Sabtu, 25 Juli 2015

My Note: Catatan tentang Mama

Foto saya (umur 2 tahun) bersama Mama



Sebelumnya saya meminta maaf jika tulisan saya ini seperti menyudutkan Mama atau apapun yang seolah-oleh terlihat seperti marah kepada Mama. Saya hanya ingin menuliskan apa yang saya rasakan selama ini. Karena terkadang saya terlalu takut untuk menyatakan apa yang saya rasakan. Bukan karena egois, atau terlalu memendam (sendirian). Kebiasaan memendam masalah sendirian sudah lama saya tinggalkan. Sudah beberapa tahun terakhir ini saya menjalani kehidupan yang jauh dari kehidupan saya sebelumnya. Salah satunya terkait masalah pendam-memendam itu. Kembali ke permasalahan, saya takut untuk menyatakan semua yang saya rasakan kepada Mama karena saya terlalu menghargai Mama sebagai seseorang yang sudah mengorbankan kehidupannya demi saya sejak saya dihamilkan hingga detik ini. Dan karena saya takut sekali berdosa di hadapan Allah karena berkata kasar ataupun hanya membantah dengan kata “AH” adalah hal yang sungguh sangat dimurkai oleh Allah SWT. 


Itulah yang selalu membayangi fikiran saya setiap saya ingin mengutarakan uneg-uneg atau sekedar melepasakan emosi yang sangat menyiksa batin saya.
Mungkin sebagai orang tua, Mama berhak atas apapun dalam hidup saya. Saya sangat menghargai itu, karena bagi saya Ridho dari Mama adalah salah satu hal penting yang harus saya peroleh untuk menjalani hidup saya hari ini dan ke depannya. Tapi bukankah kehidupan memang tidak pernah terlepas dari yang namanya Masalah? Yah itu sudah hukum Alam. Manusia hanya dituntut untuk bisa menyesuaikan dirinya dalam berbagai masalah yang akan datang dalam hidup ini. Salah satu masalah yang lumayan bisa bikin otak stress adalah masalah dengan orang tua, dalam hal ini masalah dengan Mama.

Sebenarnya Mama saya adalah orang yang sangat pengertian, kenapa saya bisa menyimpulkan demikian? Yah karena Mama bukan Tipe orang tua yang suka mengekang, dalam masalah pergaulan. Mama tidak mengekang anak-anaknya maupun tidak juga terlalu membebaskan. Mama lebih menganut sistem “Memberi Kepercayaan” kepada anak. Sehingga saya tidak pernah merasa tertekan jika ingin pergi ke tempat-tempat yang saya ingin kunjungi selama itu tempat yang memberi manfaat. Saya juga tidak khawatir mama akan mengatur siapa saja yang boleh menjadi teman saya. Karena dari dulu saya selalu terbuka soal teman-teman. Jadi Mama tahu siapa saja yang jadi teman saya. Terlepas dari semua kepercayaan yang Mama berikan untuk saya. Tetap saja sebagai orang tua, Mama selalu menasehati saya agar senantiasa berhati-hati dalam bergaul dan tentu saja untuk selalu bisa menjaga diri. Karena orang tua tidak bisa 24 jam menjaga anak. Sehingga sang anaklah yang harus memiliki kesadaran untuk pintar-pintar menjaga diri dan pergaulannya.

Namanya manusia, Mama pun tak luput dari kekurangan. Saya tidak bermaksud untuk mengungkapkan kekurangan Mama (menurut saya). Saya hanya ingin mengungkapkan bahwa kekurangan mama itu kadang membuat saya stress. Mama suka sekali membanding-bandingkan saya dengan orang lain yang dianggapnya lebih baik. Apapun yang saya kerjakan (padahal itu baik) selalu terlihat salah jika Mama dalam keadaan yang lagi banyak masalah. Jadi saya terkesan seperti menjadi pelampiasan amarah Mama. Saya sangat sedih jika mendengar kata-kata kejam yang keluar dari mulut Mama. Saya tidak mengharapkan pujian untuk setiap apa yang saya kerjakan, karena saya yakin tanpa pujian dari siapapun, Allah sudah cukup indah sebagai penilai buat saya. Hanya saja, saya tidak senang dibanding-bandingkan dengan orang lain. Bukankah setiap orang punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing? Lantas apakah harus atau perlu untuk membandingkan hal yang seharusnya bisa diterima jika hati ikhlas? Ahh, idealisme saya memang terkadang jauh dari realita yang terjadi. Saya hanya bisa menyapu dada jika Mama sudah mengeluarkan kata-kata penuh emosinya lagi. Saya hanya bisa menangis sendirian sambil mendoakan semoga suatu saat Mama bisa tahu bahwa anak sulungnya ini sedang dalam proses untuk membahagiakan dan membanggakannya. Saya hanya butuh dikasih kesempatan untuk menunjukkan itu semua. Tapi saya hanyalah manusia biasa, saya akan sangat DOWN jika usaha yang saya lakukan seolah-oleh tidak ada artinya ketika saya melakukan sebuah kesalahan yang bisa dibilang kecil dibandingkan dengan usaha saya. Dan Mama tidak menyadari itu semua. Mama lebih sering terjebak dalam emosinya sehingga logikanya seringkali kalah.

Mungkin itu saja catatan saya tentang Mama, sebagai penutup saya hanya ingin mengatakan bahwa saya sangat menyayangi Mama, saya sangat menghargai Mama. Tapi Mama kadang Lupa bahwa meskipun usia saya sekarang sudah cukup dewasa tapi saya tetaplah anak yang membutuhkan dukungan dari Mama agar saya lebih kuat lagi menjalani kehidupan ini. Dan meskipun mungkin Mama tidak akan membaca tulisan ini, saya tetap akan mengatakan Terima Kasih atas segalanya, mah… Anak sulungmu ini akan selalu berusaha membahagiakan dan membuat mama bangga. Jangan marah-marah lagi yah mah, nanti cepat tua loh.. hehehe 

I LOVE YOU, MOM. I’M SO PROUD TO BE YOUR DAUGHTER.

Share:

0 komentar:

Posting Komentar