Salahkah
Jika Berbuat Baik?
Oleh: Nirwana Fitria
Oleh: Nirwana Fitria
“Berbuat
baik”
Apakah
ada yang salah dengan kata-kata itu?
Sepertinya
tidak ada yang salah.
Justru
kata-kata itu berkesan positif.
Dan
seperti manusia pada umumnya, saya pun berusaha menerapkan kata-kata itu dalam
kehidupan sehari-hari.
Awalnya
saya bahagia karena merasa bahwa saya telah berhasil “berbuat baik”
Karena
telah banyak berbuat kebaikan, meskipun mungkin kebaikan kecil.
Tapi,
seiring berjalannya waktu.
Saya
mendapati ada hal yang mengganjal di hati ini.
Saya
mencoba mencari tahu apa itu.
Hingga
suatu ketika saya menyadari 1 hal.
Bahwa
ada luka samar di dalam hati saya.
Luka
itu tidak begitu jelas penyebabnya.
Ketika
sebabnya saja tidak saya ketahui.
Lantas,
bagaimana caranya saya bisa menyembuhkan luka samar itu?
Saya
pun teringat dengan kalimat seseorang yang entah mengapa masih membekas
dalam ingatan saya.
“Jadi orang itu
jangan terlalu baik, sedang-sedang saja. Dan supaya seimbang harus ada jahatnya
juga.” Kurang lebih seperti itulah kalimat yang disampaikan oleh
seseorang dengan nada sedikit bercanda.
Awalnya
saya kurang paham dengan maksud kalimat tersebut.
Karena
saya berfikiran bahwa manusia memang harus berbuat baik, tidak masalah juga
kalau terlalu baik, dan tidak boleh berbuat jahat.
Lalu,
apa hubungannya berbuat baik, luka samar dan kalimat seseorang tersebut?
Akhirnya
saya mencoba menarik kesimpulan.
Mungkin
saya selama ini menerapkan konsep “berbuat baik” ke semua orang.
Sampai
lupa bahwa tidak semua orang bisa dan mau menghargai kebaikan itu.
Mungkin
juga karena keseringan menerapkan konsep “berbuat baik”, saya akhirnya jadi
terkesan “terlalu baik” lalu dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak tahu
caranya menghargai.
Kesimpulan
itu berdasarkan logika saya.
Tapi,
kemudian hati saya juga menarik kesimpulan sendiri.
Bukankah
ketika niat saya berbuat baik itu semata-mata karena Allah.
Maka
seharusnya tidak perlu ada luka samar dalam hati saya.
Kalau
akhirnya tidak ada satu orang pun yang menghargai kebaikan saya.
Bukankah
Allah sudah melihat semuanya?
Saya
sebenarnya sudah menemukan jawaban.
Hanya
saja terkadang bahkan mungkin seringkali, logika saya mendominasi hati saya.
Dan
saya pun termenung lantas bersyukur.
“Alhamdulillah.
Sekeras apapun logika saya mencari kesimpulan, ternyata hati saya masih
bersedia ikut melengkapi kesimpulan itu. Karena salah satu hal yang saya
takutkan adalah ketika hati sudah tidak lagi digunakan atau ikut serta dalam
menyimpulkan sesuatu, maka pasti akan sulit menemukan ketenangan di tengah
kebingungan merenungi berbagai hal dalam hidup, salah satunya tentang berbuat
baik.”
Dan saya juga percaya akan janji Allah yang tertulis indah dalam kitab suci Al-Qur’an. Bahkan banyak ayat yang didalamnya tertulis jelas bahwa tidak ada kebaikan yang sia-sia. Seperti dalam Surah Hud ayat 115:
Artinya: “Dan bersabarlah, karena
sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat kebaikan.”
******
Kendari, 8
November 2015
*Postingan
Kedua saya di grup KBM setelah postingan pertama di Event #RA
0 komentar:
Posting Komentar