![]() |
| Foto saya (umur 2 tahun) bersama Mama |
Sebelumnya saya meminta maaf jika
tulisan saya ini seperti menyudutkan Mama atau apapun yang seolah-oleh terlihat
seperti marah kepada Mama. Saya hanya ingin menuliskan apa yang saya rasakan
selama ini. Karena terkadang saya terlalu takut untuk menyatakan apa yang saya
rasakan. Bukan karena egois, atau terlalu memendam (sendirian). Kebiasaan
memendam masalah sendirian sudah lama saya tinggalkan. Sudah beberapa tahun
terakhir ini saya menjalani kehidupan yang jauh dari kehidupan saya sebelumnya.
Salah satunya terkait masalah pendam-memendam itu. Kembali ke permasalahan,
saya takut untuk menyatakan semua yang saya rasakan kepada Mama karena saya
terlalu menghargai Mama sebagai seseorang yang sudah mengorbankan kehidupannya
demi saya sejak saya dihamilkan hingga detik ini. Dan karena saya takut sekali
berdosa di hadapan Allah karena berkata kasar ataupun hanya membantah dengan
kata “AH” adalah hal yang sungguh sangat dimurkai oleh Allah SWT.
Itulah yang selalu membayangi fikiran
saya setiap saya ingin mengutarakan uneg-uneg atau sekedar melepasakan emosi
yang sangat menyiksa batin saya.
Mungkin sebagai orang tua, Mama berhak
atas apapun dalam hidup saya. Saya sangat menghargai itu, karena bagi saya
Ridho dari Mama adalah salah satu hal penting yang harus saya peroleh untuk
menjalani hidup saya hari ini dan ke depannya. Tapi bukankah kehidupan memang
tidak pernah terlepas dari yang namanya Masalah? Yah itu sudah hukum Alam.
Manusia hanya dituntut untuk bisa menyesuaikan dirinya dalam berbagai masalah
yang akan datang dalam hidup ini. Salah satu masalah yang lumayan bisa bikin
otak stress adalah masalah dengan orang tua, dalam hal ini masalah dengan Mama.
Sebenarnya Mama saya adalah orang yang
sangat pengertian, kenapa saya bisa menyimpulkan demikian? Yah karena Mama
bukan Tipe orang tua yang suka mengekang, dalam masalah pergaulan. Mama tidak
mengekang anak-anaknya maupun tidak juga terlalu membebaskan. Mama lebih
menganut sistem “Memberi Kepercayaan” kepada anak. Sehingga saya tidak pernah
merasa tertekan jika ingin pergi ke tempat-tempat yang saya ingin kunjungi
selama itu tempat yang memberi manfaat. Saya juga tidak khawatir mama akan
mengatur siapa saja yang boleh menjadi teman saya. Karena dari dulu saya selalu
terbuka soal teman-teman. Jadi Mama tahu siapa saja yang jadi teman saya.
Terlepas dari semua kepercayaan yang Mama berikan untuk saya. Tetap saja
sebagai orang tua, Mama selalu menasehati saya agar senantiasa berhati-hati
dalam bergaul dan tentu saja untuk selalu bisa menjaga diri. Karena orang tua
tidak bisa 24 jam menjaga anak. Sehingga sang anaklah yang harus memiliki
kesadaran untuk pintar-pintar menjaga diri dan pergaulannya.
Namanya manusia, Mama pun tak luput
dari kekurangan. Saya tidak bermaksud untuk mengungkapkan kekurangan Mama
(menurut saya). Saya hanya ingin mengungkapkan bahwa kekurangan mama itu kadang
membuat saya stress. Mama suka sekali membanding-bandingkan saya dengan orang
lain yang dianggapnya lebih baik. Apapun yang saya kerjakan (padahal itu baik)
selalu terlihat salah jika Mama dalam keadaan yang lagi banyak masalah. Jadi
saya terkesan seperti menjadi pelampiasan amarah Mama. Saya sangat sedih jika
mendengar kata-kata kejam yang keluar dari mulut Mama. Saya tidak mengharapkan
pujian untuk setiap apa yang saya kerjakan, karena saya yakin tanpa pujian dari
siapapun, Allah sudah cukup indah sebagai penilai buat saya. Hanya saja, saya
tidak senang dibanding-bandingkan dengan orang lain. Bukankah setiap orang
punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing? Lantas apakah harus atau perlu
untuk membandingkan hal yang seharusnya bisa diterima jika hati ikhlas? Ahh,
idealisme saya memang terkadang jauh dari realita yang terjadi. Saya hanya bisa
menyapu dada jika Mama sudah mengeluarkan kata-kata penuh emosinya lagi. Saya
hanya bisa menangis sendirian sambil mendoakan semoga suatu saat Mama bisa tahu
bahwa anak sulungnya ini sedang dalam proses untuk membahagiakan dan
membanggakannya. Saya hanya butuh dikasih kesempatan untuk menunjukkan itu
semua. Tapi saya hanyalah manusia biasa, saya akan sangat DOWN jika usaha yang
saya lakukan seolah-oleh tidak ada artinya ketika saya melakukan sebuah
kesalahan yang bisa dibilang kecil dibandingkan dengan usaha saya. Dan Mama
tidak menyadari itu semua. Mama lebih sering terjebak dalam emosinya sehingga
logikanya seringkali kalah.
Mungkin itu saja catatan saya tentang
Mama, sebagai penutup saya hanya ingin mengatakan bahwa saya sangat menyayangi
Mama, saya sangat menghargai Mama. Tapi Mama kadang Lupa bahwa meskipun usia
saya sekarang sudah cukup dewasa tapi saya tetaplah anak yang membutuhkan
dukungan dari Mama agar saya lebih kuat lagi menjalani kehidupan ini. Dan meskipun
mungkin Mama tidak akan membaca tulisan ini, saya tetap akan mengatakan Terima
Kasih atas segalanya, mah… Anak sulungmu ini akan selalu berusaha membahagiakan
dan membuat mama bangga. Jangan marah-marah lagi yah mah, nanti cepat tua loh..
hehehe
I LOVE YOU, MOM. I’M SO PROUD TO BE YOUR DAUGHTER.

0 komentar:
Posting Komentar