Sabtu, 24 Oktober 2015

My Note: Pelajaran Berharga

Bismillah...
Assalamu'alaikum...


Ini adalah salah satu pelajaran berharga buat diri saya....

Tanggal 18 oktober 2015, adalah salah satu hari yang menjadi hari pembelajaran untuk diri saya. Tepatnya lagi pembelajaran hidup. 
Cerita dimulai ketika saya selesai melaksanakan sholat isya. Lalu saya duduk di depan TV, tidak lama kemudian bapak saya datang dan membawa kantong plastik. Dan beliau pun menyuruh saya untuk mengambil kantong plastik itu dan memasaknya karena isi kantong plastik tersebut ternyata adalah Mie goreng dan telur. 

Yang terfikirkan dalam benak saya adalah, Kenapa bapak harus membeli mie goreng dan telur sedangkan di rumah masih ada makanan yang dimasak oleh mama. Saya pun menyampaikan hal tersebut kepada bapak saya, kira-kira kalimat saya sebagai berikut:

"Pa, saya kira masih ada makanan. Kenapa bapak malah beli mie goreng?"

Tapi bapak saya merespon dengan nada marah dan menganggap bahwa saya tidak mau melaksanakan apa yang ia suruh. Sontak saya kaget karena memang saya tidak bermaksud untuk menolak perintah bapak, hanya saja saya menyampaikan apa yang ada dalam fikiran saya. Lalu, bapak langsung mengambil kantong plastik itu dan membawanya ke dapur. Beliau terdengar mengomel dengan nada marah. Saya merasa bersalah, tapi saya ketika ingin menjelaskan maksud saya, bapak sudah lebih duluan marah. Jadinya semua kalimat penjelasan saya hanya tertahan dalam tenggorokan dan pastinya menyesakkan hati saya. Saya tidak menyalahkan bapak saya, saya mengerti mungkin beliau sedang banyak beban fikiran.

Di dunia ini terlalu banyak kemarahan yang seharusnya tidak perlu.
Terlalu banyak kemarahan yang sebenarnya cuma butuh sedikit waktu dan sedikit saja kesabaran untuk mendengarkan penjelasan. Tapi amarah seolah memenangkan perdebatan dalam hati antara harus sabar atau langsung saja marah.

Yah mungkin begitulah manusia, saya pun masih sering seperti itu.
Tapi ketika mengalami beberapa kejadian, termasuk masalah disuruh masak mie yang saya ceritakan tersebut. Saya jadi sering merenungi banyak hal. 
Salah satunya adalah masalah marah, emosi atau entahlah apalagi namanya.

Beberapa hal sebenarnya cuma butuh Penjelasan yang Benar, bukan malah Pembenaran yang hanya untuk menutupi ketidakjelasan.
Penjelasan dan Pembenaran adalah hal yang berbeda.
Ini nasehat untuk diri saya sendiri.


Dalam hal itu, bapak saya tidak salah. Saya pun juga tidak bisa sepenuhnya disalahkan
Intinya, saya harus bisa lebih memahami banyak hal.
Saya juga harus terus melatih kesabaran hati saya.
Semoga kejadian seperti itu tidak perlu terulang lagi.....
Aamiin.

Kendari, 18 oktober 2015

Share:

0 komentar:

Posting Komentar