![]() |
| Foto Nirwana Fitria |
Assalamualaikum Wr.Wb
Saya sebenarnya bingung mau menulis apa. Tapi tiba-tiba
terbersit dalam fikiran tentang apa arti kebahagiaan hidup. Karena jujur saja,
saya pun seringkali membandingkan hidup saya dengan orang lain. Saya sering
merasa bahwa hidup orang lain itu lebih indah, lebih baik, lebih bahagia.
Hingga saya pun jadi berfikir, apakah tolak ukur kebahagiaan itu hanya karena
kita hidup dengan segala hal "sempurna" menurut standar manusia?
Apakah ketika kita tidak memiliki daftar hal-hal sempurna itu dalam hidup kita,
lantas kita bisa disebut orang yang tidak bahagia?
Jika difikir-fikir, sebenarnya hidup ini sama saja. Kita
sama-sama manusia. Kalau pun ada yang status sosialnya lebih tinggi, toh pada
dasarnya yang status sosialnya lebih rendah pun tetap sama. Intinya yah tetap
sama-sama manusia. Yang membedakan adalah sejauh mana nilai dan derajat kita di
mata Allah, bukan di mata manusia. Karena standar manusia itu bisa dibilang
tidak adil. Hanya berdasarkan penilaian pribadi yang seringkali menyesatkan.
Mengapa saya bilang penilaian manusia itu menyesatkan? Karena sering sekali
manusia hanya menilai seseorang atau sesuatu berdasarkan kulit luarnya saja
atau sebatas apa yang muncul di permukaan saja.
Contohnya:
Ketika melihat cewek yang terlihat sempurna karena putih,
tinggi, berpenampilan modis, pasti langsung memberi kesan bahwa cewek itu
"cantik dan menarik" di mata para cowokk. Sedangkan cewek yang
biasa-biasa saja penampilannya, pasti kesannya tidak akan sama dengan cewek
yang sempurna itu. Padahal jika mau difikirkan, sebenarnya belum tentu cewek
yang terlihat sempurna itu lebih baik daripada cewek yang biasa-biasa saja.
Karena standar yang ditetapkan manusia sudah mematok pada kesempurnaan seorang
cewek itu harus ada embel-embel putih, tinggi, berpenampilan modis,
makanya penilaian bisa jadi tidak adil dan menyesatkan.
Apakah bisa dijamin bahwa Akhlak dan Kepribadian cewek yang
terlihat sempurna itu lebih bagus daripada cewek yang biasa-biasa saja?
Jawabannya Pasti tidak. Jadi untuk apa terlalu membeda-bedakan. Toh pada
dasarnya cewek yang terlihat sempurna dengan yang biasa-biasa saja itu
sama-sama manusia.
Dan berikut adalah salah satu contoh kisah inspiratif yang
mungkin bisa membantu kita membuka fikiran bahwa pada dasarnya hidup itu sama
saja. Tinggal kita saja sebagai manusia, mau menikmati hidup tanpa perlu
direpotkan dengan embel-embel "sempurna" berdasarkan penilaian
manusia atau tidak.
--- Sekedar coretan hati tentang kehidupan, Oleh Nirwana
Fitria
Dan kisah di bawah ini mungkin bisa
jadi bahan renungan untuk diri kita masing-masing. Dan kisah ini di bawah ini
sumbernya dari:
Beberapa orang
alumni sebuah Universitas yang telah mapan dalam karir dan kehidupannya
berkumpul dalam suatu reuni. Mereka memutuskan untuk mengunjungi salah satu
dosen “tua” yang pernah menjadi pengajarnya.
Percakapan yang terjadi begitu seru dan menyenangkan sampai kemudian berlanjut pada masalah tekanan dalam pekerjaan mereka dan hidup mereka.
Agar tidak larut dalam stress, sang dosen bermaksud menawari bekas mahasiswanya tersebut untuk minum kopi. Sang dosen pun pergi ke belakang dan membawa kembali seteko besar kopi dengan banyak cangkir. Cangkir dan gelas yang dibawa sang dosen tersebut mulai dari cangkir porselen, plastik, gelas dari yang paling murah sampai peralatan minum yang paling mahal. Sang dosen pun mempersilahkan mantan mahasiswanya untuk mengambil sendiri kopi yang ingin diminumnya.
Percakapan yang terjadi begitu seru dan menyenangkan sampai kemudian berlanjut pada masalah tekanan dalam pekerjaan mereka dan hidup mereka.
Agar tidak larut dalam stress, sang dosen bermaksud menawari bekas mahasiswanya tersebut untuk minum kopi. Sang dosen pun pergi ke belakang dan membawa kembali seteko besar kopi dengan banyak cangkir. Cangkir dan gelas yang dibawa sang dosen tersebut mulai dari cangkir porselen, plastik, gelas dari yang paling murah sampai peralatan minum yang paling mahal. Sang dosen pun mempersilahkan mantan mahasiswanya untuk mengambil sendiri kopi yang ingin diminumnya.
Setelah semua
memegang kopinya masing masing, sang dosen berkata, “Saya lihat Anda semua
mengambil gelas-gelas terbaik bahkan gelas dan cangkir termahal serta
meninggalkan gelas dan cangkir yang biasa dan murah. Normal bagi kalian, karena
memang kalian hanya menginginkan yang terbaik untuk kalian dan keluarga kalian.
Padahal yang kalian akan minum adalah kopi, bukan cangkir atau gelasnya. Tapi
dengan sadar atau tidak kalian lebih memilih gelas atau cangkir yang lebih
baik, bahkan tampak dari masing-masing kalian saling melihat cangkir
teman-teman kalian.”
“Sekarang akan saya jelaskan, Hidup adalah kopi, dan pekerjaan, uang serta posisi dalam masyarakat adalah gelas. Mereka hanyalah alat untuk membawa dan mewadahi hidup, sementara hidup sendiri tidak berubah,” jelas sang dosen. “Terkadang dengan hanya berkonsentrasi pada cangkir atau gelas, kita gagal menikmati kopi di dalamnya.”
“Janganlah gelas atau cangkir mempengaruhi Anda… nikmati saja kopinya.”
“Sekarang akan saya jelaskan, Hidup adalah kopi, dan pekerjaan, uang serta posisi dalam masyarakat adalah gelas. Mereka hanyalah alat untuk membawa dan mewadahi hidup, sementara hidup sendiri tidak berubah,” jelas sang dosen. “Terkadang dengan hanya berkonsentrasi pada cangkir atau gelas, kita gagal menikmati kopi di dalamnya.”
“Janganlah gelas atau cangkir mempengaruhi Anda… nikmati saja kopinya.”

0 komentar:
Posting Komentar