Judul Buku: Malam Pertama di Alam Kubur
Penulis:
Dr. A’idh Al-Qarni, M.A.
Dr. Muhammad bin Abdurrahman Al-Uraidi
Syaikh Muhammad Husain Ya;qub
ISBN : 979-3653-01-9
Penerbit : AQWAM -- Anggota SPI (Serikat Penerbit Islam) Solo
Editor /Penyelaras Kata : Bambang Sukirno
Desain cover : Pagar Pro
Cetakan : XXIX.
Febuari 2008 M/ Muharram 1429
Tebal : 136 halaman
Pertama kali baca buku itu kira-kira
waktu masih SD. Buku itu pemberiaan bapak. Waktu SD, mungkin buku itu belum
memberikan banyak pengaruh dalam hidup. Karena maklum lah anak SD yang
difikirkan masih tentang main, main dan main. Hehehe
Seiring berjalannya waktu, buku itu
masih tersimpan rapi dalam deretan buku koleksi saya. Ketika hati sedang galau,
sedih, kecewa dll saya biasanya mencari buku itu dan kemudian membaca kalimat
demi kalimat yang tertulis di dalamnya. Saya mendapatkan inspirasi setiap kali membaca
buku itu. Hati saya seperti disiram oleh nasehat meskipun bentuknya tulisan.
Penulis menyajikan tulisan dalam
bukunya menjadi menarik dan mengajak kita sebagai pembaca ikut terhanyut dalam
sebuah renungan yang begitu dalam. Mengajak hati dan fikiran untuk sejenak
istirahat dan merenungkan akan sebuah hal yang tidak diharapkan tapi pasti
terjadi, apakah itu? Yah, itulah kematian. Ia tidak meleset walau sedetik.
Namun demikian, tak seorang pun tahu, kapan hari “H”nya. Ia bisa datang
menyergap dengan tiba-tiba. Ia misteri. Karenanya,, setiap orang semestinya
selalu siap. Dan tentu saja, husnul khatimah harus menjadi pilihan. Untuk
mencapai itu, harus melalui jalan syari’at; dengan menjalankan segala perintah
dan menjauhi segala larangan Allah Ta’ala.
Takdir selalu mengintai di setiap negeri.
Takdir pula yang siap mengahancurkan setiap
hamba.
Kau pasti akan melihat nasib sebuah kaum yang kau
jumpai,
Sebagaimana yang menimpa kaum Tsamud dan ‘Ad.
Apakah kau ingat apa yang terjadi pada Bani
Asfar, ahli bagunan dan penakluk gunung?
Apakah kau ingat apa yang terjadi pada Bani
Sasan, yang menjadi benteng yang ganas dan hitam?
Di manakah Dawud dan Sulaiman, panglima
penghadang pasukan
Di manakah Namrudz dan anaknya… di manakah Qarun
dan Haman yang mempunyai banyak pasukan?
Semuanya tenggelam dalam pusaran takdir, dan tak
pernah muncul kembali.
Lupa, ataukah kamu pura-pura lupa terhadap takdir
kematian
Apakah kamu lupa terhadap hari perpisahan dengan
anak-anak?
Apakah kamu lupa terhadap kubur,
Yang akan menjadi tempat tinggalmu, ditemani
kehinaan, kengerian dan kesendirian?
Di hari apakah kamu akan dijemput ajal,
Ketika itu kamu dipanggil… dan kau tak mampu
menjawab panggilan
Di hari apakah perpisahan itu terjadi, saat
seluruh isi tubuhmu terguncang.
Di hari apakah perpisahan itu terjadi, saat
engkau menghadapi detik-detik kematian dengan susah payah.
Di hari apakah jeritan itu, ketika wajah yang
ceria dan indah, kini mengguguk.
Mereka menangisi mayatmu dan berduka cita. Dengan
hati dan jantung yang berdegup kencang.
Tangis yang nyaring silih berganti. Air mata
berlinang deras tiada henti.
Di hari apakah, saat kita diam berdiri di hadapan
Allah. Saat terjadi penghitungan amal dan persaksian.
Di hari apakah kita nanti akan meniti di atas
neraka. Dalam keguncangan yang hebat dan maha dahsyat.
Di hari apakah kita nanti akan terbebas dari
neraka, adzab dan belenggu.
Berapa… berapa banyak para raja yang kini
menghuni kubur.
Berapa… berapa banyak para penglima perang yang
kini terdiam di alam baka.
Berapa… berapa banyak ahli dunia terbujur di
liang lahat.
Dan berapa banyak mereka yang zuhud kini membisu
ditelan tanah.
Semuanya tenggelam dalam takdir kematian, tanpa
dapat lagi keluar darinya.
(tulisan ini ada di buku “Malam Pertama
di Alam Kubur” halaman 10-11)
Sebagai seorang remaja yang sedang
berproses menjadi dewasa, saya rasa kita perlu membaca buku ini. Bukan hanya
membaca tentang cinta-cintaan saja. Bukan tidak boleh, hanya saja persoalan
kematian memang seringkali terlupakan, padahal ia adalah hal yang pasti. Kita
memang perlu nasehat, karena hiruk-pikuk dunia kadang melalaikan. Bukankah,
sudah menjadi sunnatullah bagi setiap orang; Iman itu pasang surut? Kadang
bertambah dan kadang berkurang? Karenanya kita perlu pupukan, terutama ketika
kondisi keimanan kita mengalami saat-saat kritis.
“Setiap jiwa pasti akan merasakan
kematian. Dan kami timpakan fitnah bagimu berupa keburukan dan kebaikan. Kepada
Kami-lah kalian dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya: 35)
“Setiap orang mempunyai ajal. Ketika
datang ajal, tak dapat di akhirkan atau dimajukan.” (QS. Al-A’raf: 34)
Kita enggan mengingat maut walau sesaat.
Bahkan berpaling kepada dunia dan
bersendau-gurau serta bermain-main dengannya.
Seorang pemuda berusaha meraih cita, sementara
jurang kematian telah menantinya.
Walau ia mengharap berhenti sekejap saja,
derap kematian akan tetap menghampirinya.
Kita adalah calon mayat… apa yang bisa kita
perbuat?
Kita dihadapkan pada sesuatu yang tak bisa
dihindari.

0 komentar:
Posting Komentar