Hiruk Pikuk Dunia Nyata
dan Maya
Oleh: Nirwana Fitria
![]() |
| Sumber Gambar: Fanpage Meme Comic Islam |
Kesibukkan duniawi
terkadang membuat kita sebagai manusia menjadi lalai. Lalai dari kewajiban kita
kepada Allah SWT. Lalai untuk mengingat kematian walau hanya sebentar. Kematian
seolah terlihat jauh. Padahal kita tidak bisa menjamin apakah 5 detik kemudian
kita masih bisa bernafas, masih bisa begerak, atau bahkan masih bernyawa atau
tidak.
Di zaman sekarang,
sepertinya bukan hanya kesibukkan di dunia nyata saja yang bisa melalaikan
kita. Kesibukkan di dunia maya pun kini tak kalah hebat membuat kita makin
lalai. Dunia maya memang menjanjikan kesenangan, hingga tanpa sadar membuat
kita semakin lalai dari kewajiban sebagai hamba Allah.
Jika hidup ini hanya
disibukkan oleh urusan di dunia nyata ditambah lagi urusan di dunia maya,
Lantas Kapankah kita bersedia untuk sejenak meluangkan waktu guna mengingat
kematian? Ah rasanya urusan kematian adalah nomor kesekian dalam “daftar urusan” kita.
Karena sifat lalai memang
susah dipisahkan dari manusia, maka dari itu kita butuh nasehat. Di dunia
nyata, orang-orang sekitar entah itu keluarga maupun sahabat diharapkan bisa
menjadi pemberi nasehat tatkala kita sedang lalai. Sedangkan di dunia maya,
mungkin kita bisa membaca postingan-postingan yang isinya selalu mengingatkan
pada kebaikan dan tentu saja bisa membuat kita sejenak mengingat kematian.
Mungkin itulah mengapa penting memilih-milih teman di dunia maya.
Beranda facebook saya
dulunya selalu penuh sesak oleh postingan-postingan yang isinya tentang curahan
isi hati yang tumpah ruah tanpa batas. Segala macam masalah yang seharusnya
tidak diumbar di ruang public pun tak kalah banyak. Cerita tentang patah hati?
Jangan ditanya, amat sangat banyak. Postingan yang isinya saling mencaci,
menghina, menyudutkan dan bernuansa penuh kebencian setiap hari tanpa jeda
muncul di beranda facebook saya. Hingga terkadang, perasaan saya pun nyaris
ikut terkontaminasi dengan semua yang saya lihat itu. Padahal niat buka sosial
media hanya untuk hiburan. Tapi bukan hiburan yang didapat, malah postingan
berisi cacian dan hinaan. Astaghfirullah…
Tapi semuanya kini
berubah, ketika akhirnya beranda saya menjadi bersih. Beranda yang tadinya
isinya penuh dengan postingan bernuansa kebencian, sekarang sudah terganti
menjadi postingan-postingan bernuansa kebaikan. Rasanya hati selalu disiram
nasehat ketika membaca beberapa postingan yang muncul di beranda facebook saya.
Kita memang perlu nasehat,
karena hiruk pikuk dunia nyata dan maya memang seringkali melalaikan. ‘Bukankah sudah Sunnatullah bagi setiap
orang; iman itu pasang surut? Kadang bertambah dan kadang berkurang? Karenanya
kita perlu pupukan, terutama ketika kondisi keimanan kita mengalami saat-saat
kritis’ [1]
Tulisan yang saya buat ini
pun bertujuan untuk mengingatkan diri saya sendiri. Agar tidak dilalaikan oleh
hiruk pikuk dunia nyata dan maya. Karena kelalaian itu sendiri bisa membuat
hati kita menjadi keras. Na’udzubillahi min dzalik!!
Para
Ulama’ memberikan nasehat tentang cara menyembuhkan hati yang keras. Yaitu:
Dengan membaca Al-Qur’an dan dzikrullah, Merendahkan diri & menangis di
hadapan Allah, Menghadiri Majelis-majelis ilmu yang berisi mau’idhah dan
dzikir, Dzikrul Maut (Mengingat Maut), Menyaksikan sakaratul maut, dan Ziarah
Kubur. [2]
Bagaimana dengan diri
kita? Sudahkah kita menyediakan waktu walau sebentar untuk Dzikrul Maut
(Mengingat Maut/Kematian)? Ataukah harus menunggu hati menjadi keras dulu baru
kemudian bersedia mengingat kematian? Atau mungkin kesibukkan dunia nyata dan
maya telah membuat hati kita kian keras hingga melalaikan diri dari sebuah
kepastian bernama “Kematian” ?
Kita
enggan mengingat maut walau sesaat.
Bahkan
berpaling kepada dunia dan bersendau-gurau serta bermain-main dengannya.
Seorang
pemuda berusaha meraih cita, sementara jurang kematian telah menantinya.
Walau
ia mengharap berhenti sekejap saja, derap kematian akan tetap menghampirinya.
Kita
adalah calon mayat… Apa yang bisa kita perbuat?
Kita
dihadapkan pada sesuatu yang tak bisa dihindari.
[3]
Kendari, 25 Februari 2016
*******
[1] Kutipan dari Buku
“Malam Pertama di Alam Kubur”
[2] Kutipan dari Buku
“Malam Pertama di Alam Kubur” Halaman 78-86
[3] Kutipan dari Buku
“Malam Pertama di Alam Kubur” Halaman 136

0 komentar:
Posting Komentar