acara ulang tahunnya Wulan mesti pakai baju dan sepatu yang baru.” Aku mencoba menjelaskan pada mereka berdua.

“Tapi penampilan modis itu perlu, Na. Masa mau ke acara ulang tahun kita harus berpakaian seadanya sih. Terus kalau tidak beli baju baru, memangnya kamu mau pakai baju apa?” Ifa kembali menyerangku dengan pertanyaannya.
Di antara mereka berdua, aku memang paling jarang beli baju baru. Kalau pun diajak pergi ke Mall, aku hanya ikut dan membeli apa yang ku butuhkan dan tentu saja dengan menyesuaikan isi kantongku.

“Kan aku bisa pakai baju yang aku pakai waktu acaranya Bu Indah minggu lalu. Baju warna biru plus rok hitam dan tentunya hijab warna biru juga. Itu kan masih bagus semua, lagipula aku baru pakai sekali.” Aku menjawab pertanyaan Ifa dengan senyuman.

Obrolan kami terhenti ketika salah seorang teman yang tidak asing lagi datang menghampiri kami bertiga. Dan dia sepertinya sudah tau apa isi obrolan kami. 

“Aduh kalian bertiga juga di undang yah? Saran aku, kalian tidak usah datang lah. Bikin malu saja. Pasti penampilan kalian sangat jauh dari kata modis alias Jadul sekali. Hehehe.” Ucap Dian sambil tertawa penuh penghinaan.

Ifa hanya menatap Dian dengan tatapan tajam seperti harimau yang hendak menerkam musuhnya. Dan Tiara pun tak kalah tajam menatap Dian. Aku langsung menahan lengan Tiara yang ingin membalas ucapan Dian.

Aku sudah tahu sifat Dian seperti itu. Makanya aku sudah tidak kaget lagi. Waktu kelas X, aku sekelas dengan Dian. Sedangkan Ifa dan Tiara memang berbeda kelas denganku. Wajar saja kalau kedua temanku ini masih terbawa emosi dan terpancing dengan omongan Dian. Karena sudah tau sifat Dian, aku pun tidak terlalu menanggapinya dan bahkan berusaha menahan Tiara yang hampir saja menanggapi omongannya Dian. Aku tahu Dian akan senang jika kami sampai emosi dan menanggapi omongannya yang terkesan sangat merendahkan itu. Jadi peduli amat lah dengan omongannya. Aku hanya menutup telinga dan mengusap dada agar sabar.

Bel pertanda istirahat telah selesai pun berbunyi. Dan tanpa disuruh, Dian langsung keluar dari kelas kami dengan senyuman dan tatapan yang terlihat begitu merendahkan aku, Ifa dan juga Tiara.

“Tidak usah ditanggapi lah omongan sih Dian itu. Apalagi sampai terbawa emosi. Tidak ada gunanya.” Aku mengingatkan Ifa dan Tiara yang keliatannya masih emosi dengan Dian.

“Tapi dia sudah merendahkan kita, Na. Liat saja nanti di acaranya Wulan, kita akan tampil se-modis mungkin.” Kata Tiara dengan aura penuh keinginan balas dendam.

“Jadi kita bertiga harus jadi pergi ke Mall sebentar sore. Kamu juga Na, pokoknya tidak ada alasan. Aku dan Tiara akan jemput kamu.” Ifa pun aura balas dendamnya begitu nyata.

Seperti biasa, aku hanya bisa mengiyakan ajakan mereka. Meskipun sebenarnya aku terpaksa. Tapi ya sudahlah.
….. Sore Harinya…..

Setelah keliling beberapa tempat, Tiara belum juga menemukan sepatu yang sesuai dengan keinginannya. Padahal di tempat yang tadi sudah ada yang cocok, hanya saja dia tidak jadi membelinya hanya karena hiasan sepatu itu kurang modis menurutnya. Lagi-lagi aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat ulah temanku ini.

Lain Tiara, lain pula Ifa. Ifa yang sudah mengantongi beberapa potong baju, masih juga belum puas. Dan masih semangat berputar-putar mengelilingi Mall dengan satu tujuan; mencari baju terbaik yang paling modis dan kekinian. Sedangkan aku, hanya beli 1 pasang sepatu berwarna hitam. Karena kebetulan sepatuku memang sudah sobek bagian alasnya. Dan ketika aku memilih sepatu itu. Ifa dan Tiara memprotes seleraku dengan lantangnya. Mereka berpendapat bahwa seleraku sangat tidak modis dan ketinggalan zaman. Yah itulah mereka.
Sambil menunggu Ifa yang sedang memilih baju di salah satu toko. Aku dan Tiara duduk di bangku dekat toko tersebut. Melihat ada penjual es jeruk lewat, kami pun tidak melewatkan kesempatan untuk menghilangkan dahaga di tenggorokan.

Ketika sedang menikmati sebungkus es jeruk, mata dan telingaku pun tertuju pada seorang ibu yang tampaknya sedang menawar baju yang ia pegang.

“100 ribu saja yah mbak. Uang saya Cuma segitu.” Kata si Ibu

“Yah modalnya tidak sampai, Bu. 120 yah?” kata si mbak yang jual baju

“Tapi uang saya adanya Cuma 100 ribu. Ini pun saya kumpul-kumpul dari keuntungan dagangan kue saya mbak.”

“Begitu yah bu. Memangnya bajunya untuk siapa sih?”

“Untuk anak saya. Sudah lama dia minta baju seperti ini. Tapi setiap ada uang, uangnya di pakai untuk beli beras. Untung anak saja sabar. Tapi sebagai ibu saya tahu kalau dia sangat ingin baju ini.”

Si mbak yang tadinya masih bertahan dengan harga yang ia tawarkan. Memperhatikan raut wajah ibu itu yang memang sangat lusuh dan terlihat begitu lelah. Di tangannya juga masih ada keranjang kue jualannya. Mungkin karena si mbak itu tersentuh hatinya, ia pun memberikan baju itu dengan harga sesuai yang ditawar oleh ibu itu.

“Ya sudah kalau begitu. 100 ribu saja bu. Saya bungkus yah bajunya.”

“ Alhamdulillah makasih yah mbak. Semoga rejekinya bertambah.”  Kata si ibu sambil tersenyum penuh syukur.

Aku dan Tiara yang melihat sekaligus mendengar percakapan antara mbak dan ibu itu pun langsung hanyut dalam lamunan masing-masing. Hingga tanpa sadar, ternyata Ifa sudah selesai membeli baju.

“Hei, kalian berdua kok melamun?” Ifa membuyarkan lamunan kami

“Kamu sudah selesai beli bajunya, Fa?” Tiara langsung bertanya pada Ifa

“Iyah nih sudah. Sebenarnya sih belum cukup. Tapi uangku sudah habis. Hehehe.”

“Oh yah. Tadi sudah kedengaran adzan Ashar nih, sebelum pulang kita sholat dulu yah. Di samping Mall ada Masjid kan?” Aku mengajak kedua temanku itu untuk Sholat Ashar.
…..Di Musholah…..
Kami bertiga sholat Ashar. Dan setelah sholat, Tiara tiba-tiba saja menahan lengan Ifa yang hendak berdiri. Aku pun kaget melihat Tiara. Sejak tadi memang raut wajahnya sedikit berbeda. Padahal biasanya dia yang paling ceria di antara kami bertiga.

“Kenapa, Ra?” Tanya Ifa

“Fa, tadi aku sama Nana liat seorang ibu yang beli baju untuk anaknya. Dan kamu tahu, uang yang ibu itu pakai untuk beli baju itu adalah keuntungan jualan kue yang ia kumpul-kumpul. Aku merasa tertampar. Uang 100 ribu dengan mudahnya kita pakai untuk beli baju, sepatu bahkan aksesoris yang kadang tidak terlalu kita butuhkan. Aku malu sama diriku sendiri.” Jawab Tiara dengan jawaban yang cukup menyentak hatiku.

“Apa benar yang dibilang sama Tiara, Na?” Tanya Ifa padaku

“Iyah, fa. Aku dan Tiara memang melihat dan mendengar sendiri ibu tadi menawar baju yang ingin ia belikan untuk anaknya.” Aku pun mencoba menjelaskan pada Ifa

Ifa tidak berkata sepatah kata pun. Ia hanya diam. Aku dan Tiara pun bergegas merapikan kembali mukenah yang habis kami gunakan. Kami bertiga pun menuju tempat parkiran. Dan ketika melihat tukang parkir, Ifa pun langsung membuka tasnya dan mengambil dompet. Tapi ternyata tak ada sepeser pun uang dalam dompetnya. Aku yang melihat hal itu, langsung mengambil uang dari dalam dompetku dan membayarkan kepada tukang parkir. Aku tahu kalau uang Ifa pasti habis ketika berbelanja di Mall tadi. Begitupun dengan Tiara.
Kami pun langsung pulang.

…..Di Acara Ulang Tahun Wulan…..

Ifa dan Tiara sudah sampai di rumah Wulan lebih dulu. Mereka sebenarnya mau menjemputku, hanya saja tadi aku harus melaksanakan salah satu kewajibanku di rumah, yaitu cuci piring. Hehehe
Pada saat tiba di rumah Wulan, aku pun langsung mencari Ifa dan Tiara. Pada saat melihat mereka, aku kaget. Karena penampilan mereka sangat sederhana. Aku jadi heran, karena sebelumnya mereka yang paling semangat pergi ke Mall untuk membeli baju, sepatu dan aksesoris kekinian agar bisa tampil modis.

“Nana, Sini gabung sama kita.” Ifa dan Tiara terlihat melambaikan tangan sambil memanggil namaku. Aku pun langsung menuju ke arah mereka berdua

“Kemana nih tampilan modisnya Ifa dan Tiara. Katanya kemarin mau tampil se-modis mungkin di depan teman-teman.” Kataku sambil menyindir mereka berdua.

“Hehe. Sederhana lebih nyaman, Na. Aku dan Tiara sudah sepakat untuk ke acara ini dengan penampilan yang sederhana saja.” Kata Ifa sambil tersenyum

“Gitu dong. Itu baru temannya Nana. Lagipula si Wulan tidak mempersoalkan penampilan kan. Tuh buktinya dia senyum-senyum saja melihat kedatangan kita. Dan apa bedanya juga dengan teman-teman yang lain? Tidak ada kan. Karena pada dasarnya kita semua sama di mata Allah. Penilaian dan pujian manusia itu kadang justru menyesatkan.” Aku berkata sambil meniru gaya salah satu ustadzah favoriteku

Dian juga ada di antara para undangan yang datang. Dia sempat melirik ke arah kami. Masih dengan tatapan merendahkan seperti waktu di kelas. Ifa dan Tiara pun mulai bisa mengendalikan emosi mereka. Ada beberapa kemajuan postif dalam diri kedua temanku itu. Mereka pun tidak lagi memperdulikan tatapan merendahkan Dian.

Kesederhanaan itu bukan berarti tidak bisa membuat kita terlihat cantik. Kesederhanaan justru adalah salah satu cara menghargai apa yang kita punya; tidak tampil berlebihan. Dengan penampilan yang sederhana pun kita juga bisa terlihat cantik kok. Dalam Tausiyah yang sering ku dengarkan, tak pernah disebutkan bahwa cewek atau wanita cantik itu harus yang berpenampilan Modis, Gaul, kekinian atau apalah. Karena pada dasarnya kecantikan wanita itu bukan hanya pada penampilan fisiknya, melainkan kecantikan yang tidak terlihat dan bahkan sering terabaikan; kecantikan dari dalam. 


----- BIODATA PENULIS -----
Nama Lengkap            : Nirwana Fitria
E-mail                        : NirwanaFitriaCH@yahoo.com


Share:

0 komentar:

Posting Komentar