Sahabat di Tempat Berbeda
Oleh: Nirwana Fitria
Ketika pindah dulu, saya
sempat pesimis bisa menemukan sahabat-sahabat seperti sahabat-sahabat saya yang
di Kota. Karena saya sendiri adalah tipekal orang yang tidak terlalu mudah
bergaul. Bukan tidak mau, hanya saja saya tidak mudah bergaul pada orang yang
baru saya kenal. Awalnya saya menjalani hari-hari di sekolah baru dengan begitu
banyak cobaan. Tapi semua itu tidak menyurutkan semangat saya untuk
menyelesaikan sekolah saya di sana. Saya berusaha menjalani apapun dengan sabar
dan yakin bahwa Allah lebih tau atas segalanya. Termasuk apapun yang terjadi
dalam hidup saya.
Suatu ketika, ada pesan
yang masuk di Handphone saya. Ketika saya membuka pesan, ternyata pesan
tersebut dari teman sekelas saya. Saya memang tidak terlalu bisa mengingat
wajah seseorang, biasanya saya mengenali seseorang dari suaranya. Itupun kalau
sudah dekat dalam artian sering ngobrol atau berbincang dengan saya. Teman
kelas yang saya maksud di sini adalah Fistha. Nama yang awalnya asing buat
saya. Karena saya tidak mengingat nama semua murid dalam kelas. Apalagi saya
belum lama di kelas itu. Ternyata itulah awal dari segalanya. Awal dari saya
mulai mengenal dia. Mulai berteman dan sering bercerita banyak hal. Saya senang
berbicara dengannya karena dia seperti bisa memahami saya. Dan tidak suka menjudge
sesuatu yang hanya ia dengar dari orang lain. Ia melihat berbagai hal dalam
sudut pandang yang positif, selalu ada hal yang bisa diambil dari siapapun.
Bukan masalah orang itu siapa, status sosialnya bagaimana, tapi tentang hidup
yang bisa selalu diisi dengan kebaikan, sekecil apapun kebaikan itu.
Dibanding saya, Fistha
lebih unggul. Hehehe karena ia bisa mengendarai sepeda motor. Sementara saya
sampe saat ini belum bisa, eh sebenarnya sih belum berani saja. Hehehe. Ia juga
anak yang sangat menyayangi dan menghormati kedua orang tuanya. Ia juga memilki
pemikiran yang berbeda dari kebanyakan orang. Ia memiliki semangat belajar dan
cara pandang yang luas terhadap segala sesuatu. Ada kata-katanya yang masih
saya ingat hingga sekarang. Ia pernah bilang “Biarpun tinggal di Desa, tapi
pemikiran kita tidak boleh kalah dengan yang tinggal di Kota.” Kata-kata itu
masih tertinggal dalam benak saya hingga sekarang. Saya salut, karena ia adalah
tipekal orang yang mau belajar.
Terlalu banyak pelajaran
yang saya dapatkan dari Fistha, seseorang yang dulunya teman dan kemudian
menjadi sahabat saya hingga sekarang. Seseorang yang ada di samping saya bukan
hanya pada saat Dunia memberikan sanjungan, bukan hanya ketika semua orang
memuji, bukan hanya ketika saya tersenyum bahagia. Tapi ia adalah seseorang
yang juga ada saat saya menangis. Ia pernah mengahapus air mata saya, air mata
yang keluar karena saya dihina oleh salah seorang teman kelas. Ia berempati
bukan hanya sebatas lisan, tapi benar-benar dari hatinya.
“Hidup terlalu berarti
untuk menangisi hal-hal yang tidak penting, air mata terlalu berharga untuk
jatuh hanya karena orang-orang yang tak punya perasaan. Simpan air mata untuk
sesuatu yang memiliki arti penting. Sesuatu yang pantas mendapatkannya.”
Kata-kata itulah yang selalu ia ucapkan ketika saya sedang DOWN. Dan ada satu hal lagi
yang paling membekas dalam ingatan saya, yaitu ketika ia bersedia menghapus air
mata saya dengan tangannya sendiri tanpa saya minta. Karena saya tipekal orang
yang tidak suka menyuruh, saya ingin seseorang melakukan sesuatu dari hatinya
sendiri. Itulah Fistha, sahabat yang saya temui di kehidupan baru saya di sana.
Ia bahkan rela dikucilkan karena lebih memihak pada saya. Itu semua sangat
berarti dan tidak pernah bisa saya lupakan.
Terimakasih sahabat,
engkau sudah mengisi daftar orang berharga dalam hidup saya. Terimakasih untuk
semangat yang engkau tularkan, semangat untuk selalu tersenyum apapun yang
terjadi dalam hidup. Semangat untuk terus berjuang meraih cita-cita meskipun
diremehkan oleh orang lain. Meskipun kini kita ada di kota yang berbeda, tapi
persahabatan kita tetap dan selalu indah untuk diceritakan. Untuk disampaikan
pada siapapun, bahwa di Dunia ini persahabatan yang tulus itu memang masih ada.
Tulisan dari saya, untuk
sahabatku Fistha Purnama syari.......

0 komentar:
Posting Komentar