Kamis, 12 November 2015

My Note: Sebuah Renungan "Setega itukah kita?"

Setega Itukah kita?
Oleh: Nirwana Fitria


Assalamualaikum Wr.Wb 

Keluarga adalah bagian penting dalam hidup kita. Karena kita tumbuh dan besar di lingkungan keluarga. Keluarga inti terdiri dari ayah, ibu dan anak-anaknya. Sedangkan keluarga besar adalah kumpulan dari beberapa keluarga inti, yaitu kakek, nenek, saudara2 dari ayah beserta suami/istri dan anak-anaknya, dan juga saudara2 dari ibu.

Dalam keluarga besar tentu saja akan ada beraneka ragam keluarga inti, ada yang memang sangat cukup dari segi ekonomi bahkan segalanya. Tapi ada juga yang bahkan jauh dari kata cukup. Dan inilah pokok dari pembahasan yang akan saya ceritakan dalam tulisan saya kali ini.


Ketika keadaan ekonomi sebuah keluarga inti mencukupi, tentu saja mereka akan tampil lebih menonjol saat seluruh keluarga besar berkumpul. Dan di sinilah sering terjadi Diskriminasi, pengkotak-kotakan, sekat dan bahkan saya fikir sistem kasta yang agak tersamar. Mengapa saya bisa bilang seperti itu? Inilah alasan saya, saya akan menjabarkannya dalam bentuk cerita yang memang real atau asli terjadi.

Di keluarga bapak saya, dari dulu sering mengadakan arisan keluarga. Di mana anggota keluarga berkumpul saling bersilahturahmi. Dan setiap yang memperoleh arisan atau istilahnya dapat lot pada saat arisan diadakan, maka rumahnya akan jadi tempat arisan berikutnya. Dan begitu seterusnya. Waktu saya masih kecil, saya sering diajak nenek pergi ke arisan keluarga. Dan mungkin karena memang masih kecil, jadi yang ada di fikiran saya ketika ada acara arisan adalah saya bisa berkumpul bersama sepupu-sepupu yang jarang saya temui dan tentu saja bisa makan kue. Hehehe

Seiring berjalannya waktu, arisan keluarga mulai jarang dan bahkan sudah tidak pernah lagi diadakan. Saya pun kurang tahu apa alasannya. Tapi tahun ini, setelah sekian lama tidak di adakan, akhirnya arisan keluarga itu dibentuk kembali. Kali ini mama saya yang menceritakan pada saya. Saya pun setuju-setuju saja. Lagipula sudah lama tidak bersilahturahmi antar keluarga.

Suatu hari ketika pulang dari arisan keluarga, malamnya mama saya menceritakan sesuatu yang cukup menampar hati saya. Mama bilang, ada salah satu keluarga lebih tepatnya saya sebut saja dia tante X, saya rasa saya tidak perlu sebutkan namanya untuk menjaga privasinya.  Tante X ini kebetulan sedang mengalami suatu cobaan yang bagi saya pasti sangat berat untuk dilaluinya. Kehidupan rumah tangganya sedang mengalami cobaan hebat dan tentu saja ini juga mempengaruhi keadaan ekonominya. Dan ketika tante X ini datang ke arisan, keluarga yang lain seperti tidak menganggap bahwa tante X ini juga ikut (diabaikan) hingga dia pun pergi duduk sendiri di sudut ruangan. Dan mama saya yang menyaksikan hal tersebut langsung saja pergi menghampirinya dan mengajaknya berbicara. Mungkin hal itu biasa saja bagi sebagian orang. Tapi bagi saya hal ini cukup menampar dan membuat hati saya sesak. Bagaimana tidak, ketika seseorang sedang tertimpa masalah, apakah pantas jika kita mengabaikannya apalagi terkesan seperti merendahkannya? Dan ironisnya lagi, yang melakukan itu semua bukan orang lain, melainkan keluarga sendiri. Setega Itukah kita? Astaghfirullahaladzim -_-

Mama saya memang orang yang cerewet bahkan bisa dibilang galak. Hehehe. Tapi saya yakin mama saya tidak akan tega memperlakukan seseorang seperti itu. Saya pun mungkin akan melakukan hal yang sama seperti mama. Malahan saya tidak tega jika melihat ada seseorang apalagi ia masih bagian dari keluarga yang diremehkan hanya karena kehidupannya sedang tidak baik. Salah satu alasannya mungkin karena saya tahu betapa sakitnya diperlakukan seperti itu. Jadi saya sangat peka jika ada yang mengalami hal seperti itu. Dan dari cerita mama itu, kepala saya jadi penuh dengan berbagai pertanyaan:

Apakah di zaman yang serba canggih ini Hati Nurani sudah tidak dipakai lagi?
Apakah kecanggihan mampu mengikis rasa empati pada orang lain?
Apakah hiruk-pikuk dunia ini begitu kejam sampai membuat hati orang-orang menjadi kejam?

Saya mungkin bukanlah manusia yang sepenuhnya baik, tapi saya berusaha untuk tidak meninggalkan prinsip-prinsip hidup yang saya dapatkan dari proses hidup saya. Salah satunya adalah empati, rasa peka dan hati nurani. Saya tidak ingin kehilangan hal-hal penting seperti itu. Karena di zaman sekarang ini, hal-hal yang saya anggap penting dan bahkan masih saya pertahankan sebagai prinsip hidup, justru merupakan hal yang mudah saja dibuang oleh orang-orang yang tidak lagi menggunakan hati nuraninya.

Ya Allah… Salahkah jika diri ini mempertanyakan  ini?
Ini sangat menyesakkan hati saya..
Saya sangat terpukul melihat begitu mudahnya manusia saling meremehkan antara satu dengan yang lain
Apakah mereka lupa bahwa semua manusia itu sama.
Apakah mereka lupa bahwa tidak ada jaminan mereka yang meremehkan akan menjadi lebih tinggi di hadapan-Mu ya Rabb..
Apakah mereka sudah terlalu terbuai dengan keindahan dunia ini?
Salahkah jika saya menangis dan marah dengan apa yang saya saksikan di sekitar saya?
Ketika banyak sekali diskriminasi, pengkotak-kotakkan, sekat antara yang mampu dan yang belum mampu?
Apakah ini yang disebut sistem kasta?
Apakah setega itu manusia yang harusnya sadar bahwa kita ini lemah, lemah di hadapan Allah yang Maha Segala-galanya.
Ahh.. lelah rasanya menyimpulkan sendiri.
Tapi hati saya percaya bahwa Engkau senantiasa menyaksikan segalanya ya Allah.
Bukankah ketika daun yang gugur tak luput dari penglihatan-Mu
Apalagi perbuatan manusia yang memang adalah makhluk yang harusnya selalu bisa mengingat-Mu dan percaya bahwa Engkau akan melihat segalanya, yang tersembunyi maupun yang terlihat.

---- Kendari, 11 November 2015 -----

Share:

0 komentar:

Posting Komentar