Bismillah...
Assalamu'alaikum...
Artikel di bawah ini rasanya cukup
menjelaskan alasan saya yang tidak mau mengajari Mama saya bermain facebook.
Rasanya cukup HP saja untuk berkomunikasi. Bukannya saya tidak mau mama saya
jago teknologi. Tapi, ada bagian di hati saya yang miris melihat banyak ibu-ibu
seumuran Mama saya di Facebook yang bertingkah tidak sesuai umurnya. Dan saya
selalu yakin bahwa, mencegah selalu lebih baik dibanding menyesal kemudian.
Satu hal lagi. menurut saya kasus yang terjadi seperti dalam artikel di bawah
ini adalah karena faktor "kaget" dari ibu-ibu yang memang pada zaman
remajanya mereka belum ada sosmed seperti sekarang. Selain itu, faktor internal
dari keluarga bisa menjadikan sosial media sebagai sarana "pelarian".
Kalau sekedar hiburan atau membaca postingan yang bermanfaat sih, saya rasa
tidak masalah. Tapi ketika sudah mengarah ke hal-hal negatif. Lebih baik
dihindari saja.
Inilah artikel yang saya maksud. Semoga
bisa dijadikan pelajaran. Saya mengutipnya dari http://bersamadakwah.net/menyesal-mengajari-mama-facebook-an/
*****
Menyesal Mengajari Ibu Facebook-an
“Aku sangat menyesal telah mengajari Mama
Facebook-an,” kata seorang siswi SMA dengan wajah sedih, “sekarang Mama minta
cerai”
Kok bisa? Ceritanya bermula saat siswi
SMA tersebut merasakan manfaat Facebook. Ia bisa terhubung dengan teman-teman
dan gurunya. Melalui grup ia bisa berkomunikasi dan rapat online dengan mudah.
Melalui fan page yang ia suka, ia bisa mendapatkan info-info yang
bermanfaat.
“Facebook bagus deh, Ma,” kata gadis
itu sambil membuatkan akun Facebook untuk mamanya. “Mama mau berteman dengan
siapa, tinggal pilih. Ini kalau dengan teman SMP Mama, ini dengan teman SMA…”
Semula sang Mama perlu adaptasi dengan
‘mainan’ baru itu. Tetapi beberapa hari kemudian ia sudah mulai akrab. Dan yang
tiba-tiba membuat hatinya deg-degan, ia bisa berteman dengan seorang pria yang
dulu mereka sempat pacaran saat SMA tapi terputus setelah lulus. Pertama surprise.
Lalu saling bertanya tentang kabar, lalu saling curhat… dan cinta lama bersemi
kembali.
Kalau sekedar rasa dan bisa diatasi,
mungkin cinta itu tidak masalah. Tetapi wanita ini begitu hanyut dalam
perasaannya. Hatinya berbunga-bunga. Romantisme cinta SMA hadir menguasai jiwa
dan menyeretnya untuk bertemu. Dari pertemuan di dunia maya mereka berdua
kemudian bertemu fisik di dunia nyata.
Benarlah bahwa keburukan memanggil
keburukan lainnya. Satu keburukan berteman akrab dengan keburukan lainnya.
Begitu manusia terperangkan dalam satu keburukan kecil, keburukan yang lebih
besar akan mengikuti. Jika tidak segera diputus, keburukan yang jauh lebih
besar tiba-tiba hadir dan mendominasi.
Dari say hello , mereka
berkhalwat di dunia maya. Saling menulis kata-kata mesra. Setelah itu mereka
bertemu, terjadilah zina mata. Hingga di suatu hari, bagaikan petir di siang
hari, wanita itu mengajukan cerai kepada suaminya. Alasannya? Ia ingin menikah
dengan pacar lama yang baru ditemukannya melalui Facebook itu.
Mendengar ini, yang paling bersedih
adalah anaknya. Ia yang membuatkan akun Facebook dan mengajari mamanya, kini ia
dan keluarganya ditinggalkan oleh wanita itu.
Sang suami tidak bisa menghalangi niat
istrinya. Akhirnya ia menceraikannya dan membiarkan wanita itu menjadi istri
kedua pacar lamanya. Namun setelah beberapa bulan, wanita itu merasakan balasan
dari Allah. Ternyata menikah dengan pacar lama tidaklah seindah bayangannya
selama ini. Suami yang telah ditinggalkannya jauh lebih baik. Keluarga yang
ditinggalkannya jauh lebih membahagiakan. Dengan mengiba ia datang kembali ke
mantan suaminya, ingin dinikahi lagi. Namun sang suami yang kini single
parent itu menjawab tegas: “Maaf, saya tidak mungkin menikahi lagi wanita
yang telah meminta cerai.” [Muchlisin BK/bersamadakwah]
*Based on true story
0 komentar:
Posting Komentar