Selasa, 16 Februari 2016

My Note: Ketika Hidayah Menyapa

Ketika Hidayah Menyapa
Oleh: Nirwana Fitria


Hidayah memang bisa datang kapan saja, di mana saja, dan pada siapa saja. Seperti tetangg saya. Sebut saja dia Ummi Puput. Dulu kehidupan Ummi puput dan keluarganya (suami dan 2 orang anak) terlihat biasa saja. Maksudnya, biasa karena sama saja dengan kehidupan keluarga lain di sekitar tempat tinggal mereka. Tapi setahu saya, Ummi Puput memang termasuk yang taat beribadah. Saya bisa menyimpulkan demikian karena saya beberapa kali mendapati ia sedang sholat ketika saya ke rumahnya untuk mengantar makanan. Sebagai tetangga, Ummi Puput dan mama saya memang cukup dekat. Jadi, ketika salah satunya sedang masak makanan yang porsinya agak lebih, biasanya akan saling mengantar makanan. Begitu pun yang saya lakukan pada saat itu. Saya mendapat tugas dari mama untuk mengantarkan makanan ke rumah Ummi Puput.


Ummi Puput menggunakan jilbab hanya ketika ingin bepergian saja. Sedangkan di rumah ia lebih sering memakai baju kaos + celana selutut, kadang-kadang juga memakai daster seperti ibu-ibu pada umumnya. Saat keluar di depan rumah untuk membeli sayur, ia juga tidak menggunakan jilbab. Masih tetap dengan gaya santainya. Lagipula, rata-rata ibu-ibu di lingkungan kami memang hanya menggunakan jilbab ketika bepergian saja. Kalau keluar rumah dengan jarak tempat yang dituju masih tergolong dekat, biasanya hanya menggunakan baju santai seperti ketika di rumah. Dan itu adalah sekilas gambaran tentang kehidupan Ummi Puput beberapa tahun lalu. Tapi, kini semuanya berubah. Bahkan bisa dibilang berubah total.

Semua perubahan itu berawal sejak Puput (anak sulung Ummi Puput) dimasukkan ke sekolah bebasic islami. Setiap hari ada mobil khusus yang mengantar jemput Puput. Dan saya pun pernah berpapasan dengan mobil tersebut saat hendak ke sekolah. Saya sempat mendengar suara murattal Qur’an dari dalam mobil. Dan saat sekilas menengok ke dalam mobil tersebut, nampak beberapa anak yang semuanya berpakaian muslim.

Setelah mencari informasi tentang sekolah Puput. Saya pun akhirnya mengetahui bahwa di lingkungan tempat sekolah Puput tersebut terdapat sebuah Masjid besar dan di Masjid tersebut sering dijadikan tempat kajian/ta’lim. Dan ternyata Ummi Puput sering mengikuti kajian di Masjid itu. Secara otomatis, lingkungan pergaulan Ummi Puput pun mulai berubah.

“Berkumpullah dengan orang-orang sholeh.” 

Mungkin nasehat itulah yang diaplikasikan oleh Ummi Puput. Dan karena itu juga, kini Ummi Puput beserta suami dan anak-anaknya terlihat sangat religius disbanding sebelumnya. Penampilan mereka pun tak luput dari nuansa islami yang sangat kental. Ummi Puput sudah berjilbab Syar’i. Ketika membeli sayur di depan rumah pun yang jaraknya lumayan dekat, Ummi Puput tetap berusaha Istiqomah menggunakan jilbabnya. MasyaAllah. Sunggu hidayah memang tak pernah terduga datangnya. Siapa yang sangka hidayah Ummi Puput datang dari anak sulungnya. Seandainya anak sulungnya itu dimasukkan di sekolah umum, mungkin semua perubahan di diri Ummi Puput tak akan seperti sekarang. Karena memang Lingkungan amat sangat berpengaruh.

Rasanya teduh sekali melihat keluarga kecil Ummi Puput. Bersamanya suami dan anak-anaknya, ia merengkuh keindahan hidayah dan cinta dari Allah SWT. Tak salah rasanya jika terselip doa dalam hati ini agar nantinya bisa dipertemukan dengan seseorang yang mau bersama-sama merengkuh cinta dari Allah SWT. Bersama berjuang agar hidup di dunia ini jadi tempat beramal dan beribadah untuk kemudian disatukan kembali di syurga-Nya. Aamiin Yaa Rabbal ‘alamiin.

*****

Kendari, 16 Februari 2016

 
Share:

0 komentar:

Posting Komentar