Selasa, 20 Oktober 2015

My Note: Indah di mata Allah SWT


 
Foto by Nirwana Fitria

Fisik ku mungkin tak sempurna layaknya sang Bidadari surga
Fisik ku mungkin jauh dari kesempurnaan
Aku mungkin selalu salah di mata orang lain
Aku mungkin tak bisa lepas dari salah dan khilaf
Tapi bukankah manusia memang tempatnya salah dan khilaf?
Lantas, untuk apa mengahakimi seseorang atas sesuatu yang sebenarnya tidak kita mengerti alasan di balik itu.


Bukankah hakim terbaik dan teradil hanya Allah?
Bukankah Hanya Allah yang berhak memberi penilaian atas hamba-Nya?
Kita diberikan hidup bukan untuk menilai satu per satu dosa dan kekhilafan orang lain, sementara tanpa kita sadari diri kita sendiri kadang masih sering berbuat salah dan khilaf hanya saja mungkin sedikit beruntung karena Allah menutupi kesalahan itu dari mata manusia.

Kita hidup bukan untuk menjadi sempurna sebagai bahan pujian dan sanjungan orang lain.
kita hidup bukan untuk mati-matian menjadi indah di mata manusia.
Keindahan secara lahiriah memang penting karena islam sendiri menyukai segala sesuatu yang indah.
Tapi bukankah keindahan secara lahiriah hanya bisa terlihat oleh mata?
Lantas apakah kita melupakan hati yang kadang jauh lebih benar dalam melihat
Iyah tentu saja melihat keindahan yang tidak terlihat oleh mata.

Kita lahir untuk menjalani apa yang sudah Allah tuliskan
Kita lahir untuk berproses menjadi baik dari yang tadinya belum baik atau
yag sudah baik menjadi lebih baik
Kita lahir untuk menunjukkan rasa terimakasih sudah diberi kesempatan oleh
Allah melihat langit dan menginjakkan kaki di bumi
Bukankah itu suatu anugerah yang luar bisa indahnya?

Tapi sebatas indah secara lahiriah lantas mengejar pujian dari manusia, apakah
diri tidak malu pada Allah yang menciptakan kita?
Jangan sampai keindahan yang diberikan Allah kepada diri menjadikan diri lalai
dan lupa untuk berterima kasih dan bersyukur..
Dengan tidak merendahkan orang lain saja, itu sudah bentuk rasa syukur.
dengan tidak menghakimi orang lain secara sepihak saja itu sudah bentuk rasa
terimakasih kepada Allah bahwa kita sebagai manusia ciptaan-Nya ternyata
memang harus menghargai ciptaan Allah yang lain.

Tanpa kita sadari, terkadang ucapan yang keluar dari mulut akibat fikiran kita
yang berfikir bahwa kita sudah lebih baik dari orang lain membuat orang lain
terluka hatinya.
Tanpa kita sadari karena seringnya menganggap orang lain lebih rendah, membuat hati kita lupa untuk bersyukur karena sudah merasa lebih dari orang lain.
Setelah lalai dan lupa untuk bersyukur, selanjutnya pelan-pelan hati kian keras
dan benih-benih kesombongan pun mulai muncul tanpa kita sadari.
 
Memberi masukan, menasehati, memberi saran itu semua tidak salah jika niat
kita untuk membuat orang lain bisa lebih baik atau ketika kita tidak ingin
orang tersebut ada di jalan yang salah.
Tapi, apakah pernah kita berfikir alasan apa yang mendasari seseorang berbuat
salah?
Apakah kita betul-betul ingin membuat seseorang tersebut sadar akan kesalahannya?
atau kita hanya sekedar ingin menunjukkan bahwa kitalah yang benar dan lebih baik dari orang tersebut.
Pernah kah hati merenungi hal tersebut?

Hati yang benar-benar tulus ingin menegur kesalahan orang yang berbuat salah, akan mencari cara bagaimana agar orang tersebut bisa menerima niat baik kita.
Karena terkadang banyak niat baik yang justru dianggap tidak baik.
Kadang kala kita tidak ingin orang terdekat entah itu keluarga atau sahabat kita
menjadi orang yang hidup tanpa arah, tanpa tahu apa yang ia lakukan itu benar
atau salah.
Kita pasti ingin agar ia sadar bahwa apa yang dia lakukan adalah salah.

Selalu ada cara yang baik untuk niat yang baik.
selalu ada cara yang bisa lebih menyentuh untuk hatinya sehingga hatinya bisa
menerima apa yang kita sampaikan tanpa harus melukainya
Apakah dengan menghakimi seseorang kita sudah merasa baik?
Apakah dengan memberi penilaian dengan menjatuhkan atau bahkan melukai hati orang lain kita bisa menjadi orang baik?
Apakah dengan mencaci atas kesalahan yang orang lain lakukan bisa membuat
kita lebih baik di mata Allah?
Apakah hati merasa bangga di hadapan manusia jika berhasil merendahkan orang lain? 
Sungguh Iblis selalu berusaha membuat manusia jauh dan tersesat.

Bukankah Allah pernah berfirman dalam salah satu ayat dalam kitab suci Al-Qur'an bahwa kita tidak boleh mengolok-olok orang lain, karena bisa jadi orang yang kita olok-olok itu lebih baik dari kita.

Ketika kita menyaksikan atau mendengar orang lain berbuat salah, bukankah lebih baik jika hal pertama yang harus kita lakukan adalah introspeksi diri dulu?
Jangan sampai kesalahan orang lain sebenarnya lebih kecil dibanding kesalahan
diri kita yang selama ini tertutupi dalam hati kita.
 
Ketika fisik tak sempurna, ketika diri tak luput dari salah dan khilaf, 
ketika fikiran masih belum terlepas dari bayang-bayang menjerumuskan, bukankah kita masih punya hati yang bisa kita lembutkan, yang bisa tenangkan, yang bisa kita rendahkan di hadapan Allah maupun sesama manusia.

Hati yang senantiasa mengucap nama Allah seraya berdoa meminta agar selalu
bisa mengucap syukur atas apapun.
Agar selalu berusaha istiqomah menempuh jalan yang telah Allah ridhoi.
Dan agar selalu bisa berusaha membuat Hati tersebut menjadi indah dan sempurna untuk mencintai Allah, sang pemilik kehidupan.
 

Kamis, 30 Juli 2015
Oleh Nirwana Fitria

Share:

0 komentar:

Posting Komentar