Kamis, 01 Oktober 2015

My Note: Sahabat di Tempat Berbeda

Sahabat di Tempat Berbeda
Oleh: Nirwana Fitria



Ketika pindah dulu, saya sempat pesimis bisa menemukan sahabat-sahabat seperti sahabat-sahabat saya yang di Kota. Karena saya sendiri adalah tipekal orang yang tidak terlalu mudah bergaul. Bukan tidak mau, hanya saja saya tidak mudah bergaul pada orang yang baru saya kenal. Awalnya saya menjalani hari-hari di sekolah baru dengan begitu banyak cobaan. Tapi semua itu tidak menyurutkan semangat saya untuk menyelesaikan sekolah saya di sana. Saya berusaha menjalani apapun dengan sabar dan yakin bahwa Allah lebih tau atas segalanya. Termasuk apapun yang terjadi dalam hidup saya. 


Suatu ketika, ada pesan yang masuk di Handphone saya. Ketika saya membuka pesan, ternyata pesan tersebut dari teman sekelas saya. Saya memang tidak terlalu bisa mengingat wajah seseorang, biasanya saya mengenali seseorang dari suaranya. Itupun kalau sudah dekat dalam artian sering ngobrol atau berbincang dengan saya. Teman kelas yang saya maksud di sini adalah Fistha. Nama yang awalnya asing buat saya. Karena saya tidak mengingat nama semua murid dalam kelas. Apalagi saya belum lama di kelas itu. Ternyata itulah awal dari segalanya. Awal dari saya mulai mengenal dia. Mulai berteman dan sering bercerita banyak hal. Saya senang berbicara dengannya karena dia seperti bisa memahami saya. Dan tidak suka menjudge sesuatu yang hanya ia dengar dari orang lain. Ia melihat berbagai hal dalam sudut pandang yang positif, selalu ada hal yang bisa diambil dari siapapun. Bukan masalah orang itu siapa, status sosialnya bagaimana, tapi tentang hidup yang bisa selalu diisi dengan kebaikan, sekecil apapun kebaikan itu. 

Dibanding saya, Fistha lebih unggul. Hehehe karena ia bisa mengendarai sepeda motor. Sementara saya sampe saat ini belum bisa, eh sebenarnya sih belum berani saja. Hehehe. Ia juga anak yang sangat menyayangi dan menghormati kedua orang tuanya. Ia juga memilki pemikiran yang berbeda dari kebanyakan orang. Ia memiliki semangat belajar dan cara pandang yang luas terhadap segala sesuatu. Ada kata-katanya yang masih saya ingat hingga sekarang. Ia pernah bilang “Biarpun tinggal di Desa, tapi pemikiran kita tidak boleh kalah dengan yang tinggal di Kota.” Kata-kata itu masih tertinggal dalam benak saya hingga sekarang. Saya salut, karena ia adalah tipekal orang yang mau belajar.

Terlalu banyak pelajaran yang saya dapatkan dari Fistha, seseorang yang dulunya teman dan kemudian menjadi sahabat saya hingga sekarang. Seseorang yang ada di samping saya bukan hanya pada saat Dunia memberikan sanjungan, bukan hanya ketika semua orang memuji, bukan hanya ketika saya tersenyum bahagia. Tapi ia adalah seseorang yang juga ada saat saya menangis. Ia pernah mengahapus air mata saya, air mata yang keluar karena saya dihina oleh salah seorang teman kelas. Ia berempati bukan hanya sebatas lisan, tapi benar-benar dari hatinya. 

“Hidup terlalu berarti untuk menangisi hal-hal yang tidak penting, air mata terlalu berharga untuk jatuh hanya karena orang-orang yang tak punya perasaan. Simpan air mata untuk sesuatu yang memiliki arti penting. Sesuatu yang pantas mendapatkannya.” 

Kata-kata itulah yang selalu ia ucapkan ketika saya sedang DOWN. Dan ada satu hal lagi yang paling membekas dalam ingatan saya, yaitu ketika ia bersedia menghapus air mata saya dengan tangannya sendiri tanpa saya minta. Karena saya tipekal orang yang tidak suka menyuruh, saya ingin seseorang melakukan sesuatu dari hatinya sendiri. Itulah Fistha, sahabat yang saya temui di kehidupan baru saya di sana. Ia bahkan rela dikucilkan karena lebih memihak pada saya. Itu semua sangat berarti dan tidak pernah bisa saya lupakan.

Terimakasih sahabat, engkau sudah mengisi daftar orang berharga dalam hidup saya. Terimakasih untuk semangat yang engkau tularkan, semangat untuk selalu tersenyum apapun yang terjadi dalam hidup. Semangat untuk terus berjuang meraih cita-cita meskipun diremehkan oleh orang lain. Meskipun kini kita ada di kota yang berbeda, tapi persahabatan kita tetap dan selalu indah untuk diceritakan. Untuk disampaikan pada siapapun, bahwa di Dunia ini persahabatan yang tulus itu memang masih ada.

Tulisan dari saya, untuk sahabatku Fistha Purnama syari.......


Share:

0 komentar:

Posting Komentar