Kamis, 25 Februari 2016

My Note: Hiruk Pikuk Dunia Nyata dan Maya


Hiruk Pikuk Dunia Nyata dan Maya
Oleh: Nirwana Fitria


Sumber Gambar: Fanpage Meme Comic Islam


Kesibukkan duniawi terkadang membuat kita sebagai manusia menjadi lalai. Lalai dari kewajiban kita kepada Allah SWT. Lalai untuk mengingat kematian walau hanya sebentar. Kematian seolah terlihat jauh. Padahal kita tidak bisa menjamin apakah 5 detik kemudian kita masih bisa bernafas, masih bisa begerak, atau bahkan masih bernyawa atau tidak.

Di zaman sekarang, sepertinya bukan hanya kesibukkan di dunia nyata saja yang bisa melalaikan kita. Kesibukkan di dunia maya pun kini tak kalah hebat membuat kita makin lalai. Dunia maya memang menjanjikan kesenangan, hingga tanpa sadar membuat kita semakin lalai dari kewajiban sebagai hamba Allah.

Jika hidup ini hanya disibukkan oleh urusan di dunia nyata ditambah lagi urusan di dunia maya, Lantas Kapankah kita bersedia untuk sejenak meluangkan waktu guna mengingat kematian? Ah rasanya urusan kematian adalah nomor kesekian dalam “daftar urusan” kita.

Karena sifat lalai memang susah dipisahkan dari manusia, maka dari itu kita butuh nasehat. Di dunia nyata, orang-orang sekitar entah itu keluarga maupun sahabat diharapkan bisa menjadi pemberi nasehat tatkala kita sedang lalai. Sedangkan di dunia maya, mungkin kita bisa membaca postingan-postingan yang isinya selalu mengingatkan pada kebaikan dan tentu saja bisa membuat kita sejenak mengingat kematian. Mungkin itulah mengapa penting memilih-milih teman di dunia maya.

Beranda facebook saya dulunya selalu penuh sesak oleh postingan-postingan yang isinya tentang curahan isi hati yang tumpah ruah tanpa batas. Segala macam masalah yang seharusnya tidak diumbar di ruang public pun tak kalah banyak. Cerita tentang patah hati? Jangan ditanya, amat sangat banyak. Postingan yang isinya saling mencaci, menghina, menyudutkan dan bernuansa penuh kebencian setiap hari tanpa jeda muncul di beranda facebook saya. Hingga terkadang, perasaan saya pun nyaris ikut terkontaminasi dengan semua yang saya lihat itu. Padahal niat buka sosial media hanya untuk hiburan. Tapi bukan hiburan yang didapat, malah postingan berisi cacian dan hinaan. Astaghfirullah…

Tapi semuanya kini berubah, ketika akhirnya beranda saya menjadi bersih. Beranda yang tadinya isinya penuh dengan postingan bernuansa kebencian, sekarang sudah terganti menjadi postingan-postingan bernuansa kebaikan. Rasanya hati selalu disiram nasehat ketika membaca beberapa postingan yang muncul di beranda facebook saya.

Kita memang perlu nasehat, karena hiruk pikuk dunia nyata dan maya memang seringkali melalaikan. ‘Bukankah sudah Sunnatullah bagi setiap orang; iman itu pasang surut? Kadang bertambah dan kadang berkurang? Karenanya kita perlu pupukan, terutama ketika kondisi keimanan kita mengalami saat-saat kritis’ [1]


Tulisan yang saya buat ini pun bertujuan untuk mengingatkan diri saya sendiri. Agar tidak dilalaikan oleh hiruk pikuk dunia nyata dan maya. Karena kelalaian itu sendiri bisa membuat hati kita menjadi keras. Na’udzubillahi min dzalik!!

Para Ulama’ memberikan nasehat tentang cara menyembuhkan hati yang keras. Yaitu: Dengan membaca Al-Qur’an dan dzikrullah, Merendahkan diri & menangis di hadapan Allah, Menghadiri Majelis-majelis ilmu yang berisi mau’idhah dan dzikir, Dzikrul Maut (Mengingat Maut), Menyaksikan sakaratul maut, dan Ziarah Kubur. [2]

Bagaimana dengan diri kita? Sudahkah kita menyediakan waktu walau sebentar untuk Dzikrul Maut (Mengingat Maut/Kematian)? Ataukah harus menunggu hati menjadi keras dulu baru kemudian bersedia mengingat kematian? Atau mungkin kesibukkan dunia nyata dan maya telah membuat hati kita kian keras hingga melalaikan diri dari sebuah kepastian bernama “Kematian” ?

Kita enggan mengingat maut walau sesaat.
Bahkan berpaling kepada dunia dan bersendau-gurau serta bermain-main dengannya.
Seorang pemuda berusaha meraih cita, sementara jurang kematian telah menantinya.
Walau ia mengharap berhenti sekejap saja, derap kematian akan tetap menghampirinya.
Kita adalah calon mayat… Apa yang bisa kita perbuat?
Kita dihadapkan pada sesuatu yang tak bisa dihindari. [3]

Kendari, 25 Februari 2016

 *******

[1] Kutipan dari Buku “Malam Pertama di Alam Kubur”
[2] Kutipan dari Buku “Malam Pertama di Alam Kubur” Halaman 78-86
[3] Kutipan dari Buku “Malam Pertama di Alam Kubur” Halaman 136


Share:

0 komentar:

Posting Komentar